Sering Disepelekan, Ini Hukum Membuang-buang Makanan

gomuslim.co.id -  Sahabat gomuslim, pernahkah kamu tidak menghabiskan makanan? Mungkin hal ini terdengar sepele, tapi siapa sangka ternyata tidak menghabiskan makanan merupakan salah satu kebiasaan buruk yang sebaiknya kita hindari.

Untuk diketahui, Barilla Center for Food & Nutrition pada tahun 2016 melaporkan bahwa Indonesia merupakan peringkat kedua sebagai negara pembuang makanan terbanyak. Padahal Indonesia masih masuk ke dalam negara berkembang.

 

 

Dikabarkan ada sekitar 300 kg makanan per kapita terbuang setiap tahunnya di Indonesia. Padahal, Indonesia masuk ke peringkat nomor 8 dari segi prevalensi kekurangan gizi di antara 67 negara.

Fakta ini menggambarkan bahwa sungguh besar ketidaktahuan masyarakat akan berbahayanya tidak menghabiskan makanan karena dapat menghasilkan sampah yang akan menjadi masalah baru. Selain itu, tidak menghabiskan makanan dan memproduksi makanan sangat tidak relevan dengan tingginya kekurangan gizi yang terjadi di negara kita.

Dalam hal ini, Islam telah memberikan pendidikan tersendiri. Umat muslim sudah lebih dahulu diajarkan bahwa melakukan hal yang mubazir adalah perilaku yang dibenci Allah dan disebut sebagai teman Setan. Sebagaimana hadits Rasulullah,

“Sesungguhnya Allah membenci kalian karena 3 hal: “kata-katanya” (berita dusta), menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta.” (HR.Bukhari)

 

 

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanandan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat inkar kepada tuhannya” (QS. Al-Isra’, Ayat 26-27).

Untuk diketahui, satu butir nasi pun untuk bisa sampai di piring kita karena proses yang teramat panjang: ditanam, tanahnya dibajak, diairi, dicangkul, sampai panen membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sesudah jadi beras pun, harus didistribusikan ke pasar, sampai ke warung beras, dibeli ibu kita sampai ke dapur, dibersihkan, ditanak sampai matang, dan tersaji di hadapan kita.

 

 

Ada banyak tangan yang memiliki andil dalam sebutir nasi. Orang-orang tua kita pada zaman dahulu selalu mengajarkan untuk menghargai prosesnya. Sehingga kita bisa bersyukur dengan dan menghargai apa yang kita makan. Namun kadang dalam rizki yang sangat kecil (sebutir nasi) saja kita lupa untuk bersyukur, bagaimana bisa kita akan bersyukur untuk hal-hal yang besar?

 

Mengambil Sesuai Porsi

Lalu, apa yang harus dilakukan agar makanan selalu habis dan jauh dari perilaku pemborosan?

Sahabat gomuslim, sebaiknya hanya mengambil makanan yang hanya kita mampu makan. Tidak terburu hawa nafsu untuk mengambil banyak makanan jika akhirnya terbuang percuma. Demikian halnya saat akan memasak, perlu kiranya memberi takaran agar makanan habis bagi seluruh anggota keluarga tanpa harus dibuang atau tersisa.

 

 

Simpan bila tidak habis untuk kita makan kembali atau dimanfaatkan bagi orang lain, atau jadikan pakan ternak atau diolah menjadi kompos sebagai unsur hara tanah untuk tanaman. (nov/ mui-lplhsda.org /dbs)

 


Back to Top