Hukum Kumandangkan Azan pada Bayi  yang Baru Lahir

gomuslim.co.id - Betapa senangnya orang tua ketika bayi baru lahir ke dunia. Segala tantangan selama hamil 9 bulan usai sudah, wajah yang selama ini dinanti-nanti pun akhirnya bisa sepuasnya dipandangi. Namun bagi banyak keluarga muslim, ada hal penting yang harus dilakukan sebelum urusan memandangi apalagi menciumi bayi yang baru lahir. Ya, bayi biasanya lebih dulu diadzani, setelah bayi lahir segeralah mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi.

Dari Abi Rafi maula Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata : “Aku melihat Rasulullah mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan bin Ali dengan adzan shalat ketika Fathimah Radhiyallahu ‘anha melahirkannya”.

Hadist di atas dikeluarkan oleh Abu Daud (5105), At-Tirmidzi (4/1514), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (9/300) dan Asy-Syu’ab (6/389-390), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (931-2578) dan Ad-Du’a karya beliau (2/944), Ahmad (6/9-391-392), Abdurrazzaq (7986), Ath-Thayalisi (970), Al-Hakim (3/179), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (11/273). Berkata Al-Hakim : “Shahih isnadnya dan Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”. Ad-Dzahabi mengkritik penilaian Al-Hakim dan berkata : “Aku katakan : Ashim Dla’if”. Berkata At-Tirmidzi : “Hadits ini hasan shahih”.

Adzan itu biasanya dibisikkan oleh sang ayah, dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bila ayah tak bisa melakukannya, biasanya tugas mengadzani bayi diambil alih oleh laki-laki lain dalam keluarga. Sang kakek atau paman bayi misalnya.

Tapi, pernahkah Anda berpikir; sebenarnya apa sih, hukumnya mengadzani bayi? Benarkah memang ada landasannya? Atau hanya sekadar tradisi semata?

Hadist tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah pernah mengadzani bayinyang baru lahir sehingga beberapa Muslim juga melakukan hal tersebut dan menganggap kebiasaan tersebut sebagai sunnah Rasul.

Namun ternyata dalam isnad ini ada Hammad bin Syuaib, ia dilemahkan oleh Ibnu Main. Berkata Al-Bukhari tentangnya : “Mungkarul hadits”. Dan pada tempat lain Bukhari berkata : Mereka meninggalkan haditsnya”.

Berkata Al-Haitsami dalam Al-Majma (4/60) : “Dalam sanadnya ada Hammad bin Syua’ib dan ia lemah sekali”.

Dan di dalam sanadnya juga ada Ashim bin Ubaidillah ia lemah, dan Hammad sendiri telah menyelisihi Sufyan At-Tsauri secara sanad dan matan, di mana ia meriwayatkan dari Ashim dan Ali bin Al-Husain dari Abi Rafi dengan mengganti Ubaidillah bin Abi Rafi dengan Ali bin Al-Husain dan ia menambahkan lafadz : “Al-Husain” dan perintah adzan.

Hammad ini termasuk orang yang tidak diterima haditsnya jika ia bersendiri dalam meriwayatkan.

Berkata Ibnu Hajar dalam At-Taqrib : “Ia Da’if”, dan Ibnu Hajar menyebutkan dalam At-Tahdzib (5/42) bahwa Syu’bah berkata : “Seandainya dikatakan kepada Ashim : Siapa yang membangun masjid Bashrah niscaya ia berkata : ‘Fulan dari Fulan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sanya beliau membagunnya”.

Berkata Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan (2/354) : “Telah berkata Abu Zur’ah dan Abu Hatim : ‘Mungkarul Hadits’. Bekata Ad-Daruquthni :

‘Ia ditinggalkan dan diabaikan’. Kemudian Daruquthni membawakan untuknya hadits Abi Rafi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan pada telinga Al-Hasan dan Al-Husain” (selesai nukilan dari Al-Mizan).

Begitu pula dengan hadist lainnya yang lemah dan diragukan namun membuat banyak Muslim melakukan kebiasaan mengadzani bayi yang baru lahir.

Dari riwayat Yahya bin Al-Ala dari Marwan bin Salim dari Thalhah bin Ubaidillah dari Al-Husain bin Ali ia berkata : bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Siapa yang kelahiran anak lalu ia mengadzankannya pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri maka Ummu Shibyan (jin yang suka mengganggu anak kecil, -pent) tidak akan membahayakannya”.

Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (6/390) dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah (hadits 623) dan Al-Haitsami membawakannya dalam Majma’ Zawaid (4/59) dan ia berkata : Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan dalam sanadnya ada Marwan bin Salim Al-Ghifari, ia matruk”.

Syaikh Al-Albani berkata dalam Al-Irwa (4/401) : ‘Aku katakan hadits ini (hadits Abu Rafi) juga telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas degan sanad yang lemah. Aku menyebutkannya seperti syahid terhadap hadits ini ketika berbicara tentang hadits yang akan datang setelahnya dalam Silsilah Al-Hadits Adl-Dla’ifah no (321) dan aku berharap di sana ia dapat menjadi syahid untuk hadits ini, wallahu a’alam.

Syaikh Al-Albani kemudian dalam Adl-Dlaifah (cetakan Maktabah Al-Ma’arif) (1/494) no. 321 menyatakan : “Aku katakan sekarang bahwa hadits Ibnu Abbas tidak pantas sebagai syahid karena pada sanadnya ada rawi yang pendusta dan matruk.

Maka Aku heran dengan Al-Baihaqi kemudian Ibnul Qayyim kenapa keduanya merasa cukup atas pendlaifannya. Hingga hampir-hampir aku memastikan pantasnya (hadits Ibnu Abbas) sebagai syahid. Aku memandang termasuk kewajiban untuk memperingatkan hal tersebut dan takhrijnya akan disebutkan kemudian (61121)” (selesai ucapan Syaikh).

Meskipun hadist yang menganjurkan untuk mengadzani bayi yang baru lahir itu lemah, beberapa ulama tidak memakruhkan hal ini karena beberapa alasan.

Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menuliskan dalam kitabnya, Tuhfatul maudud bi ahkamil maulud, bahwa adzan pada telinga bayi dilakukan dengan alasan agar kalimat yang pertama kali didengar oleh seorang anak manusia adalah kalimat yang membesarkan Allah SWT, juga tentang syahadatain, dimana ketika seseorang masuk Islam atau meninggal dunia, juga ditalqinkan dengan dua kalimat syahadat.

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ketika ditanya tentang mengadzani bayi pada telinga kanan dan mengiqamati pada telinga kiri, beliau menjawab sebagaimana tertuang dalam situsnya :

Ini perbuatan masyru’ (disyariatkan) menurut pendapat semua ahli ilmu dan memang ada dasar haditsnya, meskipun dalam sanadnya ada perdebatan. Tetapi bila seorang mukmin melakukannya maka hal itu baik, karena merupakan bagian dari pintu sunnah dan pintu tathawwu’at.

Meskipun terdapat perdebatan mengenai kebiasaan mengadzani bayi yang baru lahir, mengamalkan adzan untuk bayi yang baru lahir bukanlah amalan bid’ah tanpa dasar. Telah Tsabit adanya dalil meskipun diperselisihkan dan masyhurnya pendapat ulama tentangnya.

Hanya saja, tidak mengadzani bayi juga tidak masalah karena bukan kewajiban yang disyariatkan dalam Islam. Kebanyakan masyarakat tetap melakukan adzan dan iqamat di telinga bayi yang baru lahir bertujuan mengajarkan bayi untuk mendengar nama Allah dan kalimat syahadat sejak kelahirannya di dunia yang menjadi keutamaan doa seorang ibu. Wallahu a’lam bishshawab. (hmz/gomuslim/assunnah/almanhaj/dalamislam/asysyariah)


Back to Top