#KulRam (26)

Kuliah Ramadhan: Jangan Sombong Soal Amal Ibadah

gomuslim.co.id - Di bulan mulia ini, umat Islam berlomba-lomba berbuat kebaikan. Semangat melakukan ibadah di bulan Ramadhan, biasanya lebih besar ketimbang di luar Ramadhan. Masjid yang biasanya sepi, di bulan Ramadhan menjadi lebih ramai. Al-Quran yang biasanya jarang disentuh, di bulan Ramadhan jadi lebih sering dibuka. Kotak amal masjid pun terisi penuh dengan lembaran-lembaran berwarna merah.

Indah rasanya melihat umat Islam kompak menyibukkan diri dengan beribadah di bulan puasa. Hanya saja, sebagai pengingat jangan sampai kita merasa aman apalagi merasa pantas menjadi ahli surga dengan banyaknya ibadah yang kita lakukan. Sebab ibadah yang kita lakukan bukanlah satu-satunya penentu kita masuk surganya Allah subhanahu wata’ala.

Sebab ada hal lain yang menentukan apakah kita pantas masuk surga atau tidak, yaitu rahmat dari Allah ﷻ. Tanpa kucuran rahmat dari-Nya, kita tidak mungkin bisa memasuki surga-Nya betapa pun banyaknya ibadah yang kita lakukan. Di dalam sebuah hadis disebutkan:

 

عن أبي هريرة، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لن يدخل أحدا عمله الجنة قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: لا، ولا أنا، إلا أن يتغمدني الله بفضل ورحمة...

 

Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tak seorang pun di antara Kalian yang Amalnya akan memasukkannya ke Syurga” Para Sahabat bertanya : “ Demikian juga Engkau wahai Rasulullah? “ Nabi menjawab : “Tidak juga aku, Kecuali Allah melimpahkan Rahmat dan Kemurahannya padaku (maka Aku masuk syurga).” (H.R. Bukhari Muslim).

Oleh karenanya, jangan sekali-kali kita merasa bangga apalagi sombong dengan banyaknya amal ibadah yang kita lakukan, karena bisa jadi ada orang yang ibadahnya minimalis, tapi di akhirat nasibnya lebih baik dari orang yang ibadahnya lebih banyak karena dia mendapat rahmat dan kemurahan dari Allah ﷻ.

Tapi jangan pula disalahpahami bahwa amal ibadah yang kita lakukan tidak ada artinya. Amal ibadah tentu juga menentukan, hanya saja ia bukan satu-satunya. Para ulama mengatakan hubungan antara amal ibadah dengan masuk surga adalah seperti obat dan kesembuhan, hujan dan tumbuhnya tanaman, menikah dan punya anak.

Obat merupakan sebab kesembuhan, tapi tidak semua yang berobat penyakitnya sembuh. Hujan adalah sebab tumbuhnya tanaman, tapi tidak semua tanaman bisa tumbuh dengan turunnya hujan. Menikah adalah sebab punya anak, tapi tidak semua orang yang menikah bisa punya anak.

Begitu pun amal ibadah. Ia menjadi sebab orang masuk surga, tapi tidak semua orang yang melakukan amal ibadah bisa masuk surga. Kenapa? Karena ada faktor lain yang menjadi penentunya yaitu rahmat dan kemurahan dari Allah ﷻ.

Pertanyaannya, memangnya ada orang yang banyak beribadah tapi tidak mendapatkan rahmat dari Allah? Bukannya Allah menyayangi orang yang beribadah kepada-Nya? Jawabannya ada, yaitu di antaranya adalah orang hanya fokus beribadah kepada Allah, tapi tidak memperhatikan hubungan baik dengan sesamanya.

Senin Kamis selalu berpuasa, setiap malam shalat tahajud, setiap tahun pergi umroh, tapi dengan tetangga tidak pernah akur, dengan rekan kerja saling ikut, dengan orang tua tidak harmonis. Maka bisa jadi, itulah penyebab terhalangnya rahmat Allah kepada kita.

Rasulullah ﷺ sendiri pernah menyebutkan bahwa ada orang yang bangkrut di akhirat kelak. Yaitu orang yang membawa banyak pahala dari ibadah yang dia lakukan semasa hidupnya. Pahala shalatnya, pahala puasanya, pahala sedekahnya, pahala haji dan umrohnya. Tapi semasa di dunia dia pernah menyakiti orang lain, pernah membicarakan kejelekan orang lain, pernah mencaci orang lain, pernah berhutang dan tidak pernah dibayar. Maka pahala yang susah payah dia kumpulkan habis untuk membayarkan dosa-dosanya kepada orang-orang itu. Sampai akhirnya pahalanya habis tetapi dosanya masih tersisa, maka dosa-dosa orang-orang itu dilimpahkan kepadanya, sampai akhirnya dia pun masuk neraka. Wal ‘iyadzu billah.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bangkrut di akhirat kelak. Amin.

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dosen Rumah Fiqih Indonesia

 


Back to Top