#GimanaNihUstadz

Muslimah Boleh Berkarir, Asal Penuhi Tiga Syarat Ini

gomuslim.co.id – Wanita karir dan wanita pekerja kini sudah menjadi hal biasa di kalangan masyarakat. Sebagian beralasan untuk menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun sebagian lain menyebutnya untuk mengejar impian dan cita-cita.

Zaman dahulu wanita dianggap makhluk yang tidak berharga. Bahkan, pada masa jahiliyah, seorang ayah yang mempunyai anak perempuan akan dikubur hidup-hidup karena malu. Namun, ketika Islam datang, wanita justru dimuliakan. Wanita mendapat tempat bahkan sederajat dengan laki-laki dalam beberapa hal.  

Lantas, bagaimana hukumnya jika seorang wanita atau perempuan yang bekerja atau berkarir? Atau dia seorang muslimah tapi bekerja, bagaimana Islam memandang ini?

Dosen Rumah Fiqih Indonesia, Ustadz Muhammad Abdul Wahab Lc. menjelaskan sebetulnya nafkah keluarga dalam Islam merupakan kewajiban dari pihak laki-laki atau suami. Jadi yang wajib menafkahi keluarga itu pada dasarnya adalah seorang suami.

Tapi kalau misalnya seorang muslimah, seorang Istri ingin bekerja gimana hukumnya? Pada dasarnya, boleh-boleh saja seorang muslimah itu bekerja, tapi dengan beberapa syarat. Pertama, mendapatkan izin dari suami. Jadi kalau seorang muslimah bekerja tanpa izin dari suami maka ini tidak boleh.

 

Baca juga:

Ini Hukum Bersalaman dengan Lawan Jenis dalam Islam

 

“Kedua, seorang muslimah boleh bekerja kalau misalnya pekerjaan itu tidak terdapat hal-hal yang melanggar aturan syariat. Misalnya harus membuka aurat atau misalnya berkhalwat dengan lawan jenis. Di kantor di satu ruangan dia hanya berduaan dengan lawan jenis yang non mahram. Tentu ini tidak diperbolehkan,” jelasnya.

Kemudian, syarat ketiga seorang muslimah atau perempuan boleh bekerja adalah jangan sampai dengan dia bekerja lantas melalaikan tugas kewajibannya sebagai seorang istri atau seorang ibu. Misalnya suami tidak terlayani, kemudian anak-anak terlantarkan.

“Misalnya, istrinya sibuk bekerja diluar tapi anak-anaknya dididik oleh pembantunya, sehingga pulang-pulang anak-anaknya memanggil dia (istri) tante sedangkan pembantu dipanggil anak-anaknya mama. Ini kan tidak baik,” katanya.

Maka tiga syarat tadi, mendapat izin dari suami, pekerjaannya tidak mengandung sesuatu yang melanggar aturan syariat (tidak membuka aurat, tidak berkhalwat dengan lawan jenis), dan tidak mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang ibu perlu diperhatikan.

“Karena memang tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari banyak profesi yang memang hanya cocok dilakukan oleh wanita-wanita. Misalnya guru TK, guru PAUD ini biasanya wanita semua. Jarang ada laki-laki yang jadi guru TK, PAUD. Nanti bisa jadi anak yang nangis, rewel itu dimarahin kalau laki-laki. Kalau perempuan kan penyabar, jadi lebih cocok,” paparnya.

Dengan demikian, kalau semua perempuan diharamkan untuk bekerja, maka ini otomatis banyak profesi terbengkalai karena tidak bisa diisi oleh selain perempuan. Jadi sahabat gomuslim, pada dasarnya boleh muslimah bekerja dengan syarat tiga cara tadi. (jms)

 

Baca juga:

Hobi Selfie? Begini Hukumnya dalam Islam


Back to Top