Kamu Harus Tahu, Ini Bahaya Riba dalam Transaksi Jual-Beli dan Pinjaman 

gomuslim.co.id - Riba adalah menetapkan tambahan atau bunga dalam jumlah tertentu yang telah disepakati bersama yang biasanya berlaku dalam urusan pinjam meminjam uang. Riba sudah menjadi hal yang sangat umum saat ini, mudah ditemui dimana saja dan dilakukan oleh siapa saja. Dari hal yang sepele hingga hal yang besar banyak di antaranya mengandung riba. Riba yang paling mudah dijumpai ialah adanya bunga tambahan yang harus dibayarkan ketika membayar pinjaman.

Ustad Lukmanul Hakim dalam kajiannya di pagelaran Halal Expo Indonesia (HEI) 2019 mengatakan, Riba merupakan perbuatan dosa besar dengan ijma’ Ulama, berdasarkan al-Qur`ân, as-Sunnah.

Dalil dari al-Quran di antaranya adalah firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat Al Baqarah ayat 275: “Allâh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang umatnya dari riba dan memberitakan bahwa riba termasuk tujuh perbuatan yang menghancurkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Apakah itu?” Beliau n menjawab, “Syirik kepada Allâh, sihir, membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. [HR. al-Bukhâri, no. 3456; Muslim, no. 2669]

Ustad Lukmanul Hakim menyatakan dampak negatif pada riba yaitu memberikan dampak negatif bagi akhlak dan jiwa pelakunya. Jika diperhatikan, maka kita akan menemukan bahwa mereka yang berinteraksi dengan riba adalah individu yang secara alami memiliki sifat kikir, dada yang sempit, berhati keras, menyembah harta, tamak akan kemewahan dunia dan sifat-sifat hina lainnya.

Selain itu, katanya, Riba merupakan akhlaq dan perbuatan musuh Allah yaitu orang Yahudi. Allah ta’ala berfirman:

Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya, dan Karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. kami Telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (QS. An Nisaa’: 161)

Kemudian, Riba merupakan akhlak kaum jahiliyah. Barang siapa yang melakukannya, maka sungguh dia telah menyamakan dirinya dengan mereka. Pelaku atau pemakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dalam keadaan seperti orang gila. Allah ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila…. “ (QS. Al-Baqarah: 275)

Memakan riba menunjukkan kelemahan dan lenyapnya takwa dalam diri pelakunya. Hal ini menyebabkan kerugian di dunia dan akhirat. Allah ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 130-132)

Lalu, Setelah meninggal, pemakan riba akan di adzab dengan berenang di sungai darah sembari mulutnya dilempari dengan bebatuan sehingga dirinya tidak mampu untuk keluar dari sungai tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalah hadits Samurah radliallahu ‘anhu (HR. Bukhari 3/11 nomor 2085)

Sahabat, Ustad Lukmanul Hakim menegaskan bahwa Sebagaimana yang diketahu bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara dan kehidupan yang abadi adalah kehidupan di akherat. begitu pula yang berhubungan dengan kehidupan di neraka, orang yang melakukan riba sepanjang hidupnya memiliki urusan dan harta yang tidak berkah, nantinya ia akan menjadi penghuni neraka yang kekal jika ia tidak menghentikan kebiasaan dosa besar tersebut.

“Maka orang itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menghalalkan sedekah”. (QS Al Baqarah : 276).

Orang yang berdosa karena dilakukannya riba bukan hanya yang memiliki modal utama atau yang melakukan secara langsung, tetapi juga orang orang yang berperan di dalamnya. Misalnya ialah dalam suatu lembaga keuangan yang bekerja dengan sistem riba, maka setiap karyawan yang bekerja di dalamnya juga turut menanggung dosanya.

“Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba, dua orang saksinya, semuanya sama saja”. (HR Imam Muslim). 

Sering kita memandang buruk terhadap seseorang yang melakukan perbuatan zina, padahal ternyata riba yang sering disepelekan memiliki kadar dosa yang jauh lebih besar dari zina. Tentu azabnya juga akan lebih berat, di dunia maupun di akherat.

Seperti dalam Hadist Rasulullah SAW, “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui bahwa di dalamnya adalah hasil riba, dosanya itu lebih besar dari melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali”. (HR Ahmad).

Bahkan, Riba membuat siapapun yang melakukannya menjadi seseorang yang memiliki hati yang keras dan menjadi orang yang kufur. Hal tersebut akan membuat orang tersebut melakukan perbuatan perbuatan yang tercela lebih banyak lagi.

“Sekali kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS Al Muthaffifin : 14).

Lalu, Jika ada seseorang yang bekerja dengan sistem riba, maka jika harta tersebut diberikan kepada keluarga atau orang terdekatnya, maka harta tersebut tidak menimbulkan keberkahan, justru orang yang diberi tersebut akan ikut menanggung dosa atau siksa di akherat.

“Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka”. (HR At Tirmidzi).

Sahabat tahu ga? Amalan berupa sedekah atau memberi bantuan kepada seseorang yang membutuhkan yang hartanya didapatkan dari riba maka tidak akan diterima oleh Allah, Allah tidak menerima amal perbuatan yang berasal dari harta walaupun amalan tersebut dilakukan dengan keinginan dan niat yang baik. sehingg amal perbuatannya sia sia.

Semoga Allah SWT melindungi kita dan menjauhkan kita dari bahaya Riba. Aamiin yaa Robbal’alamiin. (hmz)

 

 

Sumber:

Ustad Lukmanul Hakim salah seorang dari pendiri dari Yayasan infaq Beras yang dikutip dalam kajiannya di pagelaran Halal Expo Indonesia (HEI) 2019 di ICE, BSD Tangerang pada 6-8 Desember 2019.


Back to Top