Meninggal pada Hari Jumat Dapat Kemuliaan, Benarkah?

gomuslim.co.id – Kematian adalah sebuah keniscayaan. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalaminya, termasuk manusia. Mati merupakan perkara yang bersifat rahasia. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui kapan, dimana, dan dalam kondisi seperti apa seseorang mengalami kematian.   

Seperti halnya jodoh dan rejeki, kematian adalah sesuatu rahasia dan ketetapan Allah SWT. Semua makhluk yang hidup di dunia ini adalah milik Allah dan suatu saat akan kembali kepada-Nya yang Maha Memiliki.  

Dalam Alquran Surat Al-Jumu’ah ayat 8, Allah SWT berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dari sini, kita dapat memahami bahwa maut pasti akan datang menjemput. Kita sebagai manusia tidak bisa lari darinya. Hidup di dunia seperti menunggu datangnya malaikat pencabut datang. Maka, sebelum waktunya terjadi, kita berupaya membekali diri dengan banyak amal ibadah dan kebaikan.

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar bahwa ada keistimewaan bagi orang-orang yang meninggal pada hari Jumat. Mereka yang meninggal pada harinya umat Islam ini terhindar dari siksa dan fitnah kubur. Benarkah demikian? Berikut gomuslim merangkumnya dari berbagai sumber:

Tentang perkara ini, memang ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa orang yang meninggal pada hari Jumat akan selamat dari azab kubur. Ini sebagaimana dalam hadits dari Abdullah bin Umar Ra., bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang meninggal di hari jumat ataupun malam jumat, melainkan Allah akan menyelamatkannya dari fitnah (azab) kubur”.

Al-Mubarokfury dalam Syarh Sunan Tirmidzi menjelaskan bahwa Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur’. Dan hadis ini bisa dimaknai mutlak (tanpa batas) atau terbatas. Namun makna pertama (mutlak) lebih tepat, mengingat karunia Allah yang sangat luas. (Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Tirmidzi, 4/160).

Menurut al-Tirmidzi, hadits ini tergolong gharib, tidak bersambung sanadnya, tidak pernah diketahui Rabi’ah mendengar dari Ibnu Amr. Namun al-Thabrani menyatakan hadits tersebut muttashil (tersambung sanadnya), al-Thabrani meriwayatkannya dari Rabi’ah bin ‘Iyadl dari ‘Uqbah dari Ibnu Amr bin Ash.

Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al-Hakim al-Tirmidzi dengan status muttashil, Abu Nu’aim juga meriwayatkannya dari Jabir dengan status Muttashil. Meski bersambung sanadnya, menurut al-Hafizh al-Mundziri, hadits tersebut tergolong dla’if (Syekh Abdurrauf al-Manawi, Faidl al-Qadir, juz 5, hal. 637).

Ibnu Hajar al-‘Asqalani berpendapat kalau hadis ini sanadnya lemah. Ada juga yang berpendapat kalau kualitasnya lemah karena ada perawinya bernama Rabi’ah bin Sayf yang banyak riwayat-riwayat munkar-nya.

Ulama kontemporer seperti al-Albani mengatakan bahwa jika seluruh jalur hadis ini dikumpulkan maka status ini naik derajatnya menjadi hasan. Menurutnya, selamat atau tidak seseorang dari azab kubur memang tidak ditentukan oleh hari, tapi oleh amal soleh dan keimanannya.

Namun menurut al-Qurthubi, hadis ini jelas menunjukkan keutamaan bahwa orang yang meninggal di hari Jumat (dan beriman) maka diberikan keutamaan dengan tidak mendapatkan siksaan saat ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir.

Seperti kita ketahui, hari Jumat merupakan hari rayanya umat Islam di seluruh dunia. Hari di mana umat Islam menjalankan salat Jumat berjamaah dan memiliki sejumlah keutamaan jika melakukan amalan seperti membaca Alquran, dzikir, salawat dan lainnya.

Sehingga akan menjadi sangat istimewa jika seorang muslim bisa berpulang kepada Sang Pencipta tepat di hari yang istimewa pula. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda pada suatu Jum’at,

Wahai segenap kaum muslimin, sesungguhnya ini adalah hari yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai hari raya bagi kalian.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jamash-Shaghir dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’).

Dengan demikian orang yang meninggal pada hari Jumat ini, jika merujuk pada hadits di atas, akan mendapat kemuliaan. Tentu ini berlaku bagi orang yang beriman. Karena mereka yang meninggal di hari Jumat tidak semuanya muslim.

Meski begitu, hal yang lebih utama dari meninggal pada malam Jumat atau hari Jumat adalah tentang bagaimana kita sebagai muslim terus memperbaiki diri, memperbanyak amal ibadah, belajar (menuntut ilmu), terus berbuat kebaikan (amal saleh), dan senantiasa meningkatkan kualitas dari semuanya.

Karena kelak, semua lisan, amal perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban. Lisan kita nanti di akhirat akan tertutup rapat, tidak dapat bicara. Sementara tangan, kaki, mata, telinga kita akan bersaksi tentang apa yang pernah dilakukan.  

Dunia ini adalah ladang amal bagi umat manusia. Maka penuhilah dengan tanaman-tanaman kebaikan dan amal saleh selama di dunia. Agar nanti bisa menuai dari hasil amal di dunia. Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala mewafatkan kita dalam keadaan khusnul khotimah dan menerima semua amal ibadah kita kelak di akhirat. Aamiin.

 

 

Wallahu’alam Bishawab



Sumber:

Syekh Abdurrauf al-Manawi, Faidl al-Qadir

Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Tirmidzi, 4/160

NU Online, Dalam Islam


Back to Top