Husnuzan, Ini Pentingnya Berbaik Sangka pada Sesama

gomuslim.co.id – Manusia dalam menjalani kehidupannya pasti bersinggungan dengan manusia lainnya. Hampir tidak ada satu pun dari manusia yang bisa hidup sendiri. Dia tetap akan membutuhkan manusia lain dalam berbagai kesempatan.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga hubungan baik dengan sesama. Istilahnya, ini biasa disebut hablumminannas. Salah satu sikap yang diajarkan dalam hubungan dengan sesama ini adalah sikap berbaik sangka atau husnuzan.

Secara bahasa, husnuzan berasal dari dua kata, yaitu khusnu dan zan yang memiliki arti berbaik sangka. Secara istilah, husnuzan bisa kita maknai sebagai berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia.

Sebaliknya, dari husnuzan adalah su’uzan (berburuk sangka). Sikap inilah yang dilarang dalam Islam. Kita tidak boleh menyangka-nyangka tanpa bukti dan tanpa diselidiki asal usulnya. Karena akibatnya menjadi permusuhan dan keretakan di dalam hubungan persaudaraan. Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan berdakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat [49]: 12).

Lantas, mengapa kita (umat Islam) harus bersikap husnuzan? Apa manfaatnya dari bersikap baik sangka?

Sikap husnuzan akan melahirkan keyakinan bahwa segala kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia berasal dari Allah, sedangkan keburukan yang menimpa manusia disebabkan dosa dan kemaksiatannya.

Tidak seorang pun bisa lari dari takdir yang telah ditetapkan Allah. Tidak ada yang terjadi di alam semesta ini melainkan apa yang Dia kehendaki dan Allah SWT tidak meridhai kekufuran untuk hamba-Nya. Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memilih dan berikhtiar. Segala perbuatannya terjadi atas pilihan dan kemampuannya yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.

Seorang muslim wajib bersopan santun terhadap saudara, karib-kerabatnya dan kepada orang-orang yang ada hubungan silaturrahmi, seperti bersopan santun terhadap kedua orang tuanya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya, hilangkan perasaan su’uzan.

Husnuzan atau berbaik sangka terhadap sesama manusia, merupakan sikap mental terpuji, yang harus diwujudkan melalui sikap lahir, ucapan dan perbuatan yang baik, diridai Allah SWT, dan bermanfaat.

Sikap, ucapan, dan perbuatan baik, sebagai perwujudan dari husnuzan itu hendaknya diterapkan dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga serta bermasyarakat.

Tujuan hidup berkeluarga yang islami adalah terbentuknya keluarga yang memperoleh rida dan rahmat Allah SWT,bahagia serta sejahtera baik di dunia maupun di akhirat. Maka, agar tujuan luhur tersebut dapat tercapai, diperlukan adanya prasangka baik antar anggota keluarga.

Kemudian dalam kehidupan bertetangga. Kita tahu bahwa tetangga adalah orang-orang yang tempat tinggalnya berdekatan dengan tempat tinggal kita. Antara tetangga satu dengan yang lainnya hendaknya saling berprasangka baik dan jangan saling mencurigai.

Husnuzan melahirkan sikap saling menghormati antar tetangga. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Antara tetangga yang satu dengan yang lainnya hendaknya saling menghormati dan menghargai tetangganya.” (HR. Muslim no. 47)

Selain saling menghormati, sikap selanjutnya adalah berbuat baik kepada tetangga dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan baik dan bermanfaat kepada tetangga dan tidak merugikan/menyakiti tetangga.

Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Muslim no. 46).

Perlu kita tekankan bahwa membangun hubungan bain antara manusia satu dengan manusia lainnya dan lebih khususnya muslim satu dengan muslim lainnya, adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sebaik-baiknya. Karena di dalam Alquran Allah SWT, telah menggariskan bahwahi setiap mukmin itu bersaudara (QS. Al-Hujurat Ayat 10).

Segala sesuatu dalam bentuk sikap dan sifat yang akan memperkuat dan memantapkan persaudaraan harus dijaga dan dipelihara. Segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjaga dengan baik, salah satu sifat positif yang harus di lakukan adalah husnuzan atau berbaik sangka.

Karena itulah, jika kita mendengar hal-hal yang buruk terhadap saudara sesama muslim sebaiknya kita tabayyun (pengecekan) terlebih dahulu sebelum mempercayai apalagi meresponnya secara negatif.

Allah SWT, berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat Ayat 6)

Hikmah Husnuzan

Sikap husnuzan ini memiliki beberapa hikmah yang bisa diambil. Diantaranya, pertama, husnuzan melahirkan kesadaran bagi umat manusia, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berjalan sesuai dengan aturan dan hukum yang telah ditetapkan dengan pasti oleh Allah SWT. Tidak ada sesuatu yang kebetulan.

Kedua, husnuzan akan mendorong manusia untuk berusaha dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat dan mengikuti hukum sebab akibat yang berlaku dan ketetapan Allah SWT.

Ketiga, sikap husnuzan mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT yang memiliki kekuasaan dan kehendak yang mutlak dan memiliki kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.

Keempat, husnuzan menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah sebagai zat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia.

Kelima, sikap husnuzan mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup karena meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT.

Demikianlah pembahasan tentang sikap husnuzan. Semoga dari paparan di atas, kita dapat menjadi pribadi yang senantiasa berbaik sangka. Memperkuat keyakinan bahwa bisa jadi apa yang kita sangka buruk, itu sesungguhnya baik di mata Allah. Sebaliknya, bisa jadi apa yang kita anggap baik, ternyata itu buruk di mata Allah. Maka mulailah berbaik sangka kepada sesama. (jms)

Wallahu Al'am Bishowwab

 

Sumber:

Roli Abdul Rohman, Menjaga Akidah dan Akhlak

Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Aluran

Teguh Prawiro, Akidah Akhlak, (Jakarta: Yudhistira, 2011)

T. Ibrahim dan Darsono, Membangun Akidah dan Akhlak 2, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009)

Roli Abdul Rohman, Menjaga Akidah dan Akhlak

 


Back to Top