Bahaya Penyakit Ain Timbul dari Foto dan Video Demi Popularitas di Media Sosial

gomuslim.co.id – Eksistensi manusia saat ini sangat aktif di media sosial. Hampir setiap hari, bahkan hampir setiap waktu manusia membuat status atau meng-upload gambar-gambar berupa foto diri, keluarga atau aktivitas hariannya di media sosial.

Hendaknya sebagai manusia harus berhati-hati men-share foto atau video kita, keluarga kita atau anak kita di sosial media, karena penyakit ‘ain bisa terjadi melalui foto ataupun video. Meskipun tidak pasti setiap foto yang di-share terkena ‘ain tetapi lebih baik kita berhati-hati, karena sosial media akan dilihat oleh banyak orang.

‘Ain adalah penyakit atau gangguan yang disebabkan pandangan mata. Disebutkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan:

“Seorang yang memandang, menimbulkan gangguan pada yang dipandangnya” (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 69).

Dijelaskan oleh Al Lajnah Ad Daimah:

“‘Ain dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).

 

Penyakit ‘Ain Serang Anak-anak dan Balita

Pada dasarnya, semua orang bisa dan sangat mungkin terkena penyakit, baik laki-laki atau perempuan, muda atau tua dan lain sebagainya. Selain itu, juga penyakit ain timbul dari siapa saja, baik dari orang saleh dan orang yang mencintai karena takjub atau dari orang yang dengki dan jahat karena iri. Hanya saja anak yang masih kecil atau bayi lebih rentan terkena penyakit ain atau gangguan setan lainnya.

Salah satu tanda bahwa bayi terkena penyakit ain adalah menangis secara tidak wajar dan tak kunjung berhenti, kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa ada sebab tertentu atau tubuh bayi tersebut kurus dan kering. Jika kondisinya demikian, maka bayi tersebut segera diruqyah karena kemungkinan sudah terkena penyakit ain.

Disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, bahwa,

“Suatu Nabi SAW. bertanya kepada Asma’ binti Umais, ‘Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?’ Asma menjawab, ‘Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ain.’ Kemudian Nabi SAW. berkata, ‘Kalau begitu bacakan ruqyah untuk mereka.”

Dalam hadis lain riwayat Imam Bukhari dari Aisyah, bahwa,

“Suatu Nabi SAW. masuk rumah dan tiba-tiba mendengar jeritan bayi menangis. Kemudian beliau bersabda, ‘Kenapa bayi ini menangis terus? Mengapa kalian tidak segera meruqyahnya untuk mengobatinya dari penyakit ain.”

Hal ini dimaksudkan untuk berbagai motif, dari yang motifnya hanya untuk berbagi dan informasi.

Namun, dengan banyaknya foto-foto yang dibagikan di media sosial tentu memberikan kesan yang berbeda-beda pada setiap orang yang melihatnya. Mulai dari yang positif sampai yang negatif.

Rasa kagum yang dibarengi dengan rasa benci atau iri saat seseorang melihat foto-foto yang dibagikan di media social, bisa memberikan dampak negatif pada orang yang ada di dalam foto tersebut, atau yang biasa dikenal dengan penyakit ‘ain.

Secara sederhana, penyakit ‘ain adalah penyakit yang disebabkan oleh rasa dengki ataupun kagum pada seseorang. Inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh setan untuk mengirimkan panah hasad pada orang yang di benci atau dikagumi tersebut. Sehingga menimbulkan penyakit bagi orang tersebut. Baik penyakit fisik maupun penyakit psikis.

Penyakit ain tidak dapat ditangani dengan menggunakan obat-obatan karena bukan merupakan penyakit medis. Namun, penyakit ini dapat mengganggu kesehatan secara mental.

Penyakit ini paling sering diderita oleh anak–anak dan balita. Karena mereka masih lemah dan belum bisa membentengi dirinya sendiri dari pengaruh jahat di sekitarnya. Orang dewasa juga bisa terkena penyakit ain ini bahkan hewan dan harta benda.

Penyakit ‘ain sangat berbahaya karena munculnya sering tidak disadari. Namun akibatnya bisa berlangsung terus-menerus, hingga bisa sampai menyebabkan kematian pada orang yang terkena kemalangan penyakit ‘ain ini.

Contoh sederhana dari penyakit ain ini adalah ketika dua orang ibu-ibu yang tengah mengobrol dan ibu pertama terlalu memuji kelebihan anaknya yang tidak dimiliki oleh anaknya ibu kedua.

Hadist di atas menunjukkan bahwa bayi rentan terkena penyakit ain. Hal ini karena pada umumnya banyak orang yang takjub pada bayi, gemes melihatnya dan kadang orang-orang sekitarnya banyak memujinya tanpa diiringi dengan zikir dan doa keberkahan. Akibatnya, karena banyak yang takjub dan memuji-muji bayi tersebut, maka dia rentan terkena penyakit ain.

Sebab Terjadinya Penyakit ‘Ain

Kemudian setan berperan dan meniupkan rasa iri dan dengki pada ibu kedua terhadap kelebihan anak ibu pertama. Sehingga terlepaslah panah hasad tersebut yang mengenai anak dari ibu pertama dan menyebabkan anak tersebut menjadi sakit atau mengalami perubahan perilaku yang meresahkan hati orangtuanya. Seperti membangkang ataupun tiba-tiba menjauh.

Hal inilah yang dinamakan penyakit ain, yakni penyakit pada seseorang yang timbul akibat sebuah kata-kata pujian yang disertai dengan rasa dengki, yang kemudian direspon oleh setan untuk panah ‘Ain dan mengenai sasarannya. Sehingga menimbulkan reaksi-reaksi negatif seperti sakit secara fisik maupun mental.

Setelah mengetahui definisi dari ‘ain, mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya: “Ah, mana mungkin sekedar memandang akan menimbulkan penyakit?!”, “bagaimana bisa sekadar pandangan membuat seseorang mati?”. Atau bahkan sebagian orang mengingkari adanya ‘ain karena tidak masuk akal.

Oleh karena itulah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim no. 2188).

Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:

Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memintaku agar aku diruqyah untuk menyembuhkan ‘ain” (HR. Muslim no.2195).

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain” (HR. Al Bazzar dalam Kasyful Astar [3/ 404], dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no.1206).

Ain terjadi karena adanya hasad (iri; dengki) terhadap nikmat yang ada pada orang lain. Orang yang memiliki hasad terhadap orang lain, lalu memandang orang tersebut dengan pandangan penuh rasa hasad, ini bisa menyebabkan penyakit ‘ain. Al Lajnah Ad Daimah menjelaskan:

“Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta perlindungan dari orang yang hasad. Dalam Al Qur’an: ” … dan dari keburukan orang yang hasad” (QS. Al Falaq: 5). Maka setiap orang yang menyebabkan penyakit ain mereka adalah orang yang hasad, namun tidak semua orang yang hasad itu menimbulkan ‘ain” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).

 

Cara Mencegah Timbulnya Penyakit ‘Ain

Hal pertama yang perlu dilakukan agar terhindar dari penyakit ‘ain adalah menghindari sikap suka pamer, dan berhias diri dengan sifat tawadhu‘. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zalim pada yang lain” (HR. Muslim no. 2865).

Sebisa mungkin hindari menyebut-nyebut kekayaan, kesuksesan usaha, kebahagiaan keluarga, juga memamerkan foto diri, foto istri/suami, foto anak, dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan iri-dengki dari orang yang melihatnya. Atau juga yang bisa menyebabkan kekaguman berlebihan dari orang yang melihatnya. Karena pandangan kagum juga bisa menyebabkan ‘ain, sebagaimana sudah disebutkan.

Kemudian di antara upaya pencegahan penyakit ‘ain adalah dengan menjaga dan memelihara semua kewajiban dan menjauhi segala larangan, taubat dari segala macam kesalahan dan dosa, juga membentengi diri dengan beberapa dzikir doa, dan ta’awudz (doa perlindungan) yang disyariatkan. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30).

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Ra’du: 28)

Rutinkan dzikir-dzikir pagi dan sore, serta dzikir-dzikir harian seperti dzikir keluar/masuk rumah, rumah, dzikir keluar/masuk kamar mandi, dzikir hendak tidur atau bangun tidur, dzikir keluar rumah, dzikir naik kendaraan, dzikir ketika akan makan, dzikir setelah shalat, dan lainnya.

Di antara dzikir pencegah ‘ain yang bisa dibaca kepada anak-anak agar tidak terkena ‘ain adalah sebagaimana yang ada dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendoakan Hasan dan Husain dengan doa:

“Aku meminta perlindungan untuk kalian dengan kalimat Allah yang sempurna, dari gangguan setan dan racun, dan gangguan ‘ain yang buruk”. Lalu Nabi bersabda: “Dahulu ayah kalian (Nabi Ibrahim) meruqyah Ismail dan Ishaq dengan doa ini” (HR. Abu Daud no. 4737, Ibnu Hibban no.1012, dishahihkan Syu’ain Al Arnauth dalam Takhrij Ibnu Hibban).

Dari ayat dan hadist yang telah disampaikan, menyampaikan bahwa kita harus berhati-hati dalam share foto ataupun video demi mendapatkan eksistensitas semata. Semoga Allah Subhanallah Wa Ta'ala menjauhkan kita dari penyakit ‘Ain. Aamiin yaa Robbal’alamin. (hmz/foto: afternoonvoice)

 

Wallahu a'lam Bissawab

 

 

Sumber:

- Buku Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah tentang 10 Amalan Agar Terhindar Dari Bahaya Penyakit A’in

- Buku Pustaka Ruqiah, Salahudin Sunan Al-Sasaki tentang Mengupas Lebih Dalam Tentang A’in


Back to Top