Warisi Bakat dari Sang Ibu, Begini Cerita Sukses Desainer Modest Wear Jenahara Nasution

gomuslim.co.id – Warna-warna basic, dengan cutting tegas, namun minimalis merupakan identitas khas bagi desainer modest wear yaitu Jenahara. Putri dari aktris sekaligus desainer kawakan Ida Royani ini mengakui bakat desainnya lahir dari sang ibu.

“Saya sekolah desain tahun 2013 di Susan Budihardjo. Kemudian saya kebetulan hidup dan lahir dari ibu yang juga desainer. Dari kecil sehari-hari saya sudah sangat familiar dengan fesyen, pagelaran busana, dan pergi ke toko membeli bahan,” ujar Jenahara kepada gomuslim di sela-sela peluncuran baju olahraga Noore Sport x Jenahara, di Senayan baru-baru ini.

 

Memakai Hijab Sejak Kecil

Wanita bernama lengkap Nanida Jenahara Nasution ini mengatakan memakai hijab sejak 13 tahun. Ia mengaku tentunya banyak sekali hal-hal yang telah ia lalui, terlebih, pada saat itu tak banyak wanita berhijab.

“keluargaku adalah keluarga yang semua pakai hijab. Kakak-kakak aku, tante aku, mama aku pastinya itu semua pakai hijab jadi sudah otomatis aku juga akan pakai hijab saat mulai dewasa,” tuturnya.

 

 

Selain itu, kesibukan ibunya sebagai seorang desainer membuatnya juga  bersemangat karena sudah banyak mengenal fashion muslim. Ia juga banyak memahami kewajiban muslimah akan berhijab dari ibu serta guru ngajinya.

“Sebenernya nggak dipaksakan saat itu untuk mulai pakai hijab. Tapi dari akunya yang merasa yakin sudah harus pakai hijab dan ingin pakai hijab,” ujarnya.

Namun, di sisi lain teman-teman di sekolahnya sempat kaget akan perubahan penampilannya. “Awalnya temen-temen kaget banget karena saat itu berpikir kalau pakai hijab langsung berubah jadi serius banget nggak yang ceria gitu,” tambahnya.

 

Selain dari Sang Ibu, Jehan juga Warisi Bakat dari Nenek

Jenahara ternyata juga memiliki bakat dari sang nenek. Di zaman Belanda, nenek Jenahara merupakan seorang penjahit. Bukan hal yang instan bagi Jehan, sapaan akrabnya, karena bakat dan ilmu yang dimilikinya bisa menjadi salah satu penggerak modest wear modern di Indonesia.

 

 

“Mungkin gift mungkin iya, ada sesuatu yang mengalir di darah saya. Tapi saya percaya bahwa itu butuh dedikasi dan konsistensi, orang harus mau bekerja keras, dan tawakkal terhadap Tuhan dan percaya bahwa semua bisa dikerjakan,” papar wanita kelahiran 27 Agustus 1985 ini.

 

Awali Karir Sejak 2016

Perjalanan Jenahara dimulai pada tahun 2011 saat dia meluncurkan label Jenahara Black Label. Namun, sebetulnya konsep itu sudah digagasnya sejak tahun 2006, tepatnya ketika Jenahara menggagas kampanye bersama komunitas Hijabers Community Indonesia.

Namun tidak mudah bagi Jehan ketika awal membangun label pertamanya yang dinamai 'Jenahara' walaupun sang ibu berprofesi sebagai desainer, Jehan mengatakan kalau awal membangun label fashion miliknya tidak ada campur tangan ibunya.

 

 

"Aku memang bikin Jenahara itu dari nol banget, kalau orang nggak tau, dia bilangnya aku dibantu mama. Aku mulai dari nol dengan modal sendiri karena aku pengen maju karena usahaku bukan mamaku. Sampai Jenahara keluar pun mama nggak tau aku bikin label, justru dia tahu dari teman-temannya," tutur Jehan.

Jehan pun sempat vakum setelah 2006 karena menikah dan punya anak. Ia baru memutuskan memperkenalkan label pertamanya itu setelah hijab mulai bervariasi dan terus berkembang di Indonesia.

"Tahun 2006 hijab masih milik orangtua. Kalau sekarang sudah banyak ketemu orang berhijab, dulu nggak kayak gitu, aku waktu itu ingin menunggu momen yang tepat, belum mulai muncul komunitas hijabers seperti Hijabers Community," tambah istri chef kenamaan Ari Galih ini.

 

 

Dia juga mengatakan bahwa memulai usaha dari nol itu cukup sulit. Ia pun harus berkolaborasi dengan kerabat dekatnya agar bisa berhasil membangun label pertamanya. Semua ia kerjakan sendiri mulai dari membeli bahan hingga mencari penjahit untuk menyelesaikan koleksi pertamanya.

Saat ini Brand Jenahara mempunyai butiknya yang tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Balikpapan. Selain penjualan secara offline Jenahara melakukan penjualan melalui website. Selain itu butiknya juga kerap mengikuti pameran dalam event ataupun di mal.

“Kini saya sudah dibantu tim desainer yang diawasi oleh saya sendiri. Karyawan di bidang produksi antara 15 hingga 20,” imbuh Jenahara.

Jenahara pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam Hongkong Fashion Week. Dia juga memiliki kesempatan menampilkan karyanya di Thailand dan Milan. (nov/gomuslim)


Back to Top