Salim A Fillah, Penulis Sekaligus Da'i yang Berdayakan Umat Lewat Masjid 

gomuslim.co.id - Pecinta buku islami dan para pemburu kajian mungkin sudah tidak asing dengan sosok yang satu ini. Dia adalah Salim A Fillah, dai muda sekaligus penulis buku islami produktif asal Yogyakarta.

Namanya mulai dikenal secara luas setelah menerbitkan buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan pada tahun 2003. Pada launching buku pertamanya bersama penerbit Pro-U Media di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta ini dihadiri lebih dari 2000 orang.

Tertarik dengan Buku

Sejak kecil, pria kelahiran 21 Maret 1984 memang sudah menggemari buku. Dunia tulis-menulis mulai ditekuninya ketika menempuh pendidikan di SMA Teladan Yogyakarta. Ia  bahkan sering mengikuti perlombaan menulis ketika duduk di bangku sekolah.

“Selama SMA itu, saya ingat, cukup banyak tulisan yang saya hasilkan, alhamdulillah. Saya ikuti aneka lomba kepenulisan. Ada lomba karya tulis ilmiah, penulisan artikel lepas, lomba esai, lomba cerpen, termasuk LMCPI-nya Annida, sayembara novel, dan lainnya. Hampir setiap informasi lomba yang datang ke sekolah, saya coba untuk mengikutinya. Alhamdulillah, sampai sekarang belum pernah ada yang menang sama sekali,” kenangnya dalam blog pribadi salimafillah.com.  

Penulis buku Agar Bidadari Cemburu Padamu ini juga pernah mencoba mengirimkan berbagai tulisannya ke media. Ada artikel-artikel lepas, ada opini, ada puisi, ada cerpen. “Dan alhamdulilah, hingga sekarang tak satu pun pernah dimuat sama sekali. Maka hingga saat itu, tulisan saya hanya menjangkau teman-teman sendiri; lewat buletin yang ditulis sendiri, diset dan di-layout sendiri, diperbanyak sendiri, dan diedarkan sendiri,” ucapnya.

Motivasinya dalam menyusun kalimat-kalimat tidak lepas dari sosok ayah yang merupakan guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA. Nasihat yang selalu diingatnya adalah ‘bahasa itu kesepakatan’. Artinya jika penyampai dan penerima telah memahaminya, maka bahasa itu baik dan benar.

Aktivitas Menulis dan Dakwah

Bagi suami Dwi Indah Ratnawati ini, dakwah sejatinya adalah ikhtiar mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Bagaimana agar manusia taat menjalankan agamanya, taat pada rasulnya, dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Maka wasilah dalam berdakwah ini bisa sangat beragam.

“Tulisan, lisan, perbuatan, akhlak, prestasi. Semuanya bisa menjadi bagian dari dakwah dalam rangka membuat orang selalu dekat kepada Allah SWT. Menulis hanya bagian kecil dari berbagai macam aktivitas dakwah,” ujarnya saat ditemui gomuslim dalam seminar bertajuk SAMARA di Kota Bekasi, Sabtu (18/08/2018).

Ayah dari Hilma ‘Aqila Mumtaza ini mengaku banyak mengambil hikmah dari perjalanannya sebagai seorang penulis. Ia menyadari bahwa tak ada kendala berarti kecuali apa yang ada di dalam jiwa.

Meski berbagai kendala yang banyak ia alami, namun mampu menyadarkannya bahwa kita harus senantiasa berlindung kepada Allah dari jiwa yang lemah untuk menyampaikan kebenaran, dari hati yang bungkam untuk mencegah kejahatan. “Karena itu, semua hal harus disyukuri. Alhamdulillah, menulis itu rasanya berkah,” kata penulis buku best seller “Dalam Dekapan Ukhuwah” ini.

Menurutnya, banyak manfaat kabaikan dari menulis. Salah satunya, ia bisa menyapa ribuan manusia. Bukan hanya sekedar menyapa, tapi sapaan dakwah. Dengan menulis, Salim merasa dapat bersilahturahmi ke pelosok negeri yang begitu kaya karena banyak saudara yang kemudian menunjukkan kepedulian dengan saran, masukan, kritik, bahkan cerca, dan kecaman.

“Semuanya memperkaya jiwa; mereka menunjukkan kelebihan maupun kekurangan diri yang takkan bisa disadari tanpa respons mereka. Dengan menulis saya merekam jejak-jejak pemahaman saya; mengikat ilmu, lalu melihatnya kembali untuk, sesekali, menertawakannya,” ungkapnya.

Beberapa karya bukunya adalah Agar Bidadari Cemburu Padamu (2004), Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta (2005), Gue Never Die (2006), Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim (2007), Jalan Cinta Para Pejuang (2008), Dalam Dekapan Ukhuwah (2010), dan Lapis-lapis Keberkahan (2014).

Saat ini, ditengah kesibukannya dalam berdakwah, Salim juga masih tetap menyempatkan diri untuk menulis. “Alhamdulillah, saya sekarang sedang menulis kisah sejarah tentang Pangeran Diponegoro. Saya juga sedang menulis tentang Turki Usmani. Saya juga ada projek yang terus berjalan. Kita punya pesantren untuk mempersiapkan dai-dai yang siap diterjunkan di pelosok-pelosok Indonesia,” paparnya.

Aktivis Masjid Jogokariyan

Selain aktif menulis, salim juga aktif menggemakan syiar-syiar di Masjid Jogokariyan. Di sana dia mendapat amanah sebagai Ketua Biro Pembinaan Kader Muballigh Takmir Masjid. Masjid ini pun sekarang menjadi projek percontohan nasional untuk manajemen masjid.

“Kita punya mimpi masjid-masjid dikelola dengan baik dan kembali kepada fungsi masjid seperti di zaman Nabi SAW. Masjid bisa menjadi pusat ibadah, dalam makna bagaimana semua ibadah di dalam masjid ini dicreate menjadi sebuah program-program yang mengkokohkan masyarakat,” jelasnya.

Ia mengatakan, zaman dulu, Rasulullah sebagai imam balik hadap kepada jamaah sesudah shalat bisa tahu siapa yang tidak hadir, tetapi imam zaman sekarang tidak bisa. Maka hal ini bisa diterjemahkan sebagai keharusa sebuah masjid memiliki database jamaah.

“Masjid harus tahu siapa saja yang menjadi jamaahnya, siapa yang dia dakwahi, apa saja tanggungjawab dakwahnya, seluas apa cakupan wilayahnya, berapa jiwa yang harus dia bina, itu harusnya dia punya database. Ini yang kita sebut sebagai pemetaan,” paparnya.

Selain itu, lanjutnya, masjid ini juga seharusnya bisa melayani berbagai macam hal yang dibutuhkan oleh jamaah. Masjid bisa menjadi pusat pendidikan, dimana orang bisa belajar berbagai macam hal, transfer of knowledge. Namun, yang lebih penting dari itu adalah satu learning culture terbentuk.

“Jadi orang ke masjid itu punya semangat curiousness yang tinggi, rasa ingin tahu yang besar, berbagai macam hal bisa dipelajari, saling bertukar ilmu pengetahuan, ada tempat-tempat yang memungkinkan di sekitar masjid berdiskusi, sampai nanti terbentuk jami dan jamiah. Jami itu masjid, jamiah itu university, itu pasangan. Nah, intinya adalah pendidikan,” katanya.

Lalu, masjid juga bisa menjadi pusat jaminan sosial. Ia mencontohkan, di zaman rasul, di tiang-tiang masjid, ada berbagai macam bahan makanan yang digantungkan. Sehingga ketika ada orang yang memerlukan, selesai shalat dia bisa mengambil sejauh kemampuannya, kebutuhannya dibawa pulang untuk dikonsumsi keluarganya.

“Sistem jaminan sosial ini kita terjemahkan bahwa masjid bisa menjadi pusat kesehatan. Kliniknya bisa berjalan, dia bisa universal coverage, bisa jadi asuransi kesehatan yang mengcover jamaahnya. Bisa bikin ATM beras, siapa pun yang memerlukan bisa mengakses. Jadi pusat layanan sembako, kalau sedang mahal bisa beli di Masjid yang lebih murah,” ungkapnya.

Selanjutnya, usai pelayanan ini masjid bisa pada level pemberdayaan. Bagaimana masjid bisa meningkatkan kualitas SDM dari warganya. “Di masjid kita bisa selenggarakan berbagai macam pelatihan dan dihubungkan, dikerjasamakan dengan berbagai macam pihak untuk disalurkan SDM kita supaya berada pada tempatnya sesuai pemberdayaan,” tutupnya. (njs/salimafillah.com)


Back to Top