Kajian Ustadz Adi Hidayat: Kenali Tiga Unsur Penting Kehidupan Manusia

gomuslim.co.id – Secara umum, manusia sejatinya terdiri dari tiga unsur yang saling berkaitan. Tiga unsur tersebut adalah fisik, akal dan ruh. Sesuatu tidak dapat dikatakan sebagai manusia jika tidak mememuhi ketiga unsur tersebut.

Demikian simpulan dari kajian Ustadz Adi Hidayat dalam acara Halal Indonesia Expo (HEI) 2019 di ICE BSD, Ahad (08/12). Dalam pemaparannya, Ustadz Adi menyebutkan hal yang tampak adalah fisik. Sementara ruh, Allah tiupkan pada setiap manusia ketika berusia 4 bulan kandungan. Adapun akal, itu yang mengikat antara fungsi fisik dengan ruh.

“Fisik bisa bergerak hidup kalau ada ruh. Dan ruh inilah yang menggerakan aktivitas manusia. Ruh asalnya dari mana? Hanya Allah yang tahu. Manusia hanya sedikit mengetahui tentang ruh. Ini sebagaimana dalam Alquran Surat Al-Isra (17) ayat 85,” paparnya.

Lebih lanjut, Ustadz Adi menjelaskan bahwa ketiga komponen tersebut, semuanya membutuhkan asupan, energi, dan makanan untuk bisa menggerakan fungsinya. Karena kalau tidak, unsur tersebut bisa melemah bahkan seketika bisa saja tidak berfungsi.

“Kebutuhan fisik nampak pada makanan. Karena fisik itu sifatnya materi, maka makanan pun sifatnya fisikal. Sepanjang makanan sehat dan bersih yang masuk ke dalam tubuhnya, maka dia sehat. Kedua, akal juga butuh asupan nutrisi dan makanan. Kalau tidak, akal ini bisa tumpul. Lihat Alquran Surat Albaqarah (2) ayat 31,” jelasnya.   

Akal, sambung Ustadz Adi, kalau tidak difungsikan akan melemah. Karena ada bagian sel yang hilang dari otak. Asupan untuk akal itu adalah proses berpikir seperti membaca, belajar, mengkaji, meneliti, dan semua yang menyangkut pengetahuan.

“Syarat pintar itu belajar. Tapi iman memberikan keberkahan dalam belajar. Dengan iman, ilmu akan semakin terarah. Fisik bisa lumpuh, tapi akal masih bisa berfungsi. Akal sakit, fisik masih bisa berjalan/berfungsi. Namun, Kalau ruh sakit, akal dan fisik juga pasti akan sakit,” katanya.

Menurut Ustadz Adi, hanya ada dua cara memenuhi kebutuhan ruh. Asupan makanan yang halal lagi baik (tayyib) dan ibadah kepada Allah.

Halal, sambungnya, adalah spesifikasi pertama bagi nutrisi yang dibutuhkan ruh. Setiap makanan fisik, harus punya unsur yang memenuhi syarat halal baik dari sisi makanan, minuman, atau pekerjaan. Semua itu, dampaknya akan berpengaruh pada ruh.

"Kalau seseorang bekerja dengan cara halal, maka ruh akan sehat. Tapi, kalau seseorang memakan makanan haram, fisiknya mungkin sehat tapi ruhnya bisa sakit. Alasan kenapa Allah mewajibkan untuk mengonsumsi yang halal adalah karena Allah sayang kita,” tuturnya.

Ketika ruh sakit, dampaknya ke fisik tidak akan terbimbing dengan baik. Orang-orang yang makan makanan haram seperti riba, selama hidupnya tidak akan tenang seperti orang kerasukan setan. Tidak akan pernah merasa cukup.

Ustadz Adi menuturkan, pentingnya mengonsumsi halal untuk memberikan dampak yang baik pada ruh. Makanan ruh pada dasarnya adalah segala yang dikonsumsi secara fisik tapi sifatnya harus halal.

“Orang yang biasa makanan haram, hasil haram maka peluang doa-doanya sulit dijawab oleh Allah. Maka dari itu cek kedalam diri, apakah ada sesuatu yang haram dalam tubuhnya. Ketahui yang haram, maka sisanya halal semua,” katanya.

Selain makanan perangkat halal dalam tubuh, makanan ruh yang kedua adalah ibadah. Seperti ibadah salat, membaca Alquran, sedekah, infak, puasa, dan lainnya. Maka dari itu, ketika seorang muslim diminta ibadah, sebetulnya itu untuk memberi makanan pada ruh agar hidup lebih tenang dan meraih kesuksesan.

“Semua ibadah yang dikerjakan namanya dzikir. Salat itu dzikir, baca Alquran itu dzikir. Doa itu dzikir, doa setelah salat itu dzikir. Kenapa mesti dzikir, manfaatnya memberikan ketenangan dalam hati. Di hati ini tempatnya ruh. Ruh tempatnya di qolbun (hati). Ruh gak makan, maka fisik gak tenang. Makanan ruh itu ibadah. Ketika kita salat, maka ruh cenderung tenang,” paparnya.

Selanjutnya, ketika seseorang muslim menghadapi masalah, yang dianjurkan adalah mengambil wudhu lalu laksanakan salat dan membaca Alquran. Hal itu akan memberikan ketenangan.

“Kalau gelisah, jangan cari makan. Tapi perbanyaklah ibadah. Kalau sakit, semua gak akan enak termasuk makan. Karena itulah kita diperintah salat. Allah sebenarnya gak butuh salat kita. Tapi kitalah yang butuh salat,” jelasnya.

Dengan demikian, setiap muslim sangat penting untuk mengetahui segala yang halal, baik dari sisi makanan, minuman, pakaian, pekerjaan dan lainnya. “Mulai dari hari ini, ayo keluarkan dan jauhkan hal-hal yang haram. Manusia itu lahirnya suci, masa pulangnya kotor. Malu kita sama Allah. Bukankan kita pun akan malu ketika pulang ke rumah dalam keadaan kotor?,” tandasnya. (jms)

 

Wallahu’alam Bishawab

 

 

Baca juga:

Ini Perbedaan Mendasar Ibadah Haji dan Umrah


Back to Top