Melihat Keindahan Hutan Mangrove dengan Perahu di Sungai Rindu

gomuslim.co.id - Wisata Mangrove, Sungai Rindu yang terletak di pertemuan Sungai Kaloran  dan Sungai Gentong, Kampung Sembilangan, Desa Hurip Jaya Babalen, kini menjelma menjadi destinasi wisata baru di utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar) yang terbilang sangat indah.

Terbilang baru, tapi mangrove Sungai Rindu, nama yang disematkan Ikatan Remaja Putra-Putri (IRTRA) setempat mampu menarik wisatawan lokal berkunjung saat liburan. IRTRA, berisikan anak muda kreatif yang sukses mempercantik kawasan Sungai Rindu dengan tujuan memajukan ekonomi kampung mereka.

“Pengunjung biasanya datang dari Jembatan Cinta di Paljaya Tarumajaya, berperahu melintasi pesisir dan konservasi mangrove lalu mampir di Sungai Rindu untuk sekadar istirahat, membeli makanan dan minuman atau ingin foto-foto di lokasi ini,” kata Zaid Al Ahmad (24), salah satu pengurus Sungai Rindu. Sabtu (05/01/2019).

Menurutnya, Sungai Rindu ini awalnya adalah gagasan pemuda-pemudi yang tergabung dalam Ikatan Remaja Putra-Putri (IRTRA) Sembilangan dibantu warga secara swadaya membuat saung-saung berteduh dan untuk warga berjualan sekitar bulan Mei 2018. Bak gayung bersambut, semakin hari semakin ramai pengunjung, makin banyak konsumen dari kalangan wisatawan yang datang, dan saat ini Sungai Rindu terlihat sangat Indah dan memiliki destinasi terbaik dan menarik.

Sementara itu, Mustana yang akrab disapa Kang Mus selaku anggota BPD Hurip Jaya yang juga pengurus di Sungai Rindu mengatakan, Sungai Rindu sebagai objek wisata terdekat dari Jembatan Cinta ini mulai mendatangkan wisatawan lokal berkat kerjasama dengan para pemilik perahu yang beroperasi di Jembatan Cinta yang membutuhkan destinasi saat mereka membawa penumpang berkeliling di kawasan konservasi mangrove pesisir Bekasi.

Potensi ekonomi dari kehadiran wisatawan ini disambut oleh warga sekitar dengan membuka lapak dagangan kuliner maupun souvenir. Kang Mus menjelaskan bahwa Sungai Rindu sudah menjadi alternatif pemasukan bagi warga Kampung Sembilangan di saat penghasilan dari tambak sedang lesu seperti saat ini di mana 1 kilo rumput laut Gracilaria kering dihargai Rp. 2.500.

Sebagai anggota BPD, dirinya juga mencoba menggagas peraturan desa (Perdes) dengan dukungan penuh Karang Taruna Hurip Jaya agar ekowisata Sungai Rindu memiliki sistem dan dasar legalitas yang pasti. Keinginan Kang Mus, membentuk kelompok sadar wisata untuk membesarkan ekowisata mangrove.

Saat ini, perkembangan ekonomi di pelosok Kampung Sembilangan mulai bergeliat dengan adanya destinasi ekowisata mangrove Sungai Rindu yang digagas oleh IRTRA Sembilangan dan tekad anak-anak muda sembilangan yang bergotong royong demi kemajuan ekonomi kampung mereka.

Salah satu pengemudi perahu mengaku dapat menarik perahu hingga lima kali saat sedang hari libur, dengan tarif 10 ribu pulang pergi dari Jembatan Cinta ke Sungai Rindu pulang pergi. Begitu pun penjual di salah satu saung di Sungai Rindu mengaku penghasilannya akan meningkat saat libur dan banyak wisatawan dari Jembatan Cinta yang datang. (hmz/foto:radarnonstop)


Back to Top