#KulRam (13)

Kuliah Ramadhan: Saat Safar Lebih Baik Berpuasa atau Tidak?

gomuslim.co.id - Para ulama sepakat bahwa seorang yang sedang dalam perjalanan (musafir), dibolehkan untuk tidak berpuasa. Keringanan ini didasarkan kepada dalil berikut:

فَمَنْ كاَنَ مِنْكُمْ مَرِيْضاً أَوْ عَلىَ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

Dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya di hari lain (QS Al-Baqarah: 85)

 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  ﷺ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ الْكَدِيدَ أَفْطَرَ فَأَفْطَرَ النَّاسُ

Dari Ibnu 'Abbas radliallahuanhuma bahwa Rasulullah SAW pergi menuju Makkah dalam bulan Ramadhan dan Beliau berpuasa. Ketika sampai di daerah Kadid, Beliau berbuka yang kemudian orang-orang turut pula berbuka. (HR. Bukhari)

 

Namun, pertanyaannya kemudian manakah yang  lebih utama dilakukan ketika dalam keadaan safar, meneruskan berpuasa  ataukah berbuka? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Untuk menambah khazanah keilmuan kita, berikut pemaparannya disertai dengan argumen masing-masing:

1.  Pendapat Pertama

Jumhur ulama (Hanafi, Maliki, dan Syafi’i) berpendapat bahwa lebih baik tetap terus berpuasa, meskipun seseorang mendapat keringanan ketika dalam perjalanan.[1]

Dasarnya karena bila seseorang tetap berpuasa, maka dia terbebas dari beban untuk membayar hutang puasa di hari lain. Dan tidak punya hutang menjadi lebih utama dalam kasus seperti ini.

Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa berpuasa ketika safar lebih dicintai dari pada berbuka, karena tabri’ah adz-dzimmah (تَبْرِئَة الذِمّة). Maksudnya karena seseorang jadi bebas dari beban dan tanggungan. Namun bila seseorang tetap berpuasa ketika safar malah mengakibatkan dharar, yang utama adalah berbuka.[2]

Selain dalil tersebut, mereka juga mendasarkan pandangan pada hadits berikut ini :

خَرَجْنَا مَعَ رَسُول اللَّهِ ﷺ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ مَا فِينَا صَائِمٌ إِلاَّ رَسُول اللَّهِ ﷺ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ

Kami pernah bepergian bersama Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan, di saat musim yang sangat panas. Tidak ada seorang pun yang berpuasa di antara kami, kecuali Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

2.  Pendapat Kedua

Mazhab Hanbali berpendapat bahwa yang lebih utama dalam hal ini adalah berbuka puasa. Imam al-Khiraqi, salah satu tokoh ulama di dalam mazhab ini, menyebutkan bahwa berbuka itu hukumnya mustahab (lebih dicintai).

Bahkan kalau tetap berpuasa di dalam safar, dalam pandangan mereka, justru hukumnya makruh, meskipun safar itu tidak menimbulkan masyaqqah (keberatan).

Pendapat yang mereka pegang itu didasarkan pada beberapa hadits, antara lain:

لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

“Bukan termasuk kebaikan yaitu orang yang berpuasa dalam safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَلَيْكُمْ بِرُخْصَةِ اللَّهِ الَّذِي رَخَّصَ لَكُمْ فَاقْبَلُوهَا

“Hendaklah kalian mengambil rukhshah (keringanan) yang telah Allah SWT berikan. Terimalah keringanan itu.” (HR. Muslim)

 

3.  Pendapat Ketiga

Sebagian ulama lain tidak membedakan antara keduanya. Intinya, kalau mau berbuka, itu utama. Namun kalau tetap berpuasa, hal itu juga utama.

Pendapat ini pada hakikatnya menunjukkan netralitas, tidak cenderung kepada salah satu pendapat di atas. Artinya, silahkan dipilih suka-suka, berbuka atau meneruskan puasa. Dasar pendapat mereka adalah bahwa hadits-hadits di atas semuanya shahih, sehingga tidak boleh saling menafikan atau saling meniadakan. Sebaliknya, justru semua hadits itu harus kita pakai.

Selain itu, juga ada hadits yang netral, tidak memihak sama sekali, dan termasuk juga hadits yang shahih.

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الأْسْلَمِيَّ t عَنْهُ قَال لِلنَّبِيِّ ﷺ أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ ؟ - وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ - فَقَال : إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ

Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Hamzah bin Amru Al-Aslami bertanya kepada Nabi SAW, ”Apakah Aku harus berpuasa ketika safar?”. Beliau adalah orang yang sering berpuasa. Maka Rasululah SAW menjawab, ”Kalau kamu mau, berpuasalah. Dan kalau kamu mau, berbukalah.” (HR. Bukhari)

 

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 

 



[1] Hasyiyatu Al-Qalyubi ‘ala Syarah Al-Mahali ‘ala Al-Minhaj, jilid 2, hal. 64

[2] Al-Wajiz, jilid 1, hal. 103.

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top