#KulRam (16)

Kuliah Ramadhan: Ini Tips Tak Tinggalkan Shalat Saat Mudik

gomuslim.co.id - Menjelang penghujung bulan Ramadhan, umat Islam di Indonesia khususnya yang tinggal di perantauan biasanya akan melakukan ritual tahunan yaitu mudik lebaran. Salah satu yang harus diperhatikan ketika mudik, selain keselamatan berkendara adalah menjaga ibadah paling utama yaitu shalat lima waktu. Macet-macetan saat mudik tidak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan shalat.

Pertama-tama yang harus diketahui adalah bahwa shalat fardhu pada dasarnya harus dilakukan dengan sempurna rukun dan syaratnya. Seperti berwudhu, menghadap kiblat, berdiri, rukuk, sujud dan lain-lain. Dan hal itu tetap berlaku meskipun seseorang shalat di kendaraan.

Dengan beratnya syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang akan melakukan shalat fardhu di atas kendaraannya, maka harus ada skala prioritas dalam mengerjakannya.

1. Hindari Dengan Shalat Sebelum Naik Kendaraan

Yang paling utama kita lakukan agar terhindar dari beratnya shalat di atas kendaraan adalah kita wajib mengupayakan agar shalat terlebih dahulu sebelum kita naik kendaraan. Cara ini adalah cara paling aman dan lebih utama, karena afdhalnya shalat itu dikerjakan sejak awal waktu. Dan cara ini juga membuat kita terlepas dari ikhtilaf atau perbedaan pendapat.

Misalnya orang yang mau memulai perjalanannya di sore hari. Buat mereka, akan jauh lebih baik untuk menunda kepulangan barang lima atau sepuluh menit untuk menunggu masuknya waktu Maghrib. Maksudnya agar dirinnya sempat menjalankan shalat itu terlebih dahulu. Cara itu jauh lebih baik ketimbang langsung terburu-buru berangkat demi mengejar waktu, padahal akan ada problem shalat Maghrib yang boleh jadi tidak kebagian waktunya.

 

2. Boleh Menunda Shalat

Apabila cara pertama sulit untuk dikerjakan karena satu dan lain hal, maka cara kedua boleh juga dilakukan, meski keutamaannya berkurang. Cara kedua ini adalah kita naik kendaraan terlebih dahulu sambil memperhitungkan dengan cermat bahwa kita masih kebagian waktu untuk mengerjakan shalat setibanya kendaraan nanti.

Selama waktu shalat masih ada, mengakhirkan shalat hingga ke bagian akhir dari waktunya oleh para ulama disepakati kebolehannya. Dan bahwa shalat masih dibenarkan untuk dikerjakan.

Karena prinsipnya agama Islam diturunkan sebagai bentuk keringanan, dan bukan sebagai agama yang menghukum manusia. Sehingga Allah SWT memberikan kelonggaran buat manusia untuk mengerjakan shalat, bukan pada waktu yang sempit dan terbatas, namun diberikan keluasan untuk mengerjakan shalat fardhu di dalam rentang waktu yang lebar.

 

Rasulullah SAW bersabda :

أَوَّلُ الوَقْتِ رِضْوَانُ اللهِ وَوَسَطُهُ رَحْمَةُ اللَّهِ وَآخِرُهُ عَفْوُ اللهِ

Shalat di awal waktu akan mendapat keridhaan dari Allah. Shalat di tengah waktu mendapat rahmat dari Allah. Dan shalat di akhir waktu akan mendapatkan maaf dari Allah. (HR. Ad-Daruquthuni)

 

Namun perlu diingat bahwa meski diperbolehkan, cara ini jelas punya resiko, khususnya kalau kita tinggal di Indonesia yang tidak pernah bisa diprediksi kemacetan atau keterlambatannya.

Misalnya seorang pekerja di Jakarta yang sore hari mau pulang ke rumahnya di Depok. Asalkan dia bisa memastikan lewat pengalaman sehari-hari bahwa dia masih bisa mengerjakan shalat Maghrib di stasiun kereta api tujuan, maka hal itu dibolehkan.

Kalau kereta api diperkirakan tiba pukul 18:45 sedangkan waktu Maghrib akan habis pukul 19:00, tentu masih ada sisa sedikit waktu untuk mengerjakan shalat Maghrib, meski dengan resiko tinggi. Dan seandainya kereta mengalami keterlambatan, maka barulah saat itu, mau tidak mau, shalat harus dikerjakan di atas kereta.

3. Turun Dari Kendaraan

Ketika prediksi kita tidak akurat, maka seandainya kita masih bisa turun dari kendaraan dan melakukan shalat dengan benar, hal itu wajib kita lakukan.

Misalnya ketika waktu Maghrib hampir habis, sementara seseorang terjebak di tengah lautan kemacetan lalu-lintas yang tidak ada habisnya. Ada dua pilihan saat itu, apakah kita tetap akan bertahan di dalam kendaraan sambil menikmati kemacetan tetapi kehilangan kesempatan untuk mengerjakan shalat Maghrib, ataukah kita turun dari kendaraan dan segera melaksanakan kewajiban kita?

Tentu dalam hal ini yang wajib kita lakukan adalah pilihan kedua, yaitu segera turun dari kendaraan dan segera shalat. Pendeknya, selama kita masih bisa turun dari kendaraan, maka hal itu lebih utama untuk dikerjakan.

4. Menggunakan Fasilitas Jamak dan Qashar

Biasanya perjalanan mudik menempuh jarak yang jauh, antar provinsi bahkan antar pulau. Maka, jika sudah melewati jarak minimalnya (89 km) kita boleh menjamak sekaligus mengqashar shalat yang kita laksanakan selama perjalanan. Baik dengan jamak taqdim ataupun jamak ta’khir.

Hal ini tentu akan mempermudah kita dalam perjalanan, sehingga tidak perlu sering-sering berhenti untuk mengerjakan shalat apalagi jika kondisi lalu-lintas macet parah di mana kita sulit mencari tempat pemberhentian.

5. Tetap Shalat di atas Kendaraan

Bila turun dari kendaraan sama sekali mustahil untuk dilakukan, barulah pada kondisi ini, kita dibenarkan untuk mengerjakan shalat di atas kendaraan.

Memang ada jenis kendaraan tertentu yang nyaris mustahil bagi kita untuk turun sembarangan, misalnya kereta api, kapal laut atau pesawat udara. Kalau turun dari kendaraan tidak dimungkinkan, barulah kita shalat di atas kendaraan, tentu dengan tetap mengerjakan semua syarat dan rukunnya.

Tapi, jika ada syarat atau rukun yang tidak bisa terpenuhi, seperti tidak bisa berdiri atau menghadap kiblat, maka shalatlah sebisanya, lalu setelah sampai tujuan kita ulangi shalat yang kita laksanakan di kendaraan yang tidak sempurna syarat rukunnya tadi. Shalat di kendaraan dengan kondisi tidak sempurna ini dalam mazhab syafi’i dikenal dengan sebutan shalat li hurmatil waqti (shalat untuk menghormati waktu).

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top