Dahsyatnya Senyum Seorang Mukmin

gomuslim.co.id Senyum tanda mesra, senyum tanda sayang, senyumlah sedekah yang paling mudah. Senyum di waktu susah tanda ketabahan, senyuman itu tanda keimanan.

Itulah kutipan lirik nasyid Senyum yang dipopulerkan oleh Raihan.

Mengingatkan kita, betapa melimpahnya makna dari sedikit saja ukiran senyum di bibir kita. Rasulullah, telah banyak memikat hati baik para sahabat maupun musuh dengan senyumnya. Siapa sangka, aktivitas menyunggingkan senyum tipis di hadapan oranglain menjadi sebuah amal kebaikan yang Rasulullah katakan sebagai kebaikan yang tak boleh diremehkan.

 

 

Tercatat dalam sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya;

“Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan cara engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah ceria.” (HR Muslim)

 

Senyum adalah Sedekah

Sahabat gomuslim tentu sudah tau betapa luar biasanya pahala bersedekah dengan segala keutamaannya. Dalam hal ini, Rasulullah menyebutkan bahwa tersenyum memiliki nilai yang sama dengan sedekah.

“Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR Tirmidzi)

Rasulullah diutus Allah sebagai suri tauladan bagi ummatnya. Dalam menyebarkan agama-Nya, banyak perjuangan yang teramat berat yang kemungkinan besar tidak akan mampu ditempuh oleh orang-orang atau bahkan Nabi-Nabi selain beliau.

Beliau harus menghadapi orang-orang yang luar biasa liciknya, orang-orang yang kejam, orang-orang yang ingin membunuhnya, dan para penguasa yang zalim, hingga kerasnya medah dakwah pun sempat menjatuhkan gigi beliau. Berbagai hinaan, cacian, makian, fitnah, sumpah serapah, dan ejekan pun harus beliau terima, hingga ludah hinaan pun sempat mendarat di wajahnya.

Dalam sebuah kisah, Nabi Muhammad saw mendatangi kota Thoif untuk mengabarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah swt. Namunyang terjadi, justru sebelum beliau selesai menyampaikan risalahnya, langsung saja para penduduk Thoif melempari beliau dengan batu.

Nabi Muhammad saw pun berlari dengan menderita luka cukup parah. Giginya patah dan berdarah terkena lemparan batu. Malaikat Jibril pun segera turun dan menawarkan bantuan kepada Nabi Muhammad saw. 

Malaikat Jibril berkata, “Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi”

Nabi Muhammad saw kemudian menjawab:

“Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku.”

Inilah akhlak, Rasulullah justru membalas dengan kehangatan senyum yang senantiasa membasahi bibir beliau dalam aktivitas kehidupan dan dakwahnya. Senyum yang akan menyejukkan setiap mata yang melihatnya. Senyum yang senantiasa menggetarkan hati para sahabat dan umatnya.

 

 

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Bukanlah orang yang kuat adalah yang banyak menang bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan diri ketika marah”. (HR.Bukhari).

 

Senyum Kepada Sesama

Sebagaimana seorang mukmin, sudah seharusnya kita menjadikan Rasul sebagai satu-satunya contoh dan teladan. Termasuk dalam bersosial dalam masyarakat, untuk tak menampakkan wajah murung, cemberut di hadapan sesame.

 

 

Dalam sebuah hadits sahih, diriwayatkan;

 “Dari Jabir ra., ia berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

Dengan tersenyum, kita secara tidak sadar memberikan energi positif kepada orang yang menerima senyuman kita. Sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi yang berbunyi:

Menampakkan wajah manis di hadapan seorang muslim akan meyebabkan hatinya merasa senang dan bahagia, dan melakukan perbuatan yang menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu kebaikan dan keutamaan. (nov/dbs/gomuslim)

 

Wallahu A'lam Bishowwab

 

Sumber :

Kitab Tuhfatul ahwadzi

Kumpulan Hadits Shahih Muslim

 


Back to Top