Pernah Desain Baju Seksi, Begini Cerita Sukses Desainer Ayu Dyah Andari yang Kini Sukses Berbisnis Hijab

gomuslim.co.id – Siapa yang tak kenal Ayu Dyah Andari? Desainer muslim yang banyak membuat gaun serta dress bak princess dengan gaya vintage ini telah malang melintang di dunia fashion sejak tahun 2011.

Wanita lulusan Tehnik Industri Universitas Gajah Mada ini mengakui, sudah menyukai dunia fashion sejak kecil karena ibunya yang merupakan seorang fashion desainer.

“Aku terbiasa dengan baju cantik dari kecil. Umur 3 tahun aja dipakein gaun yang full mutiara dengan brokat. Dan kita kan  bagaimana kita dibesarkan, yaa. Baju princess kemudian dekorasi rumah yang full mawar ala eropa kuno, itu mempengaruhi banget dengan desain aku yang sekarang bisa dilihat garis desain aku tu klasik banyak mawar bunga-bunga,” jelasnya saat ditemui gomuslim setelah acara Road to Event Fashion Rhapsody, baru-baru ini.

 

Mendesain Karena Passion

Ibu tiga anak ini juga mengatakan, meski seorang mahasiswi tehnik ia terbiasa membuat bajunya sendiri. “Bahkan kalau ngga punya uang, baju lama aku rombak lagi biar bagus,” ujarnya.

 

 

Hal tersebut awalnya dilakukannya karena hobi yang terbawa hingga saat dirinya bekerja professional di perusahaan multinasional seperti PT Kraft Foods Indonesia dan PT Toyota Astra Motor selama kurang lebih lima tahun.

“Namanya passion gak bisa dibohongin. Baju pesta bikin sendiri, eh orang suka dan beli berkembang, akhirnya aku sadar ternyata bisa menjadi mata pencaharian,” jelasnya.

 

Sempat Malu Mendesain Baju Seksi

Kariernya terus memuncak setelah Ayu berhasil menjadi salah satu dari 10 besar desainer terbaik yang mengikuti kompetisi desain Indonesia Fashion Week (IFW) 2014. Namun, ada hal yang menggelitik bagi seorang desainer muslimah, yakni mengenai pakaian yang ia rancang ternyata sangat seksi.

“Keren banget deh baju aku kalau inget, ukiran di lemari palembang aku jadiin bordiran, khas aku kan emang bulet gitu dengan songket palembang, masih pake aksen bunga mawar, renaissance, pokoknya keren deh tapi seksi,” tuturnya.

Karena itu, kata Ayu, ia justru malu memperkenalkan karyanya saat bertemu dengan salah satu desainer muslim yang ia kagumi.

“Aku ada ngefans sama desainer muslim, dan seharusnya aku memperkenalkan diri di acara itu. Eh aku justru sembunyi, disitu aku mulai mikir kalau aku sendiri malu ngenalin karya aku ya gimana,” ujarnya.

Setelah dari IFW ia pun mulai percaya diri untuk menjual rancangannya di butik La Mode bersama desainer lainnya. Kemudian Ayu juga dipercaya merancang gaun untuk para kontestan Miss World 2013 dari berbagai negara. Kala itu ia masih menyajikan rancangan gaun pesta dengan potongan terbuka termasuk untuk kostum Miss World 2013. Pengalamannya merancang kostum Miss World 2013 ternyata mengetuk pintu hatinya untuk masuk ke busana muslim.

“Bangga sih desainnya mendunia tapi kok ada perasaan mengganjal karena aku mendesain gaun yang super seksi? Aku nggak nyaman nih, mungkin Allah ngasih hidayah selayaknya aku tertutup aku juga harus mendesain busana tertutup,” katanya.

“Kayaknya ku harus mulai buat baju untuk berhijab, karena selayaknya aku berhijab. Yaudah pelan pelan aku belajar karena terus terang inspirasi baju seksi tuh banyak, kalau berhijab tuh susah, jadi yaa perlu usaha,” sambungnya.

 

Tak Pernah Ikuti Trend

Uniknya, desainer sepopuler Ayu ternyata tak pernah terlalu memperhatikan trend baik tataran lokal maupun dunia. Ia mengaku konsisten dengan DNA nya yakni klasik dan vintage. Bunga Mawar diklaim Ayu juga merupakan salah satu ciri khasnya. Belum lagi siluet gaun yang berpotongan melebar ke bawah bak putri raja di era Victorian.

 

 

“Aku tidak pernah mengikuti trend. orang lagi warna item putih, monokrom eh aku ke pastel, sebaliknya orang lagi pastel aku item putih ya karena ikutin mood aku,” katanya.

“Lebih memilih jujur sama taste kita sendiri karena banyak kok yang gamau sama (dengan yang lagi trend, red),” lanjutnya.

 

Komitmen Kelola Limbah Mode

Selain itu, Ayu Dyah Andari juga menjadi salah satu desainer Indonesia yang menyuarakan sustainable fashion. Hal ini dilakukannya demi industri fashion yang panjang umur dan selalu memberikan kebermanfaatan bagi banyak orang.

“Jadi sustainable itukan bagian dari pemberdayaan. Memberdayakan sekeliling kita, bahan maksimal dalam penggunaannya dan gimana bisa dijual dan laku, jangan sampe gak bisa dijual, lalu bisnis hancur, karyawan ga kerja,” katanya.

Menurutnya, ia seringkali merasa sayang saat melihat kain perca berserakan tak digunakan. Ia kerap menjadikannya sebagai bunga tiga dimensi dalam berbagai koleksinya.

 

 

“Kain perca akan aku aplikasikan di baju lain. Untuk itu aku menambah nilai baju juga memberdayakan karyawan. Disolder jadi satu, sampai yang kecil juga bisa,” jelasnya.

Ia berpendapat bahwa industri fashion yang sustainable tentunya akan  bertahan dengan memperhatikan nilai kepedulian sosial, karyawan digaji dengan pantas dan konsisten menciptakan lapangan kerja.

“Gimana supaya industri (fashion,red) jalan terus, bisnis jalan, lingkungan ga rusak,” tandasnya. (nov/gomuslim)


Back to Top