#FiqihShopping

Muslimah, Waspada Promosi Hadiah dalam Berbelanja

gomuslim.co.id - Promosi hadiah sering menyilaukan konsumen hingga terjerat dalam kemubaziran atau kerugian yang menyesakkan. Butuh kecerdasan menyikapi iming-iming hadiah.

Dalam fiqih Islam, hadiah disebut juga dengan hibah. Definisi hibah adalah sumbangan dengan cara memberikan hak milik harta kepada orang lain ketika masih hidup. Hibah itu dianjurkan bagi orang yang memberikannya. Karena pemberian hibah itu adalah perbuatan baik dan kedermawanan.

Dasarnya adalah surat Al Baqarah ayat 177 yang artinya: memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatimm, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongngan…

Saling memberi hadiah termasuk perbuatan yang dianjurkan, bahkan Rasul menerima hadiah dari penguasa Mesir yang non muslim, Maukakis.

Dunia belanja juga memperkenalkaan model hadiah dengan dimensi tersendiri, yang boleh jadi berlainan dengan yang digambarkan fiqih islam. Hadiah versi dunia belanja justru berkaitan dengan kewajiban bahkan ketentuan tertentu yang mengikat konsumen. Misalnya, konsumen akan mendapat hadiah setelah membeli suatu produk dengan jumlah tertentu. Setiap orang memang suka diberi hadiah, tapi bagaimana jika hadiah itu berkaiatan dengan kewajiban membeli? untuk dapat hadaiah konsumen “’dipaksa” mengeluarkan uang dari saku sendiri? malangnya, hadiah itu sering tidak diperoleh sekalipun konsumen sudah belana banyak karena dianggap belum beruntung.

Inilah cangginya dunia bisnis, makna hadiah yang yang begitu luhur dapat dijungir balikkan demi mengeruk keuntungan. Produsen memanfaatkan kerentanan psikologis orang yang mudah tergoda hadiah.

 

Baca juga :

Hati-Hati Terjebak Harga Murah Saat Belanja!

 

Berikut tips-tips mewaspadai promosi hadiah dalam berbelanja:

1. Belanja hanya karena membutuhkan, tidak boleh membeli produk berkaitan dengan tujuan mendapatkan hadiah, apalagi barang tersebut tidak dibutuhkan. Pastikaan dulu kamu butuh produknya, baru keberadaan hadiah menjadi pertimbangan sebelum membeli.

2. Apabila mendapat hadiah cermati lagi kewajiban membayar, entah itu pajak biaya antar dan biaya adminitrasi dan lainnya yang seringkali sangat memberatkan. Hindari promosi hadiah yang memiliki ketentuan atau persyaratan yang berpotensi menjebak konsumen

3. Jangan lupa penipuan dengan kedok hadiah sangat banyak bertebaran makan kewaspadaan sangat penting. Tidak ada salahnya menghubungi pihak pemberi hadiah resmi daripada terjebak penipuan

4. Tanamkan pada diri hadiah  hanyalah pelengkap, kalau dapat ya syukur kalau tidak dapat juga tidak masalah

5. Apabila bermasalah dengan belanja berhadiah, hubungilah lembaga perlindungan konsumen atau dinas sosial atau kepolisian. Segala bentuk penipuan harus diberantas secara tegas.

 

Belanja berhadiah penting dipahami plus minusnya bagi konsumen cerdas. Selain itu, pihak produsen hendaknya meluruskan niat pemberian hadiah sesuai dengan koridor islam, bahwa hadiah diberikan sebagai penghormatan atas jasa-jaasa konsumen yang membesarkan usahanya, menyumbangkan keuntungan berlipat ganda. Cobalah memandang secara jernih, kalau konsumen adalah orang-orang yang sudah berjasa besar. Dari itu berikanlah sekali-kali hadiah yang menyenangkan konsumen tanpa jebakan apapun, apalagi sampai menyusahkan mereka dalam kerugian.

 

Sumber: Jiha, Abi . 2015. Fiqih Shoping Kiat Belanja Hemat, Cerdas dan Islami (Propaganda Belanja Berhadiah).Jakarta : Zikrul.

Sumber gambar: Tsaqofah.id

 


Back to Top