#KulRam (28)

Maaf Betulan, Bukan Maaf-maafan

gomuslim.co.id - Merayakan idul fitri adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh semua umat Islam di dunia. Tidak terkecuali umat Islam di Indonesia. Setiap tahunnya idul fitri selalu dihiasi dengan budaya-budaya khas umat Islam Indonesia. Dari mulai tradisi mudik (pulang kampung), makan ketupat plus opor ayam, saling berkunjung ke rumah tetangga dan sanak saudara, bagi-bagi parcel, sampai tradisi maaf-maafan dan bertukar kartu lebaran.

Semua tradisi itu, jika kita telusuri dalam kehidupan Nabi dan para Sahabat, tentu tidak ada. Tidak ada satu pun riwayat yang mengabarkan bahwa Nabi pernah mudik ke Mekkah di waktu lebaran. Para sahabat pun tidak ada yang makan ketupat apalagi bagi-bagi angpao.

Akan tetapi yang namanya tradisi, tentu tidak hanya karena Nabi dan para sahabat  tidak pernah melakukan kemudian menjadi haram. Selama tradisi itu baik dan tidak melanggar norma-norma syariah maka boleh-boleh saja dilakukan. Sebab ada kaidah mengatakan:

 

الأصل في العادات الإباحة

“Asal hukum dalam adat/tradisi adalah boleh”

 

Meskipun boleh, namun ada beberapa hal kiranya yang perlu sedikit dikritisi dari tradisi-tradisi yang sering dilakukan oleh umat Islam khususnya di Indonesia pada saat hari raya. Contohnya adalah tradisi maaf-maafan.

Biasanya, setalah melaksanakan shalat ‘id berjamaah, semua jamaah yang hadir saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Dari mulai anak kecil hingga orang dewasa. Laki-laki atau perempuan. Tidak peduli apakah mereka saling kenal atau tidak. Nah, di situlah uniknya, kadang ada yang tidak saling kenal tapi tiba-tiba cium tangan sambil minta maaf. Pertanyaannya minta maaf untuk apa? Jangankan punya dosa, bertemu saja baru kali itu.

Bahkan Ada orang yang lama merantau di kota. Dia tidak pernah pulang kampung kecuali pada saat lebaran. Dia pun ikut bersalaman dan bermaaf-maafan. Bikin dosanya di kota, minta maafnya di kampung.

Tapi sekali lagi karena memang itu hanya sebatas tradisi, ya sebetulnya tidak ada masalah. Hanya saja kalau kita renungkan kembali apa sebetulnya makna dan esensi di balik tradisi maaf-maafan saat lebaran. Adakah tujuan yang ingin diraih, atau hanya sebatas ritual hampa tanpa makna? Yang jelas pasti ada tujuannya.

Tujuan dari tradisi maaf-maafan ini bisa ditafsirkan dengan berbagai macam hal. Hanya yang paling mungkin, kenapa orang-orang saling meminta maaf pada saat lebaran adalah karena agar selesai Ramadhan semua dosa terampuni baik dosa kepada Allah mau pun dosa kepada manusia. Sehingga pada hari raya, benar-benar kembali suci.

Dosa kepada manusia tentu tidak bisa dimaafkan hanya dengan berucap istighfar, tapi harus meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Sehingga muncullah tradisi maaf-maafan itu. Jadi sebetulnya tradisi maaf-maafan ini punya tujuan dan makna yang positif.

Hanya saja, pada prakteknya tidak seperti itu. Maaf-maafan hanya sekedar di mulut saja. Itu pun yang terucap hanya kata-kata “Mohon maaf lahir batin” “Minal ‘Aidin wal Faizin” dan sebagainya. Padahal untuk mendapatkan maaf dari seseorang perlu secara spesifik menyebutkan dosa apa yang kita perbuat kepada orang itu sehingga ia mau memaafkan.

Jika pernah menggunjing, menyakiti, memfitnah, menghina dan lain sebagainya mintalah keridhoan dari yang bersangkutan. Sampai benar-benar dia ridha dan memaafkan kita.

Jika terkait dengan hutang yang sudah lama belum dibayar. Maka bayarlah dulu hutang itu jika ingin pada saat idul fitri kembali fitrah dan suci. Tidak cukup hanya dengan mengucapkan mohon maaf lahir batin otomatis hutang menjadi lunas, sehingga dengan begitu apa yang kita lakukan pada saat hari raya itu bukan sekedar maaf-maafan tetapi maaf betulan.

 

 

Oleh:

Ustadz Muhammad Abdul Wahab, Lc.

Dose Rumah Fiqih Indonesia

 

 


Back to Top