#GimanaNihUstadz

Masih Galau di Medsos? Begini Hukumnya Dalam Islam

gomuslim.co.id – Media sosial kini menjadi satu hal yang begitu melekat di masyarakat. Tidak jarang, banyak orang mengekspresikan dan membagikan segala hal tentang kehidupannya melalui akun media sosial pribadi.

Selain itu, media sosial juga sering kali digunakan orang-orang membagikan kegalauan tentang banyak hal. Lantas, bagaimana Islam memandang galau di media sosial ini?      

Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia, Ustadzah Aini Aryani, Lc menjelaskan galau di media sosial itu boleh-boleh saja, asalkan untuk hal-hal positif. Misalnya menyuarakan tentang pentingnya menjaga kebersihan atau ajakan kebaikan.

“Misalnya begini, gimana ya di daerah ini ko masjidnya dikit? yuk temen-temen kita galang dana biar kita bangun masjid. Kalau seperti itu silakan saja. Artinya ini kan galaunya dalam hal positif. Yang tidak boleh adalah galau dalam hal yang negatif. Galaunya memprofokasi orang lain, mempanas-panasi hati orang lain, apalagi curhat menginformasikan aib rumah tangga,” jelasnya.

Ustadzah Aini memaparkan, rumah tangga dimiliki oleh suami dan istri di mana suami menopang istri dan istri menopang suami. Keduanya harus saling menguatkan dan saling menutupi aib masing-masing.

Makanya, dalam Alquran dikatakan kalau suami dan istri itu ibarat pakaian masing-masing. Para istri itu adalah pakaian bagi para suami. Sebaliknya, suami adalah pakaian bagi istrinya. Maksudnya, pakaian itu saling melindungi, menutupi aib masing-masing, kemudian pakaian itu menyejukan di kala panas, dan menghangatkan di kala dingin.

 

Baca juga:

Ini Amalan Ibadah untuk Muslimah yang Sedang Haidh

 

“Artinya, masing-masing suami dan istri saling melindungi, dan menutup aib jangan sampai menghilangkan harga diri. Misalnya, istri mencurigai suami selingkuh dengan wanita lain padahal enggak. Tapi kemudian dia langsung menulis di media sosial ‘Ah, ternyata engkau tidak setia lagi’. Ini kan kata-kata vonis buat suaminya, padahal itu bisa dibicarakan berdua saja dengan suaminya,” paparnya.

Aktivitas-aktivitas rumah tangga yang sifatnya pribadi, lanjut ustadzah, tidak perlu diekspos keluar. Jangan sampai hubungan romansanya dengan suami semuanya menjadi milik publik.

“Padahal kebahagiaan yang seutuhnya adalah yang dimiliki suami dan istri. Tidak perlu terlihat bahagia di hadapan publik untuk merasa bahagia. Karena belum tentu orang yang bahagia di medsos, bener-bener bahagia,” katanya.

Jika mau curhat terkait rumah tangga, yang menjadi standard adalah bagaimana perasaan pasangan. “Kira-kira pasangan kita ridha atau tidak, sakit hati atau tidak dengan hal tersebut. Itulah yang harus menjadi parameternya. Jangan sampai membuat orang bertanya-tanya sehingga menjadi fitnah,” jelasnya.

Dengan demikian, curhat di media sosial dibolehkan jika membawa sesuatu yang positif. Tetapi hal ini tidak boleh dilakukan jika curhat di media sosial membawa kepada hal yang negatif.

Seperti sabda nabi:

“Seorang muslim sejati adalah yang bisa menyelamatkan muslim lain baik dengan tangannya maupun dari lisannya”. Lalu dalam sabda lain, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik, jika tidak mampu maka lebih baik diam”.

 

 

Wallahualambissawab


 
**Disarikan dari program #GimanaNihUstadz on Youtube Channel 'gomuslim Official' hasil wawancara dengan Ustadzah Aini Aryani, Lc (Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia).


 

Tonton videonya:

Galau di media Sosial !!?? Gimana Nih Ustadz?


Back to Top