Ini Syarat Wanita Boleh Berkarir dalam Islam

gomuslim.co.id - Bagi sebagian orang, wanita berkarir menjadi polemik tersendiri. Beberapa orang menyebut bahwa wanita haruslah sesuai kodratnya untuk diam di rumah. Namun, sebagian lain mengatakan bahwa sah saja jika wanita ingin berkarir dan bekerja. Apalagi, kebutuhan manusia dewasa ini sangatlah tinggi.

Banyak wanita yang akhirnya terpaksa bekerja dengan tujuan memenuhi kebutuhan keluarga. Para wanita memutuskan untuk membantu suami memenuhi berbagai keinginan dan juga kebutuhan sehari-hari. Padahal, kewajiban menafkahi keluarga sejatinya ada di tangan suami. 

Wanita Karir Dalam Islam

Dalam pandangan hukum Islam, wanita nyatanya berhak memiliki harta sendiri dan bisa membelanjakan berbagai kebutuhan yang ada. Harus ditegaskan bahwa sebenarnya Islam memandang wanita karena tugas dan perannya sebagai ibu serta istri. Selain itu, tugas ini sangatlah mulia dan tentu saja tidak bisa sembarangan orang bisa melakukan pekerjaan ini.

Wanita yang hebat pasti akan menunjukan bahwa mereka dapat bekerja dengan maksimal. Namun begitu, wanita juga memiliki kewajiban untuk bisa membantu suami dan rumah tangganya dengan baik. Terutama anak-anak yang merupakan amanah dari Allah yang harus dididik dengan baik.

Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:

 وَٱلْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ 

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 233

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguh nya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahl al-bayt, dan mem bersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.s. al-Ahzâb [33]: 33

Kita bisa menelisik berbagai catatan sejarah yang ada dan juga rumusan fikih perempuan yang tertulis dalam kitab fikih klasik. Walaupun pada zaman dahulu, ada juga perempuan-perempuan yang memiliki peran penting di masyarakat seperti Sayyidah Khadijah. Namun hal ini tidak sampai menggejala sampai menjadi mindset para perempuan secara umum seperti fenomena yang terjadi di dunia modern saat ini.

Islam sama sekali tidak melarang para perempuan untuk mengais rezeki lewat karir pekerjaannya selama dalam proses pekerjaan tersebut mereka tetap berlandaskan ketentuan syariat Islam. Misalnya sudah diizinkan bekerja oleh suaminya, pergi bekerja dengan perempuan yang dapat dipercaya, aman dari berbagai fitnah, menutup aurat dan berbagai ketentuan lain yang wajib dilakukan bagi perempuan saat pergi keluar rumah.

Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Syekh Khalid Abdurrahman al-‘Ak:

ليس في الإسلام ما يمنع المرأة أن تكون تاجرة أو طبيبة أو مدرسة أو محرفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو إلى ذلك وما دامت تختار لنفسها الأوساط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التي أسلفنا بعضها.

“Islam sama sekali tidak mencegah seorang perempuan menjadi saudagar, dokter, pengajar atau berbagai pekerjaan lain yang dapat menghasilkan rizki, selama segala pekerjaan diatas memang merupakan hal yang harus ia laksanakan (demi memenuhi kebutuhan hidup) dan juga selama ia memilih jalan tengah yang utama dan senantiasa menetapi hal-hal yang membuatnya menjadi terjaga seperti penjelasan yang lalu telah disampaikan” (Syekh Khalid Abdurrahman Al-‘Ak, Adab al-Hayat az-Zaujiyah fi Dhow’i al-Kitab wa as-Sunnah, Hal. 163)

Segala ketentuan di atas, sejatinya merupakan wujud penghormatan syara’ terhadap harga diri seorang perempuan. Meski Islam tidak melarang perempuan untuk berkarir, namun Islam lebih menyarankan agar para perempuan lebih mengutamakan untuk mendidik putra-putrinya (Al-Madrasah Al-Ula). Walaupun hal ini sebenarnya bisa dilakukan sambil berkarir. Asalkan jangan sampai meninggalkan kewajibannya untuk menjadi pendidik utama bagi putra-putrinya, juga berbakti kepada suaminya.

Namun, ketika seorang perempuan memiliki peran penting bagi masyarakat secara umum, seperti di dunia birokrasi, perusahaan dan sebagainya, maka yang lebih dianjurkan bagi perempuan adalah terus menggeluti bidangnya demi menciptakan kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik. Sebab, Khoirunnas anfa’uhum li an-Nas (manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain).

Aturan Wanita Bekerja di Luar Rumah

Dalam Islam ada beberapa hal yang dapat membantu para wanita jika ingin berkarir agar aman dan berkarir di luar rumah. Berikut beberapa syarat yang bisa kamu (perempuan) lakukan:

1. Izin dari Wali

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mendapatkan wali. Wali yang dimaksud bisa kerabat seorang wanita yang mencakup sisi nasabiyah (garis keturunan, seperti dalam An Nuur:31), sisi sababiyah (tali pernikahan, yaitu suami), sisi ulul arham (kerabat jauh, yaitu saudara laki-laki seibu dan paman kandung dari pihak ibu serta keturunan laki-laki dari keduanya), dan sisi pemimpin (yaitu hakim dalam pernikahan atau yang mempunyai wewenang seperti hakim). Jika wanita tersebut sudah menikah, maka harus mendapat izin dari suaminya.

2. Berpakaian secara Syar’i

Selanjutnya syarat yang harus anda penuhi adalah pakaian syar’i. Pakaian ini merupakan salah satu hal yang bisa digunakan dan bisa dijadikan izin untuk kamu yang ingin bekerja dan keluar dari rumah. Hindari pakaian transparan, ketat dan warna yang terlalu mencolok.

3. Menghindari Bercampur dengan Pria

Adapun jika seorang wanita bekerja diluar rumah, ia disarankan untuk menghindari tempat dimana pria dan wanita berbaur. Hal ini bertujuan untuk menjaga wanita dari fitnah. Wanita yang bekerja di luar rumah rentan mengalami godaan dan dapat menyebabkan perselingkuhan dalam rumah tangga.

4. Pekerjaannya tidak menjadi pemimpin bagi kaum lelaki.

Ulama Abd al-Rabb menjelaskan bahwa wanita tidak boleh menjadi pemimpin tertinggi dalam suatu kaum seperti halnya menjadi pemimpin negara atau masyarakat sesuai hakikat bahwa pria semestinya memimpin wanita dan bukan sebaliknya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas seba-hagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menaf-kahkan sebagian dari harta mereka”. (Q.S An Nisa ayat 34)

5. Tetap menjalankan kewajibannya di rumah

Menjadi wanita karir memang tidak dilarang, akan tetapi ia tidak boleh melalaikan tugasnya sebagai seorang isteri atau ibu untuk mengurus rumah tangga atau keluarganya serta mendidik anak-anaknya. Wanita selayaknya memberikan perhatian dan waktu yang cukup pada keluarganya meskipun ia bekerja di luar rumah. (Mr)


Back to Top