#AsianGames2018

Inilah Atlet Voli Berhijab yang Akan Berlaga di Asian Games 2018

gomuslim.co.id- Perhelatan akbar Asian Games 2018 resmi dibuka pada 18 Agustus ini. Banyak atlet mulai unjuk gigi menghadapi pertandingan antar negara. Menariknya, atlet berhijab kian banyak berpartisipasi. Meski olahraga merupakan aktivitas yang cukup berat dan membutuhkan energi lebih, bagi para atlet hijabers, hujab tidak menghalangi mereka dalam bergerak dan bertanding.

Salah satunya atlet voli putri dari Indonesia Wilda Siti Nurfadilah Sugandi. Perempuan Bandung kelahiran 07 Februari 1995 ini merupakan kapten dari tim Bandung BJB Pakuan, sekaligus atlet bola voli asal klub Alko Bandung. Perempuan yang mulai berhijab sejak 2016 ini juga merupakan quicker andalan timnas voli putri Indonesia dan Klub Jakarta Elektrik PLN yang berhasil menjuarai Proliga 2 tahun berturut-turut 2015 dan 2016.

Pada Asian Games 2018 ini Wilda akan bertanding first game pada Minggu (19/08/2018) melawan Jepang.

Memulai Jadi Atlet Voli

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mulai berlatih voli sejak usia 9 tahun, saat dia duduk di bangku kelas 5 SD. Ibunya adalah sosok di balik layar kesuksesan Wilda di kancah bola voli  Indonesia. Klub Alko Bandung merupakan tempat Wilda memulai jejak karirnya menjadi atlet voli. Ia dididik menjadi seperti sekarang, seorang quicker muda yang garang di lapangan.

Dalam wawancara gomuslim dengan Wilda melalui surel, ia mengaku awak masuk ke klub voli diajak sang mama.

“Mama yang ajak aku masuk di klub ini karena dulu waktu mama sekolah sempet ikut club voli di Alko Bandung juga,” tutur Wilda.

Perempuan yang memiliki tinggi badan 175 cm ini memulai debut perdana di kompetisi tertinggi bola voli Indonesia pada tahun 2010 bersama Alko Bandung. Hingga berhasil mengantarkan Elektrik Juara 2 tahun beruntun merupakan sebuah kebanggan tersendiri baginya.

“Meski pernah kalah di final saat membela manokwari valeria, buat ku itu jadi pengalaman berharga,” ujar Wilda.

Harapan Masa Depan Voli Indonesia

Prestasi cabang olahraga voli di Indonesia diakui Wilda memang tidak sepesat negara lain, namun ia optimis suatu saat voli Indonesia juga bisa berprestasi di kancah internasional melihat semakin membaiknya kompetisi "Proliga" dengan makin banyaknya penonton yang datang.

Perbedaan paling mendasar adalah di Thailand dan Vietnam pengurus dan pemerintah kompak dalam hal pembinaan.

“Di sana selalu diadakan TC jangka panjang dengan satu tim yang selalu bersama. Serta sering dikirim ke kejuaraan tingkat Asia maupun ikut kejuaraan di Eropa,” sambung Wilda.

Selain itu, Wilda juga sering dikirim ke kejuaraan tingkat Asia maupun ikut kejuaraan di Eropa dengan bendera klub. Ketika ada regenerasi, pemain senior selalu ada untuk membimbing juniornya, seperti Pleumjit, Wilavan, dan Nootsara.

Hijab Bukan Penghalang Menjadi Atlet Voli

Keputusannya untuk berhijab di tahun 2016 tak menyurutkan Wilda tetap berprestasi di lapangan. Sebelum ia berhijab, Wilda memang dikenal dengan atlet voli Indonesia yang mencuri perhatian penonton. Maka tak heran, Wilda memiliki banyak penggemar ketika berlaga.

“Saat aku berhijrah di tahun 2016, awalnya diajak temen kajian ustadz Hanan Attaki. Dari situ aku jadi lebih banyak belajar tentang Islam. Dan ada satu hal yang bikin aku yakin memutuskan untuk berhijab, yaitu kalau anak perempuan belum berhijab terus keluar rumah, satu langkah saja bisa buat ayahnya selangkah menuju neraka. Dari situ aku memutuskan untuk berhijab,” tutur Wilda.

Berangkat dari pemahaman itu, Wilda mengaku makin percaya diri kala bertanding. Meskipun di awal memang ada perbedaan suhu tubuh dari pakaian.

Waktu awal, diakui Wilda memang rada pengap karena pakai layer, ditambah baju lagi, kemudian kerudung. Namun belakangan, ia mendapat saran dari sang mamah untuk memakai bahan-bahan yang nyaman.

“Untuk lebih pede saat bertanding, aku selalu pilih bahan untuk dalaman baju dan legging yang enggak terlalu tebel. Dan untuk hijab aku juga cari bahan yang nyaman dan adem, seperti jersey. Kalau untuk warna aku suka yang netral seperti hitam,” pungkas Wilda.

Dukungan lainnya juga berasal dari federasi bola voli, tak ada larangan dalam mengenakan penutup kepala (hijab), bahkan ia tidak perlu minta izin secara resmi kepada pelatih. 

Meskipun ada sedikit ketentuan saat pertandingan, diakui Wilda tidak memberatkan. Yakni, jika hanya ada satu orang di satu tim yang pakai hijab, warnanya boleh bebas bebas, namun, jika ada dua orang harus menggunakan hijab yang sama warna hitam.  (nat)


Back to Top