Wisata Halal Pontianak (1)

Jadi Ikon Destinasi Wisata Religi, Ini Tiga Masjid Bersejarah di Kalimantan Barat

gomuslim.co.id- Penyebaran ajaran Islam di Indonesia lekat dengan hubungan perdagangan. Terlebih kerajaan pada masa itu menjadi faktor utama berlangsungnya akulturasi yang memadukan unsur seni budaya dan agama Islam. Sehingga masyarakat mengenalnya dengan budaya Melayu karena lekat dengan perkembangan Islam yang kental. Terlihat dari arsitektur bangunan istana dan masjidnya.

Bicara soal tanah Melayu, Pontianak yang merupakan ibu kota dari Kalimantan Barat menyimpan kisah sejarah Islam yang tertuang pada bangunan dan arsitektur masjid peninggalan sultan dan raja pada masa lalu.

Untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah masjid di Kalimantan Barat, gomuslim telah berkunjung ke tiga masjid bersejarah yang ada di Kalimantan Barat:

1.      Masjid Jami’atul Khair

Masjid Jami’atul Khair merupakan salah satu masjid tertua di Kalimantan Barat, terletak di tepian sungai Mempawah, Kampung Pedalaman Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi masjid juga tidak jauh dari Istana Amantubillah yang merupakan Istana Kerajaan Mempawah.

Masjid ini dibangun pada 1906 oleh Panembahan Menpawah bernama Mohammad Atufik Akamaddin. Arsitektur masjid kental dengan nuansa Melayu Islam, terlihat dengan warna cat bangunan berwarna kuning dan hijau. Memiliki panjang kurang lebih 40 meter dan lebar 30 meter. Fondasi bangunan masjid menggunakan tongkat dari jenis kayu belian, demikian dengan dinding dan lantainya yang masih mempertahankan bentuk aslinya.

Kubah masjid menyerupai berbentuk tempayan kendi juga masih dipertahankan karena amanah dari Panembahan Mohammad Taufik Akamadin. Sampai sekarang masjid ini menjadi saksi perkembangan Islam di Mempawah.

2.      Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak

Berarsitektur melayu kuno, masjid ini merupakan masjid tertua di Kota Pontianak. Masih mempertahankan arsitektur dan pondasi alami tapa ada perombakan. Masjid Sultan Abdurrahman juga dikenal dengan namanya Masjid Jami Pontianak.

Berdiri sekitar tahun 1778. Masjid ini juga menjadi satu dari dua bangunan yang menjadi saksi berdirinya Kota Pontianak. Satu bangunan lainnya adalah Istana Kadriah yang tidak jauh dari masjid.

Kota Pontianak sendiri didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H). Hal ini ditandai dengan membuka lahan hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar. Pembukaan lahan ini dilakukan untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal.

Arsitektur masjid klasik Melayu, terdapat 6 tiang besar dan hampir 90 persen kontruksi masjid yang terbuat dari kayu belian. Atapnya yang semula terbuat dari rumbia, kini menggunakan sirap, potongan kayu belian berukuran tipis. Atap masjid ini memiliki tingkat empat, pada tingkat kedua, terdapat jendela-jendela kaca berukuran kecil. Sementara di bagian paling atas, atapnya mirip kuncup bunga atau stupa.

Uniknya, di dalamnya terdapat mimbar tempat khutbah yang sekilas mirip geladak kapal. Pada sisi kiri dan kanan mimbar terdapat kaligrafi yang ditulis pada kayu plafon.

Pada sisi kiri pintu masuk masjid, terdapat pasar ikan tradisional. Sementara di bagian belakang masjid merupakan permukiman padat penduduk Kampung Beting, kelurahan Dalam Bugis yang mayoritas penduduknya keturunan sultan atau yang diberi gelar Syarif dan Syarifah.

Pada bagian depan masjid, yang menghadap ke barat terbentang pemandangan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia.

Masjid yang mampu menampung sekitar 1500 jemaah ini ramai dikunjungi pengunjung yang hendak menjelajah situs bersejarah di Kota Pontianak.

3.      Masjid Raya Mujahidin Kalbar

Merupakan masjid raya yang termegah di Kalimantan Barat sehingga dikenal dengan landmark kota Khatulistiwa. Berlokasi di Jalan Jendral Ahmad, Kota Pontianak.

Memasuki bagian dalam masjid, terlihat arsitektur khas Kalimantan Barat dengan banyaknya tiang-tiang penyangga masjid. Memiliki bangunan dua lantai dengan luas bangunan sekitar 60 meter x 60 meter di atas lahan seluas sekitar 4 hektar. Bangunan masjid merupakan hasil renovasi pada tahun 2015. Bernuansa ornamen Arab dengan sentuhan arsitektur Masjid Nabawai.

Masjid yang mampu menampung sekitar 9 ribu jemaah ini ramai dikunjungi saat sholat taraweh, sholat ied, dan sholat Jumat. Selain itu, bangunan masjid juga sering dijadikan sebagai pusat kajian Islam oleh umat Islam di Pontianak. Dilengkapi pula dengan berbagai fasilitas publik seperti aula serbaguna untuk pertemuan atau pernikahan dan sekolah dari Yayasan Masjid Raya Mujahidin Kalbar. (nat)

 

 

 

 


Back to Top