#FiqihShopping

Dalam Berbelanja, Konsumen Perlu Jaga Akhlak dan Adab

gomuslim.co.id - Sahabat gomuslim, pernahkah kita menyadari saat berbelanja pasti kita pernah berbuat hal tercela atau menyakiti hati pelayan atau karyawan toko. Walaupun hak-hak konsumen amat dilindungi, tetap saja akhlak harus dikedepankan dalam meraihnya, agar konsumen tak mencederai martabat orang lain.

Berikut salah satu contohnya:

Pukul 12.30 wib, Wati mengusap perutnya yang semakin buncit karena hamil. Sambil mengembuskan napas berat, ia mulai membuka bekal nasinya. Tiba-tiba seorang pria bermata sipit masuk dan langsung menyodorkan bungkusan, “Segera ya! Saya buru-buru nih.” Baru mengunyah suapan pertama, Wati harus merelakan jam istirahat siangnya tersita demi melayani konsumen yang luar biasa cerewetnya.

Mendadak pula seorang perempuan berambut keriting masuk dan langsung menyodorkan bungkusan, “Cepat! Saya tak punya waktu!”

Karyawati perusahaan jasa pengiriman itu kewalahan. Dalam kondisi panik, ia ternyata salah menulis alamat yang dituju. Akibatnya pria bermata sipit murka besar, “Ini barang penting! Tidak cukup gajimu menggantinya!”

 

Baca juga:

Sesuai Sunnah Nabi, Ini Adab Sebelum Tidur

 

Sejenak Wati diam menenangkan diri. Tapi wanita keriting justru melabrak meja, “Cepat! Saya sibuk!” akhirnya keluarlah sesak di hati Wati, “Sabat dong! Kalau marah-marah tak ada yang akan selesai.”

Tampaknya ini bukan hari keberuntungannya, pria sipit dan wanita keriting kompak memakinya, “Tahu kau, pembeli itu raja!” “dasar pegawai tak tahu diri.” “Jangan kerja kalau lamban!” “Mana bosmu, aku mau kau dipecat!” Wati tak punya selera makan lagi karena kenyang dengan omelan.

Demi menjaga loyatitas pembeli, produsen menjaga semboyan konsumen adalah raja. Namun konsumen hendaknya juga sadar bahwa kita bukanlah raja yang bebas memperlakukan orang lain secara zalim.

Karyawan seperti Wati seringkali hanya mengandalkan gaji kecil tiap bulannya. Pelayan toko yang tak berdaya saat kita maki-maki itu telah berdiri dari pagi sampai larut malam dan gajinya selalu kurang dari kebutuhan pokok.

Padahal di antara bentuk akhlak terpuji adalah bersikap lembut terhadap kaum yang lemah, yaitu mereka yang hidupnya di bawah standar kemewahan. Entah itu gajinya kecil, hidupnya melarat, tubuh cacat, mentalnya lemah atau akumulasi dari semua kenestapaan itu. Mereka orang kecil, bergaji kecil, bahkan bertubuh kecil, jangan ditambah lagi deritanya dengan penghinaan.

Termasuk di antara akhlak konsumen ialah tidak melakukan penipuan, tekanan, ucapan atau perlakukan kasar dan lain sebagainya. Apabila merasa dirugikan, mulailah penyelesaiannya dengan cara yang baik pula.

Refleksi diri

Ingat, kaum Madyan saja yang suka curang dalam bisnis, menipu pembeli dengan mengurangi takaran, suka manipulasi harga dan barang, mereka tidak langsung dihukum azab. Allah SWT terlebih dulu mengirimkan Nabi Syu’aib untuk menegur dan mengarahkan mereka pada kebenaran.

Kepada kaum Madyan diajakarkan cara berdagang dan menghormati hak konsumen secara benar. Dan tak sepatah  kata pun Nabi Syu’aib mengumbar umpatan kasar atau sikap yang keras. Hanya saja karena Kaum Madyan itu terus membangkang, barulah Allah SWT mendatangkan azap yang pedih.

Bila teguran lembut tidak mempan, konsumen bisa mengadukan penjual/produsen ke lembaga perlindungan konsumen, atau membuka masalahnya di media publik dan kalau perlu menempuh jalur hukum. Tapi akan berbahaya jika sikap kasar yang kita umbar itu justru berpangkal dari kesalahan atau kecongkakan diri selaku konsumen seperti yang terjadi di kisah contoh di atas.

Sadarilah bahwa ketika kita konsisten dengan akhlak mulaia; tersenyum, menyapa, bertutur baik dan sikap sopan, maka kita bukan saja berbelanja tapi sekaligus berdakwah dengan menebar keindahan Islam.

 

Sumber:

Jiha, Abi. 2015. Fiqih Shoping Kiat Belanja Hemat, Cerdas dalam Islam (Bebelanjalah, Agar Berpahala). Jakarta: Zikrul.

 

 

Baca juga:

Catat! Ini Tujuh Adab Saat Membaca Alquran

 


Back to Top