#KulRam (25)

Kuliah Ramadhan: Berpisah dengan Ramadhan, Bukan dengan Amal Kebaikannya

gomuslim.co.id - Tidak terasa  sebentar lagi kita akan berpisah dengan bulan Ramadhan. Bulan penuh ampunan, bulan di mana mudah berbuat kebaikan.

Semoga kita tidak termasuk orang yang diaminkan doanya oleh Nabi; yaitu orang yang masuk bulan Ramadhan, sampai keluar Ramadhan tapi dosanya belum terampuni. Semoga kemarin bukan bulan Ramadhan terakhir kita.

Bulan Ramadhan adalah saat di mana kita dikondisikan untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya. Terasa lebih mudah rasanya untuk berbuat baik di bulan Ramadhan di banding bulan-bulan lainnya.

Kenapa bulan Ramadhan orang mudah berbuat baik? Pertama, karena janji pahala yang berlipat. Sudah menjadi sunnatullah jika orang lebih bersemangat untuk melakukan kebaikan jika ada iming-iming pahala yang berlipat ganda. Kedua, karena banyak temannya. Kebaikan itu mudah dilakukan jika banyak temannya.

Jika satu kantor semua menyumbang sedekah, maka kita mudah untuk ikut bersedekah. Jika suatu kali kita bepergian, semua rombongan melaksanakan shalat maka kita mudah untuk ikut shalat. Jika teman kita sering membaca al-Qur’an, maka kita juga dengan mudah ikut membaca al-Quran.

Itulah salah satu pentingnya berkumpul dengan orang-orang baik; agar mudah berbuat baik.

Maka, dalam suatu hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim tentang kisah orang yang telah membunuh 99 + 1 orang, obat untuk menjadi baik adalah berkumpul dengan orang baik. Diceritakan dalam hadis tersebut sebagai berikut:

 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ... انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ، فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ. (متفق عليه)

 

Dari Abu Sai’d al-Khudri r.a.: Bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Dahulu ada orang yang pernah membunuh 99 orang. Kemudian dia mencari orang paling alim di dunia, dia pun ditunjukkan kepada seorang rahib.... dia berkata: “Pergilah ke suatu tempat, sebab di sana terdapat orang-orang yang menyembah Allah. Maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan jangan pernah pulang ke tempat asalmu. Karena tempat itu adalah tempat yang penuh dengan keburukan.” (H.R. Bukhari Muslim).

Sebagaimana kebaikan, orang juga mudah berbuat buruk karena banyak temannya. Korupsi jika dilakukan berjamaah, seolah dosanya lebih sedikit. Melanggar peraturan lalu-lintas jika dilakukan beramai-ramai seolah-olah bukan lagi pelanggaran.

Oleh karenanya, yang paling susah adalah menjadi baik ketika yang lain tidak baik, menjadi orang jujur ketika semua orang berbohong, tak melanggar peraturan saat yang lain menganggap pelanggaran itu biasa.

Tak jarang, menjadi baik sendirian itu banyak yang tak menyukai.

Masih memikirkan shalat, saat satu rombongan lupa shalat semua. Masih berjamaah di masjid saat satu kantor tidak ada yang shalat di masjid. Masih melaksanakan puasa sunnah saat semua orang makan dan minum di siang hari.

Itulah keadaan yang akan kita hadapi setelah melewati bulan Ramadhan. Berakhirnya Ramadhan menjadi permulaan dari ujian ke-istiqomah-an kita dalam menjalankan amal ibadah dan kebaikan yang biasa kita lakukan di bulan Ramadhan.

Keadaan kita setelah Ramadhan akan membuktikan seberapa berhasil bulan Ramadhan telah mengubah kita. Seberapa berhasil kita menggunakan bulan Ramadhan sebagai kesempatan untuk menempa dan melatih diri untuk membiasakan berbuat baik.

Para ulama menyebutkan di antara tanda-tanda amal ibadah kita diterima oleh Allah adalah konsistensi kita untuk meneruskan amal ibadah itu setelahnya. Artinya, untuk mengukur diterima atau tidaknya amal kita selama bulan Ramadhan adalah dengan melihat kondisi kita setelah berpisah dengan bulan Ramadhan. Apakah kita masih mampu untuk meneruskan kebiasaan baik itu atau malah hilang sama-sekali.

Dan itu tentu saja adalah ujian yang berat, sebab setelah Ramadhan, kebanyakan orang kehilangan semangat ibadahnya. Sehingga teman untuk berbuat baik pun semakin sedikit.

Akan tetapi, walau bagaimana pun kita harus ingat bahwa seberapa pun banyaknya orang yang berbuat baik atau buruk di sekeliling kita, tetap saja di akhirat nanti kita ditanya akan amal kita sendiri-sendiri. Kita akan bertanggung jawab terhadap perbuatan kita sendiri, bukan perbuatan orang lain.

 

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

 

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 


Back to Top