Begini Hukum Tidak Salat Jumat Ketika Terjadi Wabah Menular Seperti COVID-19

gomuslim.co.idSalat Jumat adalah salat yang dilakukan dengan berjamaah bersama di waktu siang hari (dzuhur), namun pelaksanaannya berbeda dengan salat dzuhur. Jika salat dzuhur ini berjumlah empat rakaat, salat Jumat mempunyai jumlah dua rakaat, yang sebelum pelaksanaannya didahului dengan dua khutbah terlebih dahulu.

Salat Jumat telah disyariatkan di dalam Alquran, As-Sunnah dan atas dasar ijma' seluruh umat Islam. Para ulama telah berijma' bahwa siapa yang mengingkari kewajiban salat jumat, maka dia kafir karena mengingkari Alquran dan As-Sunnah.

Di dalam Alquran, pensyariatan salat Jumat disebutkan di dalam sebuah surat khusus yang dinamakan dengan surat Al-Jumu'ah. Disana Allah SWT telah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan shalat Jumat sebagai bagian dari kewajiban dan fardhu 'ain atas tiap-tiap muslim yang memenuhi syarat.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Di dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan umat Islam apabila dipanggil untuk mengerjakan shalat di hari Jumat, untuk segera berjalan mendatangi masjid dan berdzikir kepada-Nya. 

Ada banyak hadits nabawi yang menegaskan kewajiban shalat jumat. Diantaranya adalah hadits berikut ini :

“Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang, yaitu budak, wanita, anak kecil dan orang sakit." (HR. Abu Daud)

“Dari Abi Al-Ja'd Adh-dhamiri radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah akan menutup hatinya." (HR. Abu Daud, Tirmizy, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)

“Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata bahwa mereka mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar,"Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lupa".(HR. Muslim, An-Nasai dan Ahmad)

Berdasarkan riwayat di atas, meninggalkan salat Jumat termasuk ke dalam dosa besar. Al-Hafidz Abu AlFadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh dalam kitabnya Ikmalul Mu’lim Bifawaidi Muslim berkata:  

“Ini menjadi hujjah yang jelas akan kewajiban pelaksanaan salat Jum’at dan merupakan ibadah Fardhu, karena siksaan, ancamam, penutupan dan penguncian hati itu ditujukan bagi dosa-dosa besar (yang dilakukan), sedang yang dimaksud dengan menutupi di sini adalah menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan hidayah sehingga tidak bisa mengetahu mana yang baik dan mana yang munkar”.

Di antara dalil-dalil yang dijadikan sandaran atas hal ini adalah hadits-hadits berikut ini :

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajiblah atas mereka shalat Jumat, kecuali orang sakit, musafir, wanita, anak-anak dan hamba sahaya”. (HR. Ad-Daruqutny)

“Dari Thariq bin Syihab radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas empat orang, yaitu budak, wanita, anak-anak dan orang sakit." (HR. Abu Daud)

Lantas, dalam kondisi seperti saja yang dibolehkan tidak melaksanakan salat Jumat?

Kewajiban salat Jumat berlaku untuk sebagian dari umat Islam. Sebagian lagi tidak diwajibkan, yaitu para wanita, orang sakit, anak-anak, musafir, budak.

Salat Jumat wajib hukumnya bagi muslim yang masuk kategori al-Iqamah (اﻹﻗﺎﻣﺔ). Makna al Iqamah maksudnya adalah berdiam, bermukim atau bertempat tinggal, sebagai lawan dari musafir.

Maka yang diwajibkan untuk salat Jumat terbatas pada mereka yang statusnya mukim dan bukan musafir. Salat Jumat tidak wajibkan atas musafir yang sedang dalam perjalanan. Kalau dikatakan tidak diwajibkan maksudnya musafir tidak harus salat Jumat.

Tetapi bila dalam perjalanan kemudian musafir ikut dalam sebuah salat Jumat, hukumnya sah dan tidak perlu mengerjakan salat dzhuhur. Batasan musafir adalah orang yang keluar dari negeri atau wilayah tempat tinggalnya, dengan tujuan tertentu yang pasti dan minimal berjarak 4 burud, atau kurang lebih 89 km.

Dasar ketentuan minimal empat burud ini adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai penduduk Mekkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 burud, dari Mekkah ke Usfan". (HR. AdDaruquthuny).

Bagaimana dengan kondisi wabah menular seperti COVID-19 seperti sekarang? Apakah tetap harus melakukan salat Jumat?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh menjelaskan berdasarkan udzhur syar'i atau segala halangan sesuai kaidah syari'at Islam yang menyebabkan seseorang boleh untuk tidak melakukan kewajiban atau boleh menggantikan kewajiban itu dengan kewajiban lain.

Menurut pandangan para ulama fiqih (ilmu hukum agama), udzhur syar'i untuk tidak salat Jumat antara lain karena sakit atau karena khawatir mendapatkan sakit. Nah, dalam kondisi ketika berkumpul dan berkerumun itu diduga kuat akan terkena wabah atau menularkan penyakit, maka itu menjadi udzhur untuk tidak Jumatan (salat Jumat). 

Akan tetapi, ia menegaskan, apabila laki-laki muslim yang meninggalkan salat Jumat karena meremehkan atau mengingkari kewajiban Jumat tiga kali berturut-turut, sebagaimana dinukil dari hadits shahih, maka dia bisa dikategorikan kafir. 

Secara ringkas, MUI dalam fatwanya nomor 14 tahun 2020 menetapkan sebagai berikut:

Pertama: Jika berada di suatu kawasan yang potensi penularan tinggi atau sangat tinggi, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia boleh meninggalkan shalat Jumat dan menggantikannya dengan shalat Zhuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu, tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.

Kedua: Jika berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun. (hmz)

Sumber:

- Hukum-Hukum Terkait Ibadah Shalat Jumat, Judul Shalat Jumat, Cetakan (2/9/2018), Penulis Ahmad Sarwat, Lc., MA, Penerbit Rumah FIqih Publishing.

- Konfrensi Pers Majelis Ulama Indonesia (MUI)


Back to Top