#KulRam (20)

Kuliah Ramadhan: Siapa Saja yang Wajib Bayar Zakat Fitrah?

gomuslim.co.id - Zakat fitrah atau fithr adalah salah satu jenis zakat yang dibayarkan di setiap penghujung bulan Ramadhan. Zakat fitrah berbeda dengan zakat mal. Para ulama mengatakan zakat fitrah adalah zakat badan, sedangkan zakat mal adalah zakat atas harta. Sehingga semua orang yang punya kelebihan makanan di hari raya wajib bayar zakat fitrah, baik kaya atau miskin, anak kecil atau dewasa.

Adapun, zakat mal hanya diwajibkan kepada orang kaya, untuk itu ada nishab atau batas minimal harta yang dimiliki sehingga seseorang dianggap wajib zakat. Sedangkan zakat fitrah tidak ada batas nishab. Selain itu, zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk makanan pokok, berbeda dengan zakat mal di mana zakat yang dibayarkan berbeda-beda tergantung jenis harta yang wajib dizakati, apakah hasil bumi, hewan ternak, tabungan, emas dan lain-lain.

Zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, budak atau merdeka.[1] Kesimpulan tersebut diambil dari hadis berikut:

 

عن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمر، أو صاعا من شعير، على كل حر، أو عبد، ذكر أو أنثى من المسلمين (متفق عليه)

 

Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata: Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadhan kepada setiap orang (sebanyak) satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum (kewajiban itu berlaku) bagi setiap orang yang merdeka, budak, laki-laki atau perempuan dari kalangan umat Islam. (H.R. Bukhari, Muslim).

Demikian juga hadis berikut:

أدوا عن كل حر وعبد صغير أو كبير، نصف صاع من بر أو صاعا من تمر أو شعير (رواه الدارقطني)

 

“Bayarkanlah (zakat fitrah) bagi setiap orang merdeka, budak, anak kecil atau dewasa (sebanyak) setengah sha’ gandum, satu sha’ kurma atau satu sha’ jewawut.” (H.R. Daruquthni).

Seseorang dikatakan wajib membayar zakat fitrah jika memenuhi ketiga syarat berikut ini:

1.    Muslim

Jumhur ulama memandang bahwa zakat fitrah tidak wajib bagi orang kafir. Sebab zakat adalah bentuk qurbah (ibadah), sedangkan kafir bukanlah ahlul qurbah. Oleh karenanya zakat tidak wajib atas mereka. Sebab ibadahnya orang kafir tidaklah diterima di sisi Allah SWT sampai dia beriman.

Sedangkan, pendapat paling shahih dalam mazhab Syafi’i, orang kafir tetap wajib membayar zakat fitrah bagi anggota keluarganya yang muslim.[2]

2.    Mampu

Zakat fitrah hanya wajib bagi mereka yang mampu. Sebagaimana umumnya perintah Allah SWT yang tidak mungkin dibebankan kepada hamba-Nya melampaui batas kemampuannya. Allah SWT berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا... [البقرة: ٢٨٦]

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...” (Q.S. al-Baqarah: 286)

Hanya saja yang jadi pertanyaan adalah apakah batas seseorang dikatakan mampu sehingga wajib baginya membayar zakat fitrah?

Batas mampu untuk membayar zakat fitrah tidak sama dengan nishab pada zakat mal. Nishab pada zakat mal kadarnya telah ditentukan secara spesifik dan jumlahnya pun jauh lebih tinggi jika dibandingkan zakat fitrah.

Sebab zakat mal adalah zakat harta. Sehingga harta yang sedikit tidak wajib dizakati. Sedangkan zakat fitrah adalah zakat badan. Anak kecil yang belum punya harta pun tetap wajib dibayarkan zakat fitrahnya oleh bapak yang menanggung nafkahnya.

Menurut jumhur ulama, kadar mampu untuk zakat fitrah adalah memiliki kelebihan makanan selain untuk dirinya dan orang-orang yang wajib dinafkahinya pada malam dan siang hari raya idul fitri.[3]

Artinya meskipun ada orang miskin yang sehari-harinya makan pun susah, akan tetapi jika kebetulan pada hari raya idul fitri dia punya kelebihan makanan, maka wajib baginya untuk membayar zakat fitrah.

Dalilnya adalah hadis Nabi berikut ini:

مَنْ سَأَلَ ـ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ ـ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ» قَالُوا: «يَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا يُغْنِيهِ؟» قَالَ: «مَا يُغَدِّيهِ أَوْ يُعَشِّيهِ»، وفي لفظِ أبي داود: «أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ[4] (رواه أحمد وأبو داود وابن حبان)

Barang siapa yang meminta padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia sedang memperbanyak batu di neraka jahannam. Para sahabat berkata: Apa sesuatu yang mencukupi itu? Nabi menjawab: “makanan di siang dan malam hari.” Di dalam lafaz Abu Daud: “Makanan yang mengenyangkan di siang dan malam hari, atau malam dan siang hari.” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban).

3.    Bukan Hamba Sahaya

Jumhur ulama selain mazhab Hambali berpendapat bahwa seorang hamba sahaya tidak wajib membayar zakat fitrah. Sebab secara hukum seorang budak atau hamba sahaya tidak mempunyai hak kepemilikan harta, sebab dia sendiri adalah harta milik tuannya. Namun tentu di masa sekarang perbudakan sudah tidak ada lagi.

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 



[1] Ibnu Abdin, Rad dal-Muhtar ‘ala ad-Dur al-Mukhtar, jilid 2, hal. 110; Al-Buhuti, Kasysyaf al-Qina’, jilid 1, hal. 471; Ibnu al-Humam, Fath al-Qadir, jilid 2, hal. 30; Az-Zaila’i, Tabyin al-Haqaiq, jilid 1, hal. 307. Al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, jilid 1, hal. 628.

[2] Syirbini, Mughni al-Muhtaj, jilid 1, hal. 402.

[3] Lihat: Ibnu Abdil Bar, Al-Kafi, hal. 111; Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, jilid 1, hal. 279; Ibnu Qudamah, al-Mughni, jilid 3, hal. 72; Asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj, jilid 1, hal. 403.

[4] Musnad Ahmad no. 17625, Sunan Abu Daud no. 1629, Shahih Ibnu Hibban no. 545.

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top