Kamu Harus Tahu, Ini Enam Hikmah Turunnya Hujan 

gomuslim.co.id - "Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam." (QS Qaaf [50]: 9).

Allah menurunkan karunia hujan dengan hikmah-Nya. Dalam hadist riwayat Hakim, Rasulullah SAW dan para sahabat selalu menyambut hujan dengan sukacita. Ketika hujan turun juga menjadi salah satu momen dikabulkannya doa.

Hujan adalah air yang turun dari udara. Di bumi, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses yang mungkin terjadi bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang hujan, yaitu pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara.

Hujan itu karunia Allah SWT. Dalam Alquran, benar-benar ditegaskan bahwa Allah SWT yang menurunkan hujan. Hujan adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT.

Firman Allah SWT, "Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan." (QS al-An'aam [6]: 99).

Sahabat gomuslim, Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat diperlukan oleh seluruh makhluk. Dengan mengirim hujan-lah, Allah menyuburkan tanaman-tanaman yang dibutuhkan manusia dan semua mahkluk yang hidup di bumi, menumbukan pepohonan dan buah-buahan dan biji tanaman yang dibutuhkan manusia.

Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura [41] : 28).

Cukup banyak ayat dalam Alquran yang bicara tentang fenomena turunnya hujan. Pada surah Ar-Rad ayat 12 di jelaskan, “Dialah Rob yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.”

Kemudian, setelah mendung, lanjut ke proses diturunkannya air hujan, seperti yang dijelaskan dalam Surah al-Qamar ayat 11, “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.”.

Sewaktu menurunkan hujan, pastinya Allah Maha Adil. Dimana pun manusia berada, akan mendapat gilirannya. Akan tetapi, manusia justru tidak sedikit yang mengingkarinya, seperti dalam Surat Al-furqan ayat 50.

“Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).

Oleh karena pengingkaran manusia yang tidak mengambil pelajaran dari nikmat yang telah Allah berikan, yang mengakibatkan Allah menegurnya dengan cara menurunkan hujan yang berlebih hingga banjir. Akan tetapi, janganlah menyalahkan Alam atau bahkan menyalahkan Allah SWT. Allah meminta manusia intropeksi diri untuk terus mensyukuri nikmat yang ditelah di berikan-Nya.

Yang dimaksud keberkahan di sini adalah turunnya hujan, lebih banyak melahirkan kebaikan (manfaat), daripada mudharatnya (keburukan).

Sahabat, hadirnya musibah dan banjir, seharusnya membuat kita berintropeksi diri karena banyaknya tangan-tangan jahil manusialah telah memporakporandakan alam dan ekosistem menjadi tidak serasi.

Hutan-hutan yang seharusnya menjadi penahan air, tiba-tiba sudah ditumbuhi beton-beton. Gunung, bukit sudah berubah menjadi perumahan mewah, villa (yang sesungguhnya juga jarang dihuni), karena pemiliknya hanya menempati setahun sekali untuk bersenang-senang.

Perilaku buruk manusia dalam pembangunan yang lebih mementingkan dirinya sendiri tidak melihat dampak-dampak lain menyebakan datangnya hujan seharusnya jadi berkah justru menjadi musibah.

Datangnya hujan ibarat datangnya harta pada kita. Bila sebelumnya kita tak memiliki uang tiba-tiba dalam sekejab diberi kekayaan berlimpah-ruah, maka harta yang kita miliki bisa jadi musibah jika tidak kita control dan kita kelola dengan baik. Memiliki harta dan kekayaan belum tentu berkah, bahkan bisa jadi musibah bagi anak, istri atau kita sendiri. Sama seperti hujan yang tidak kita kelola.

Karena itu, manusia diminta untuk melindungi alam guna menjaga keadaan dan ekosistem yang ada. Sahabat gomuslim, berikut adalah hikmah keberkahan atas diturunkannya hujan oleh Allah SWT.

1. Wujud nyata dari rahmat Allah untuk seluruh makhluk

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura: 28).

2. Rizki bagi seluruh makhluk

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan di langit terdapat rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz Dzariyat: 22).

Yang dimaksud dengan rizki di sini adalah hujan sebagaimana pendapat Abu Sholih dari Ibnu ‘Abbas, Laits dari Mujahid dan mayoritas ulama pakar tafsir. Ath Thobari mengatakan, “Di langit itu diturunkannya hujan dan salju, di mana dengan sebab keduanya keluarlah berbagai rizki, kebutuhan, makanan dan selainnya dari dalam bumi.”

3. Pertolongan Allah

Allah Ta’ala berfirman,

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).” (QS. Al Anfal: 11)

4. Sebagai alat untuk bersuci hamba-hamba Allah

Allah Ta’ala berfirman,

“dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu” (QS. Al Anfal: 11).

5. Permisalan akan kekuasaan Allah menghidupkan kembali makhluk kelak pada hari kiamat

Hal ini dapat kita saksikan dalam beberapa ayat berikut ini.

“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). ” (QS. An Nahl: 65)

Kemudian,

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al A’rof: 57)

6. Adzab atas para pelaku maksiat

Hal ini dapat kita lihat pada firman Allah Ta’ala tentang adzab pada kaum Nuh,

“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 44)

Allah Ta’ala juga menceritakan mengenai kaum ‘Aad,

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS. Al Ahqaf: 24-25)

Sahabat, dari penjelasan di atas, dalam Al Qur’an jelas menegaskan bahwa Hujan adalah keberkahan dan nikmat untuk manusia. Yang menjadikan hujan menjadi teguran sehingga menyebabkan banjir adalah dari ulah manusia sendiri. Semoga ini menjadi pembelajaran kita untuk dapat lebih menjaga alam dan mensyukuri Nikmat yang telah Allah berikan. Wallahualam Bissawab. (hmz)

Sumber:

Panduan Amal Shalih di Musim Hujan (2013), Karya Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. Penerbit Pustaka Muslim.

Tafsir Ath Thobari, 21/520, 11/61-62, Tafsir Al Kasysyaf wal Bayan, 6/17, dan Bhulughul Maram HR. Bukhari no. 4829 dan Muslim no. 899.


Back to Top