#KulRam (14)

Kuliah Ramadhan: Apa yang Dilakukan Nabi di Bulan Ramadhan?

gomuslim.co.id - Nabi Muhammad ﷺ dalam catatan sejarah pernah melewati sembilan kali bulan Ramadhan. Mengingat pertama kali puasa Ramadhan diwajibkan adalah pada tahun kedua hijriah, sedangkan Nabi wafat di tahun kesebelas hijriyah.

Selama sembilan tahun Nabi berpuasa Ramadhan, kita mendapatkan petunjuk dan teladan dari hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi terkait dengan apa yang sebaiknya dilakukan di bulan Ramadhan.           

Menjelang masuknya bulan Ramadhan, beliau selalu menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita dan selalu mendorong para sahabatnya untuk menggunakan kesempatan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

 

Beliau pernah bersabda di hadapan para sahabatnya:

إِنَّ هذا الشهرَ قدْ حضَرَكُمْ، وَفيهِ ليلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شهْرٍ، مَنْ حُرِمَها فَقَدْ حُرِمَ الخيرَ كُلَّهُ، ولَا يُحْرَمُ خيرَها إلَّا محرومٌ

“Bulan Ramadhan kini sudah tiba dihadapan kalian. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang melewatkannya, maka telah melewatkan seluruh kebaikannya. Dan tidaklah seseorang melewatkan kebaikannya, keculai telah merugi.”

 

Ketika memasuki bulan Ramadhan Nabi mengajarkan kita untuk memperbanyak amal kebaikan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1.    Memperbanyak Sedekah dan Membaca Al-Quran

Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang dermawan. Lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan. Infaq dan sedekahnya lebih diperbanyak dibanding dengan bulan-bulan lainnya.

Begitupun membaca al-Quran. Di bulan Ramadhan Nabi lebih memperbanyak membaca al-Quran, bahkan Nabi tidak sendirian, tapi selalu ditemani oleh malaikat Jibril. Mereka berdua saling menyetorkan bacaan al-Quran silih berganti di setiap malam bulan Ramadhan. Hal ini seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas sebagai berikut:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur'an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin.” (H.R. Bukhari)

 

2.    Menyegerakan Berbuka dan Mengakhirkan Sahur

Nabi menganjurkan untuk menyegerakan berbuka. Sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:

لا يَزَالُ النَّاسُ بخَيْرٍ ما عَجَّلُوا الفِطْرَ

“Orang-orang senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

 

Nabi juga diriwayatkan selalu berbuka dengan beberapa buah ruthab (kurma segar), jika tidak ada, Nabi berbuka dengan tamr (kurma kering) jika tidak ada, maka Nabi cukup minum beberapa teguk air.

Adapun sahur, Nabi menganjurkan untuk diakhirkan mendekati waktu subuh. Dalam satu riwayat disebutkan jarak antara selesainya makan sahur Nabi dengan adzan subuh adalah sekitar lamanya membaca 50 ayat al-Quran. Yaitu kira-kira sekitar sepuluh menit.

3.  I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Nabi juga selalu melakukan I’tikaf di masjid Nabawi di setiap sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dan itu terus menerus dilakukan sampai beliau meninggal dunia.

Dengan beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, diharapkan Nabi mendapatkan keutamaan malam lailatul qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan.

4.  Shalat tarawih

Nabi juga melakukan shalat tarawih di bulan Ramadhan. Hanya saja yang menarik adalah Nabi hanya melakukan shalat tarawih berjamaah di masjid Nabawi hanya tiga malam saja. Setelah itu Nabi tidak lagi melaksanakannya berjamaah dengan para sahabat.

Dalam suatu riwayat dari Aisyah r.a. suatu malam di bulan Ramadhan Nabi melaksanakan shalat tarawih di masjid Nabawi. Para sahabat yang melihat ikut shalat di belakang Nabi. Keesokan harinya hal itu menjadi perbincangan di tengah para sahabat. Sehingga akhirnya di malam kedua, sahabat yang ikut shalat tarawih di belakang Nabi semakin banyak jumlahnya. Di malam ketiga, jamaah shalat tarawih semakin membludak. Hingga akhirnya di malam keempat Nabi tidak lagi melaksanakan shalat tarawih di masjid.

Nabi akhirnya menjelaskan kepada para sahabat alasannya tidak melanjutkan shalat tarawih di malam keempat. Nabi mengatakan, “Aku khawatir shalat tarawih diwajibkan atas kalian.” Nabi tidak mau memberatkan umatnya di mana ketika shalat tarawih dilaksanakan setiap malam, kemudian dianggap sebagai sebuah kewajiban.

Namun sekarang banyak orang yang salah kaprah. Atas nama ikut sunnah Nabi, shalat tarawihnya hanya tiaga malam saja. Sisanya, tarawihnya pindah ke mall dan tempat-tempat hiburan.

Ini namanya bukan ikut sunnah Nabi tapi ikut hawa nafsu, sebab Nabi hanya shalat tarawih tiga malam alasannya adalah supaya Allah tidak mewajibkan shalat tarawih kepada umat Islam. Sebab ketika Nabi masih hidup syariat Islam belum final, masih mengalami perubahan dan penambahan.

Sekarang, tentu alasan ini sudah tidak bisa dipakai lagi. Sebab sepeninggal Nabi, Jibril tidak lagi menurunkan wahyu, sehingga tidak mungkin shalat tarawih tiba-tiba menjadi wajib. Oleh karenanya, di zaman Umar bin Khattab shalat tarawih dihidupkan kembali di setiap malam bulan Ramadhan dan dilakukan secara berjamaah di masjid. Kemudian hal itu turun-temurun dilakukan oleh umat Islam sampai sekarang.

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top