Wisata Halal Pontianak (4)

Yuk! Berwisata Edukasi Berbasis Konservasi di Kota Galaherang

gomuslim.co.id- Dari arah perlintasan Pontianak-Singkawang hanya terlihat baliho besar yang bertuliskan Mempawah Mangrove Park (MMP) dan logo Bank Indonesia (BI). Jika dari arah Pontianak lokasinya persis di sisi kiri, tak jauh dari Taman Makam Pahlawan Putra Bangsa, Mempawah.

Memang tidak ada gerbang besar yang menandakan tempat itu, namun jika teliti, dari kejauhan sudah nampak umbul-umbul warna-warni yang menghiasi sepanjang jalan menuju gerbang masuk.

Setelah berjalan memasuki kawasan, barulah nampak papan selamat datang berukuran besar dan gerbang berbentuk matahari yang terbuat dari serat kayu. Di sekeliling mulai terlihat pohon kelapa dan jembatan warna-warni. Selamat datang di Mempawah Mangrove Park!

Harga tiket masuk untuk pengunjung umum sebesar Rp 5.000 yang dioperasionalkan untuk keperluan konservasi, sedangkan untuk pelajar dan peneliti tidak dipungut biaya masuk kawasan.

Sejak dibuka Agustus 2016 hingga Februari 2017, sudah ada 15.714 pengunjung yang berwisata ke MMP. Ada yang berkunjung untuk rekreasi atau sengaja ingin menanam mangrove.

Mempawah Mangrove Park mengusung konsep Edu Ecotourism, yakni perpaduan antara edukasi dan ekologi wisata, sehingga, tujuan konservasi melalui sisi pariwisata dapat dicapai. Luas area hutan mangrove di MMP sekitar 2 Ha, tempat ini mulai terbentuk kembali setelah Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokmaswas) merehabilitasi dari tahun 2011.

Menariknya, tak hanya ekosistem mangrove yang kembali lestari, berbagai fauna pun ikut kembali datang. Burung-burung semakin banyak, menjadikan kawasan wisata ini asyik untuk dikunjungi, melepas lelah dari hiruk pikuk suasana perkotaan.

Sosok di Balik MMP

Bicara soal Mempawah Mangrove Park, nama Raja Fajar Azansyah dikenal sebagai inisiator. Bersama sejumlah anggota kelompok masyarakat ia mengaggas konsep rehabilitasi dan gerakan konservasi dengan menanam mangrove di kawasan itu sejak tahun 2011. Barulah pada tanggal 23 Agustus 2016 kawasan ini resmi dibuka untuk pengunjung umum.

Misinya sederhana, MMP didirikan untuk mengubah pola pikir, terutama generasi muda terhadap lingkungan. Salah satu cara yang dilakukan, adalah terlibat langsung dalam aksi penanaman mangrove.

Ancaman Abrasi

Kabupaten Mempawah memilki garis pantai sepanjang 120 kilometer, namun mirisnya, seluruh kawasan pesisir rawan abrasi. Pulau Penimbung menjadi salah satu bukti abrasi terjadi di Mempawah. Sebelumnya, daratan Pulau Penimbung bersatu dengan daratan Mempawah, namun akibat aktivitas tambak, pulau itu terpisah sejauh 800 meter dari kawasan MMP.

Sama halnya dengan 20 tahun terakhir, pantai di Mempawah hilang 1,5 kilometer. Kini, dengan adanya aksi konservasi tersebut, pantai di Mempawah  mulai terselamatkan dan dikembalikan peruntukannya untuk konservasi mangrove.

Fasilitas di MMP

Keseriusan kelompok masyarakat di MMP terlihat dari adanya fasilitas penunjang wisata edukasi yang lengkap. Pengunjung dapat menikmati pemandangan menyusuri trekking mangrove sejauh 350 meter.

Ada pula fasilitas ramah anak, papan informasi dan edukasi tentang manfaat ekosistem mangrove, rumah baca sebagai tempat belajar, pendopo utama (berisikan informasi dan dokumentasi gerakan komunitas di MMP), menara pandang, toilet umum, mushola, sunset spot, dan area instagramable untuk berswa foto.

Keanekaragaman Flora dan Fauna MMP

Pesisir Kalimantan Barat memang dikelilingi oleh hutan mangrove yang berlimpah, mulai dari Kubu Raya yang memiliki perisai di sepanjang pantainya. Di Desa Pasir sendiri, tempat Mempawah Mangrove Park berlokasi, terdapat kurang lebih 10 jenis mangrove. Terdiri dari jenis Rhizopora sp, Bruguiera sp, Avicennia sp, Nypha fruiticans, Kandelia candel yang langka, dan jenis lainnya.

Berdasarkan penelitian CIFOR, hutan mangrove Indonesia memiliki kemampuan menyerap lima kali karbon lebih banyak per hektar dibanding hutan tropis dataran tinggi. Indonesia sendiri memilki luasan hutan mangrove 3,2 juta hektar. Namun, berdasarkan Organisasi Panga Dunia PBB, dalam tiga dekade terakhir, kerusakannya mencapai 40%.

Hal ini menjadi peringatan ancaman hilangnya hutan mangrove. Dengan adanya praktik konsep Ekowisata mangrove, hal ini dapat diminimalisir. Di MMP sendiri, komponen mangrove zona minor yang mendominasi adalah Avicennia sp, buahnya menyebar sepanjang tahun, membentuk kecambah baru sehingga tumbuhlah pohon-pohon baru secara alami.

Di dalam zonasi asosiasi atau pengikut, terdapat mangrove jenis Nypha fruiticans. Tanaman ini masuk dalam kategori palmae, buahnya memilki rasa menyerupai kelapa. Morfologi daunnya juga mirip dengan kelapa.

Sedangkan di perisai paling depan, pengelola kawasan mulai menanam Rhizopora mucronata, akar jangkarnya memiliki fungsi pencegah gelombang air, abrasi dan membentuk sedimentasi.

Bicara fauna, ada berbagai jenis burung yang dapat ditemui, serangga, reptil, kepiting, dan ikan. Salah satu ikan yang menjadi endemik hutan mangrove adalah ikan Gelodok (Mudskipper) atau orang lokal mengenalnya dengan Loncrot. Ikan ini hidup di lumpur, memiliki kemampuan loncat jarak jauh, bahkan sekilas terbang, dan mangrove menjadi habitat tempat hidupnya.

Hiburan di MMP

Setiap tahunnya, MMP memiliki perayaan satu tahunan, yakni perayaan hari jadi yang bertepatan pada bulan Agustus. Jika Anda berkunjung ke tempat ini di bulan agustus, akan ada banyak kegiatan edukasi dan hiburan yang seru.

Berbagai perlombaan yang melibatkan penduduk lokal menjadi hiburan yang menyenangkan.  

Tertarik mengunjungi MMP? perjalanan dari Pontianak memakan waktu 3 jam. Alternatif transportasi umum yang dapat dijangkau di antaranya bus antar kota Pontianak-Singkawang. Atau taxi yang dapat dipesan dari bandara Supadio, Pontianak.

Mari berwisata edukasi yang berbasis konservasi di Mempawah Mangrove Park. Selamat berkunjung! (nat)





Back to Top