Hadirkan Muslim Fashion dengan Desain ‘Nyentrik’, Begini Kisah Perjalanan Karir Hannie Hananto

gomuslim.co.id- Garis-garis, polkadot, asimetris, bangun ruang, warna-warna playful, dan elemen-elemen pop up menghiasi busana Muslim di catwalk fashion show.

Ragam koleksi modest wear tersebut dengan mudah ditebak hasil goresan Hannie Hananto. Perempuan yang berprofesi sebagai desainer senior ini memiliki style fashionnya menonjol pada gambar, grafis, dan warna-warna ‘ngenjreng’ atau pop up.

Namun, siapa sangka, inovasi desain nyentrik ini justru menuai perhatian pecinta fashion khususnya hijabers yang saat ini mulai berevolusi dalam hal berpakaian. Jika dulu busana Muslim lekat dengan gamis dan hijab yang konvensional, saat ini ada banyak model busana Muslim yang dapat dijadikan tren berkat goresan dan ekspresi seni sang desainer.

Desainer yang Mantan Arsitek

Meski awalnya bukan berlatar belakang sekolah mode, Hannie memang memiliki bakat mendesain, karena dulu ia adalah seorang konsultan interior. Ia juga pernah sukses menggarap proyek gedung perkantoran dan rumah tinggal di Jakarta. Karena itu, membuat dirinya pernah mewakili Indonesia untuk menghadiri konferensi dan seminar ke Amerika selama satu bulan.

"Ketika saya ke Chicago untuk short course mau nggak mau ninggalin suami dan anak yang saat itu masih kecil. Setelah kelahiran putra kedua, saya merasa waktu kebersamaan saya dan keluarga sangat kurang. Sehingga saya memutuskan berhenti dari pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya,” kenang Hannie.

Kecintaannya dengan dunia arsitektur membuat ia sulit melepas profesinya. Dalam menjalankan kesehariannya menjadi ibu rumah tangga, ia mulai merasa jenuh dengan rutinitas yang selalu sama dan kurang bersosialisasi. Sampai akhirnya pada tahun 2003 sang suami mendorong dirinya untuk ikut lomba rancang busana Muslim di satu majalah Muslimah.

“Suami yang dorong saya untuk ikut lomba dan kembali menggambar, sayang kalau nggak diasah lagi. Akhirnya dengan perasaan setengah hati saya ikut mendaftar,” ujarnya.

Tinggalkan Desain Interior, Menjadi Desainer Pakaian

Bukan Hannie namanya kalau tidak berpikir out of the box, meski saat itu tren busana Muslim mengarah pada aksen bordir dan digemari konsumen, ia justru membuat desain sederhana dan minimalis. Rancangan busana yang diciptakannya merupakan sebuah dress panjang berpotongan A-line berwarna putih dengan garis lurus di bagian tengahnya.

“Tapi nggak disangka hasil rancangan saya justru disukai juri. Dan saya berhasil jadi juara dua,” kata dia.

Kini, perempuan yang juga tergabung dalam keanggotaan Indonesian Fashion Chamber (IFC) dan founder dari Komunitas Hijabers Mom Community (HCM) mantap menjadi desainer yang konsisten menggeluarkan koleksi ready-to-wear yang terdiri dari dress panjang, blazer, cape, dan tunik.

“Setiap bulan pasti ada koleksi baru tapi nggak banyak. Saya sengaja supaya bisa menyiapkan konsep dengan matang,” tutur pemilik brand Anemone.

Keinginanya agar memiliki banyak waktu luang bersama keluarga membuat Hannie banyak menghabiskan waktu di rumah. Ia menjadikan tempat tinggal sekaligus kantornya. Sehingga, meski melakukan aktifitas sebagai desainer, ia tetap bisa merawat keluarga sekaligus melakukan hal yang menjadi passsionnya.

Saat ditemui gomuslim di acara FIMELA Fuchsia Market edisi khusus Ramadhan Kota Kasablanca Mall, Jakarta, Jumat (26/05/2018), Hannie menyebut tren Ramadhan tahun ini perempuan mulai berani mengenakan busana yang sesuai dengan selera masing-masing. Warna-earna pastel dan putih mulai ditinggalkan dan beralih ke warna bright.

“Kerudung syari warna bright sudah mulai banyak peminatnya, karena jenuh dengan warna-warna pastel dan putih. Di koleksi saya warna-warna popup, jepang-jepang dan kartun juga ada peminatnya. Ini jadi perkembangan baru fashion di Ramadhan,” ujar desainer yang khas dengan motif telor ceplok.

Tips Memadukan Kerudung dengan Topi Baret Ala Hannie Hananto

Dalam kesehariannya Hannie memang terkenal dengan gaya berbusana nyentrik, pada kesempatan kali ini ia membagikan tips padupadan kerudung dengan topi baret.

Pertama, pilih topi yang sederhana dan biasa dipakai perempuan sebagai aksen aksesoris berpenampilan yakni topi baret khas prancis.

“Usahakan pilih kerudung yang simpel, polos atau match dengan warna baju,” katanya.

Kedua, kemudian topi dimasukan ke dalam kerudung dan menutupi kening untuk merapihkan lekukan.

“Kalau pakai topi di bawah tengkuk ya, bukan diatas jadi tidak menggangu penampilan kita. Udah deh selesai, modis kan,” pungkas Hannie. (nat/foto:nat)