#KulRam (19)

Kuliah Ramadhan: Haruskah Niat Puasa Diucapkan?
 
 

Fiqih Niat Puasa #3

gomuslim.co.id - Melafazkan niat adalah ucapan lafadz atau kalimat yang sering dilantunkan orang ketika akan berpuasa. Biasanya dirangkai dengan doa-doa atau dzikir yang dibaca di malam hari setelah usai mengerjakan shalat tarawih. Misalnya seperti lafadz berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالىَ

“Aku berniat puasa untuk esok hari dalam rangka menunaikan kewajiban puasa Ramadhan pada tahun ini karena Allah Ta’ala.”

 

Para ulama sepakat mengatakan bila seseorang sekedar melafadzkan niat seperti di atas, maka hukumnya belum sampai kepada niat itu sendiri. Sebab lafadz itu tempatnya hanya di lidah saja, padahal yang namanya niat itu adanya di dalam hati.[1]

Maka orang yang melafadzkan niat tetapi tidak masuk ke dalam hati, dianggap belum sah dalam berniat. Sebaliknya, orang yang berniat di dalam hatinya, yaitu menyengaja untuk melakukan puasa, meski pun lidahnya tidak mengucapkan apapun, niatnya sudah terlaksana.

Sedangkan, hukum melafadzkan niat itu sendiri menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

1. Sunnah

Sebagian mengatakan bahwa lafadz itu berfungsi untuk menguatkan niat dan hukumnya disunnahkan. Ini menurut Madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah dan sebagian dari Madzhab Al-Hanafiyah. [2]

Salah satu alasan mengapa hal itu disunnahkan adalah untuk menghilangkan keraguan dalam masalah niat. Sebab dalam kasus tertentu, ada orang yang merasa ragu apakah dirinya sudah memasang niat di dalam hati atau belum.

2. Makruh

Namun sebagian ulama di kalangan Madzhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah memakruhkan bacaan atau lafadz niat dalam sebuah ibadah, karena tidak ada dasar dalilnya dari Rasulullah SAW. [3]

Sayangnya pemahaman tentang melafadzkan niat kadang mengalami distorsi, sehingga di tengah masyarakat menjadi bahan perdebatan tersendiri, karena ekstrimitas masing-masing kubu.

Kubu pertama adalah kubu yang sangat menekankan pelafadzan niat, sehingga seolah-olah puasa menjadi tidak sah bila niatnya tidak dilafadzkan, bahkan harus dengan suara keras, kalau perlu pakai pengeras suara di dalam masjid.

Korbannya adalah orang-orang awam, mereka yang kurang mengerti duduk masalah akhirnya berkesimpulan bahwa yang namanya niat itu harus membaca keras lafadz-lafadz itu. Dan bila tidak mampu membacanya, atau tidak hafal, berarti puasanya menjadi tidak sah. Berapa banyak orang yang di siang hari tidak puasa Ramadhan, alasannya terlalu sederhana, yaitu karena tidak bisa atau tidak hafal bacaan niatnya.

Sementara di kubu kedua, juga sering terjadi ekstrimitas. Kalau sebagian ulama di dalam Madzhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah hanya sekedar memakruhkan pelafadzan niat ini, ternyata yang berkembang di kalangan tertentu sudah sampai titik yang terlalu jauh, yaitu menuduh sesat, bahkan membid’ahkan sambil mengancam akan masuk neraka segala.

Logikanya terlalu sederhana, ada orang berpuasa dengan melafadzkan niat, bukan masuk surga tetapi malah masuk neraka. Sungguh ajaib!

Wallahu A’lam Bishowab.

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 



[1] Asy-Syarh Al-Kabir, jilid 1 hal. 234

[2] Al-Khatib Asy-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj ila Ma'rifati Alfadzil Minhaj, jilid 1 hal. 157

[3] Al-Buhuty, Kasysyaf Al-Qinna' 'an Matnil Iqna',  jilid 1 hal. 187


Back to Top