Wisata Halal Jawa Timur (2)

Berwisata Religi ke Masjid Tertua di Pulau Madura

gomuslim.co.id- Provinsi Jawa Timur tak hanya terkenal dengan panorama alam yang indah di beberapa destiansi wisatanya, tapi juga dengan berbagai pilihan destinasi wisata lain, seperti wisata religi. Banyak tempat di Jawa Timur yang patut dikunjungi untuk sekadar berwisata religi sambil menambah pengetahuan terkait sejarah Islam Indonesia di Provinsi dengan wilayah terluas dari 6 Provinsi lain di Pulau Jawa ini.

Salah satu wisata religi yang patut wisatawan kunjungi saat bertandang ke Jawa Timur adalah Masjid Agung Sumenep, Madura. Selain Masjid Tiban (baca juga: Masjid Tiban: Buah Keikhlasan yang Jadi 1000 Pintu Kebaikan), Masjid Agung Sumenep tak kalah indah dan bersejarah terkait Islam di Pulau Madura.  Masjid Agung Sumenep adalah masjid yang berada di Sumenep, Madura menghadap alun-alun Kota Sumenep.

Sejarah Pembangunan

Masjid jamik Panembahan Somala atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Jamik Sumenep merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Masjid Jamik Sumenep saat ini telah menjadi salah satu landmark di Pulau Madura. Dibangun Pada pemerintahan Panembahan Somala, Penguasa Negeri Sungenep XXXI, dibangun setelah pembangunan Kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango.

Menurut catatan sejarah Sumenep, Pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan pendukung Karaton, yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga Karaton dan Masyarakat, masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun oleh keluarga keraton, di mana sebelumnya kompleks masjid berada tepat di belakang keraton yang lebih dikenal dengan nama Masjid laju yang dibangun oleh Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI.

Desain Arsitektur Representasi Beragam Etnis

Arsitektur bangunan masjid sendiri, secara garis besar banyak dipengaruhi unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa, dan Madura, salah satunya pada pintu gerbang pintu masuk utama masjid yang corak arsitekturnya bernuansa kebudayaan Tiongkok. Untuk Bangunan utama masjid secara keseluruhan terpengaruh budaya Jawa pada bagian atapnya dan budaya Madura pada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid, sedangkan interior masjid lebih cenderung bernuansa kebudayaan Tiongkok pada bagian mihrab.

Masjid ini juga dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya terpengaruh kebudayaan Portugis, minaretnya mempunyai tinggi 50 meter terdapat di sebelah barat masjid, dibangun pada pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria Pratingkusuma. Di kanan dan kiri pagar utama yang masif juga terdapat bangunan berbentuk kubah. Pada Masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Aria Prabuwinata pagar utama yang cenderung masif dan tertutup, di mana semula dimaksudkan untuk menjaga ketenangan jema'ah dalam menjalankan ibadah diubah total berganti pagar besi.

Ukiran jawa dalam pengaruh berbagai budaya menghiasai 10 jendela dan 9 pintu besarnya. Bila diperhatikan ukiran di pintu utama masjid ini dipengaruhi budaya China, dengan penggunaan warna warna cerah. Disamping pintu depan mesjid sumenep terdapat jam duduk ukuran besar bermerk Jonghans, di atas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara arab dan jawa.

Di dalam mesjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang mengartikan rukun solat. Bagian luar terdapat 20 pilar. Dan 2 tempat khotbah yang begitu indah dan di atas tempat Khotbah tersebut terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Awalnya pedang tersebut terdapat 2 buah namun salah satunya hilang dan tidak pernah kembali.

Selain itu, Masjid Agung Sumenep dan sekelilingnya memakai pagar tembok dengan pintu gerbang berbentuk gapura. Pintu Masjid Jamik berebentuk gapura asal kata dari bahasa arab "ghafura" yang artinya tempat pengampunan". Gapura ini syarat akan ornamen yang mempunyai banyak filosofi sebagai salah satu harapan dari sang Panembahan kepada rakyatnya ketika menjalankan ibadah.

Akses Menuju Masjid

Letak Masjid ini yang berada tepat ditengah kota Sumenep sangat memudahkan bagi wisatawan yang ingin datang ke Masjid  untuk bisa melihat langsung keindahan masjid tertua di Pulau Madura ini. Sangat mudah untuk menemukan lokasi dari Masjid Jamik Sumenep ini, selain di sepanjang jalan Anda melihat petunjuk arah, angkutan umum yang beroperasi di kota Sumenep ini juga melewati lokasi Masjid Jamik Sumenep ini, apalagi letaknya yang berhadapan langsung dengan Taman Adipura Sumenep yang menjadi Landmark -nya kabupaten Sumenep ini.

Bagi wisatawan yang berasal dari luar pulau Madura bisa menggunakan angkutan umum untuk bisa sampai ke Sumenep seperti bus Patas maupun Akas. Dari terminal Bungurasih menuju Sumenep tarif bus berkisar Rp. 70.000 dengan 5 jam perjalanan darat melewati Jembatan Suramadu, sampai akhirnya tiba di terminal Arya Wiraraja Sumenep.

Setelah itu, Anda bisa kembali melanjutkan perjalanan menuju Masjid Jamik Sumenep yang berada di tengah kota dengan angkutan umum, becak ataupun ojek. Tarif yang dipatok tergantung jauhnya jarak tempuh yang akan dilalui. Karena itu, wisatawan disarankan untuk pintar-pintar menawar harga, perkiraan tarif yang biasa disana sekitar Rp. 10.000 untuk becak ojek menuju masjid. (fau/pulaumadura/dbs/foto: ayomaju)

 

 


Back to Top