Wisata Halal Kota Palembang (4)

Berkunjung ke Sentra Kerajinan Songket Khas Palembang

gomuslim.co.id- Bagi kamu yang punya rencana akan berlibur ke Kota Palembang, jangan lupa untuk mampir ke sentra kerajinan songket Tanggo Buntung. Sentra kerajinan songket di kawasan ini telah berlangsung sejak sekitar abad XVIII. Pada kawasan ini, kamu bisa menemukan hasil kerajinan songket khas Palembang dengan nilai seni serta kualitas yang tinggi.

Beberapa galeri songket terkenal di kawasan Tanggo Buntung antara lain Zainal Songket, Cek Ipah, Cek Ilah, Fikri Collection, dan lain-lain. Sebagian besar para pengrajin songket masih memiliki hubungan keluarga dimana ilmu menenun songket diturunkan secara turun temurun. Setiap toko tidak hanya menyediakan kain songket dengan aneka motif, namun juga terdapat jumputan, batik songket atau batik Palembang, cinderamata khas Palembang, dan lain-lain.

Dari sisi produksi, sentra songket 30-32 Ilir Palembang itu bukan pusat terbesar perajin songket. Pusat perajin tenun songket sendiri terletak di desa-desa, salah satunya di Kabupaten Ogan Ilir, yang jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dari Palembang. Namun, ibarat etalase, perannya cukup penting untuk menawarkan songket dan menjadi tujuan yang pertama kali disasar wisatawan dan para pencari songket. Sentra tenun songket 30-32 Ilir Palembang itu juga berperan sebagai pusat pengembangan dan inovasi songket.

Sejarah Songket

Pada masa lalu, songket adalah kain mewah yang hanya bisa dipakai oleh para bangsawan Palembang. Penggunaan kain ini menunjukkan sebuah kemuliaan, derajat, serta martabat dari setiap pemakainya. Namun, saat ini hampir semua golongan masyarakat bisa memilikinya, karena harga kain songket sangat bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.

Penenunan songket secara sejarah dikaitkan dengan kawasan permukiman dan budaya Melayu, dan menurut sementara orang teknik ini diperkenalkan oleh pedagang India atau Arab. Menurut hikayat rakyat Palembang, asal mula kain songket adalah dari perdagangan zaman dahulu di antara Tiongkok dan India. Orang Tionghoa menyediakan benang sutera sedangkan orang India menyumbang benang emas dan perak; maka, jadilah songket. Kain songket ditenun pada alat tenun bingkai Melayu. Pola-pola rumit diciptakan dengan memperkenalkan benang-benang emas atau perak ekstra dengan penggunaan sehelai jarum leper.

Dokumentasi mengenai asal usul songket masih tidak jelas, kemungkinan tenun songket mencapai semenanjung Malaya melalui perkawinan atau persekutuan antar bangsawan Melayu, karena songket yang berharga kerap kali dijadikan maskawin atau hantaran dalam suatu perkawinan. Praktik seperti ini lazim dilakukan oleh negeri-negeri Melayu untuk mengikat persekutuan strategis. Pusat kerajinan songket terletak di kerajaan yang secara politik penting karena bahan pembuatannya yang mahal; benang emas sejatinya memang terbuat dari lembaran emas murni asli. Songket sebagai busana diraja juga disebutkan dalam naskah Abdullah bin Abdul Kadir pada tahun 1849.

Kekhasan Songket Palembang

Saat ini, jumlah motif kain songket Palembangkurang lebih 71 buah. Dari sejumlah motif tersebut, ada 22 motif yang telah dipatenkan. Adapun beberapa nama motif yang terdapat pada kain songket antara lain bungo pacik, bintang berante, nampan perak, bungo cino, bungo jepang, jando beraes, tigo negeri, biji pare, dan lain-lain.

Adapun, motif dasar kain songket secara umum terbagi menjadi tiga bagian yaitu motif tumbuhan seperti aneka bunga, motif geometris, dan yang terakhir adalah gabungan antara motif geometris dan tumbuhan. Ketiga motif dasar kain songket ini merupakan warisan masa lalu yang tetap dipertahankan hingga sekarang.

Harga dari hasil kerajinan tenun khas Palembang ini memang cukup mahal. Hal ini tidak terlepas dari bahan yang digunakan, lamanya proses pembuatan selembar kain songket, dan nilai seni yang terkandung di dalamnya. Pancaran atau kilauan dari kain songket Palembang dikarenakan benang-benang emas yang tertanam di dalamnya. Proses untuk membuat sebuah kain songket berkualitas baik membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan. Umumnya, harga termurah dari kain songket Palembang adalah Rp 750.000. Selain itu, semakin tua umur dari kain songket maka harganya juga akan semakin mahal.

Keindahan kain songket Palembang telah terkenal hingga ke mancanegara. Tidak hanya pembeli lokal, ada banyak pembeli dari luar daerah dan luar negeri yang sering membeli hasil kerajinan tenun khas Kota Palembang ini. Pada saat sedang diadakan event Internasional di Kota Palembang, sentra kerajinan songket Tanggo Buntung akan semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan dari mancanegara.

Transportasi Menuju ke Sentra Kerajinan Songket Palembang

Sentra Kerajinan Songket Tanggo Buntung berlokasi di Jalan Ki Rangga Wirasentika dan Jl. Ki Gede Ing Suro, Kel. 30 ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang. Untuk menuju ke tempat ini, wisatawan bisa menggunakan angkutan pribadi ataupun umum. Jika kamu ingin mencoba untuk naik angkutan umum, dari terminal Ampera pilihlah angkutan dengan jurusan Ampera--Tangga Buntung.

Apabila kamu memakai kendaraan pribadi, setelah tiba di Jalan Merdeka lanjutkan perjalanan menuju ke simpang empat Kambang Iwak, kemudian arahkan kendaraan ke kiri hingga bertemu dengan simpang tiga. Dari tempat ini, wisatawan bisa melihat sebuah gerbang yang bertuliskan sentra industri pengrajin songket.

Namun, jika wisatawan ingin bersantai tanpa harus bertanya ataupun melihat GPS, kamu dapat menggunakan jasa taksi atau menyewa mobil plus sopir.  (fau/pergiwisata/palembangtourism/dbs/foto: wisataindonesia)


Back to Top