Kamu Harus Tahu, Ini Sebab Turunnya Surat Al-Jumu’ah

gomuslim.co.id – Sahabat gomuslim, memahami isi kandungan Alquran tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Seseorang perlu memiliki keilmuan tertentu untuk memahami ayat-ayat suci. Salah satu yang wajib dipahami adalah asbabun nuzul (sebab-sebab, latar belakang atau konteks turunnya suatu ayat Alquran).

Pada umumnya, asbabun nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah di balik kisah diturunkannya suatu ayat.

Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui asbabun nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang asbabun nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Alquran.

Pada artikel kali ini, gomuslim akan membahas mengenai asbabun nuzul surat Al-Jumu’ah. Tentu tidak pada semua ayat, tetapi hanya pada beberapa ayat. Berikut rangkumannya dari berbagai sumber:

Dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 11, Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, "Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan, dan Allah Sebaik-baik Pemberi Rezeki”.

Asbabun Nuzul ayat ini, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir yang berkata:

“Pada suatu Jumat, ketika Nabi SAW tengah berkhutbah, tiba-tiba datang segerombolan kafilah (dengan membawa barang-barang perdagangan). Para sahabat lantas keluar (dari masjid) sehingga tidak tersisa bersama Nabi kecuali dua belas orang saja”.

 

Allah SWT lalu menurunkan ayat, ‘Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya…’

Dalam keterangan lain, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Jabir yang berkata, “Wanita-wanita saat itu jika mengadakan pesta pernikahan maka mereka membuat iring-iringan yang gemerlap dengan diiringi alunan musik. Para sahabat lantas meninggalkan Rasulullah yang sedang berkhutbah di atas mimbar dan pergi menghampiri iring-iringan tersebut. Allah lalu menurunkan ayat ini.”

Muqatil Ibnu Hayyan menduga bahwa barang dagangan tersebut adalah milik Dihyah ibnu Khalifah sebelum dia masuk Islam, dia memakai genderang dalam menjajakan barang dagangannya, akhirnya mereka bubar menuju ke tempat perniagaan itu dan meninggalkan Rasulullah SAW yang sedang berkhotbah di atas mimbarnya, terkecuali sebagian kecil dari mereka yang tidak terpengaruh.

Menurut riwayat Abu Hayyan, tindakan penduduk Makkah yang meninggalkan khutbah jumat dan bergegas menuju ke Dihyah adalah karena saat itu Makkah sedang dilanda paceklik sehingga harga barang melambung tinggi.

Alasan lainnya adalah karena kebiasaan masuknya para Dihyah ini disertai dengan iringan bunyi-bunyian yang menjadi tontonan menarik bagi masyarakat Makkah.

Sepertinya ayat ini diturunkan berkenaan dengan kedua hal di atas. Imam Suyuthi lantas menemukan riwayat Ibnul Mundzir dari Jabir dari satu jalur saja yang mengemukakan kisah pernikahan dan kedatangan kafilah dagang ini sekaligus. Artinya, ayat ini turun berkenaan dengan kedua hal ini.

Dengan memahami sebab turunnya ayat ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk melakukan perniagaan. Hanya saja, semua hal duniawi harus ditinggalkan saat ibadah shalat dan khutbah Jum’at.

Ini sebagaimana Allah SWT firmankan dalam ayat 9 bahwa setelah selesai melakukan salat Jum’at, muslim boleh bertebaran di muka bumi melaksanakan urusan duniawi, berusaha mencari rezeki yang halal, sesudah menunaikan yang bermanfaat untuk akhirat.

Wahai orang-orang yang beriman, jika (kalian) dipanggil untuk melaksanakan salat di hari Jumat, maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Itu lebih baik bagi kalian jika kalian (sedari awal) mengetahuinya,”

Hendaklah mengingat Allah SWT sebanyak-banyaknya di dalam mengerjakan usahanya dengan menghindarkan diri dari kecurangan, penyelewengan dan lain-lainnya, kerana Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, yang tersembunyi apalagi yang nampak nyata.  Dengan demikian tercapailah kebahagiaan dan keuntungan di dunia dan di akhirat.

 

Wallahu’alam Bishawab



Sumber:

Jalaluddin As-Suyuti. 2004. Asbabun Nuzul: Terjemahan bahasa Indonesia. Yogyakarta: Gramedia

www.Ibnukatsironline.com 

Hamzah, Muchotob (2003). Studi Al-Qur'an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media ISBN 979-95526-1-3

Shahih Bukhari, kitab Al Jumu’ah hadits nomor 936. Shahih Muslim kitab al-Jumu’ah hadits nomor 863.

 


Back to Top