Rutin Bersedekah, Wanita Berkursi Roda Ini Dapat Kemudahan Saat Naik ke Gua Hira di Tanah Suci

gomuslim.co.id- Di sekitar tempat tinggalnya Ibu Sutha dikenal dengan pribadi yang ringan tangan. Dia suka memberikan makanan kepada tetangga dan pengemis yang ia temui. Kebiasannya dalam memberikan makanan kepada banyak orang membuat hatinya bahagia. Ia tidak pernah mengenal kaya miskin, baik atau jahat orang yang dia beri.

Apalagi setiap ia pulang mudik dari kampung halamannya di Garut Lebaran tahun lalu, ia selalu membawakan buah tangan daun teh asli Garut untuk dibagikan kepada para tetangganya. Teh Garut adalah minuman kesukaan Ibu Sutha, karena teh itu tidak mengandung bahan pengawet, aromanya harum dan enak diminum untuk para lansia seusianya.
 
Ibu Sutha memang sudah berumur 67 tahun, dan kini kondisi kesehatannya kurang baik karena penyakit pada kakinya yang tak kunjung membaik. Ia tidak dapat berjalan cepat apa lagi berjalan jauh, pergi ke pasar saja susah payah. Bahkan kadang kala suaminya sering menemaninya ke pasar walau didorong kursi roda, karena sosok yang dikenal hangat ini masih bersemangat ke pasar untuk sekedar silaturahmi dengan para tetangga dan pedagang di pasar.
 
Bisa menunaikan ibadah umrah bersama keluarga adalah impian terbesarnya, namun jika teringat dengan kondisi kakinya, ia selalu pesimis dapat menunaikan panggilan suci itu.
 
Tiga tahun silam, Allah SWT mengundang Ibu Sutha dan keluarga menunaikan ibadah umrah. Rasa senang dan haru yang mendalam tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, namun ada satu hal yang mengganjal di hatinya.
 
Ia teringat dengan kondisi fisik kakinya yang tidak bisa berjalan cepat dan jauh. Jikalau pergi umrah khawatir ia tidak bisa menunaikan semua tahapannya. Suami dan anaknya terus memberikan semangat dan motivasi agar ibunya dapat optimis dapat ikut menunaikan panggilan suci bersama-sama.
 
Di sepanjang malam ia selalu memanjatkan doa kepada Allah agar ia diberikan kekuatan dan kesehatan, supaya dapat menjalankan semua tahapan umrah dengan lancar tanpa ada suatu kendala apapun. Walaupun ia tahu keadaan kakinya yang tidak memungkinkan ia berjalan jauh dari biasanya.
 
Tapi hati kecilnya yakin bahwa Allah tidak akan memberikan kesulitan kepadanya jika ia tidak bisa menjalankan kesulitan itu. Ia percaya bahwa Allah akan selalu ada dan menolongnya. Akhirnya dengan keyakinan diri, dan keikhlasan hati ia bersama suami dan anaknya berangkat umrah.
 
Sesampainya mereka di tanah suci. Ibu Sutha merasa kakinya lebih kuat dari biasanya, langkahnya lebih mantap dari sebelumnya. Ia merasa tidak membutuhkan kursi roda untuk membantu ibadahnya. Akhirnya suami dan anaknya menuruti kemauannya. Walaupun mereka agak janggal dengan kondisi kaki ibunya yang mendadak membaik.
 
Namun mereka tidak terpikir apa-apa, hanya merasa senang karena ibunya bersemangat saat sesampainya di tanah suci. Tahap demi tahap mereka tunaikan ibadah di tanah suci. Sampai pada suatu ketika saat akan menuju Gua Hira di bukit yang mengharuskan ia menaiki anak tangga yang cukup terjal. Ibu Sutha merasa pesimis tidak bisa mencapai Gua Hira untuk berdoa di sana.
 
Ia berpasrah untuk menunggu di bawah dan menyuruh suami serta anaknya untuk berangkat ke sana. Ia khawatir jika memaksakan diri ikut, suami dan anaknya tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk berdoa di salah satu tempat mustajab.
 
Dengan berat hati, suami dan anaknya menuruti permintaannya dan mereka berdua pergi ke Gua Hira di atas bukit itu. Ibu Sutha hanya berpasrah diri menunggu mereka di bawah, walau hati kecilnya sangat menginginkan bisa ikut bersama mereka untuk berdoa di sana. Tapi apa daya, ia teringat dengan kondisi kakinya yang tidak bisa menanjak.
 
Tiba-tiba dari arah belakang dua orang arab bertubuh besar menghampirinya. Sontak ia kaget dengan kehadiran orang tak dikenal itu, kedua tangannya di cengkaram oleh kedua orang arab itu dan ia merasa melayang di angkat oleh keduanya mendaki bukit itu menuju Gua Hira yang ia impikan bisa memanjatkan doa di sana.
 
Ia meronta karena takut dengan kedua orang arab itu, di tengah perjalanan ia melihat suami dan anaknya yang sedang menaiki anak tangga, spontan ia berteriak memanggil-manggil nama suami dan anaknya untuk meminta pertolongan, namun kedua orang misterius itu tidak menghiraukan.
 
Begitu sesampainya di gerbang pintu masjid, kedua orang arab itu menghilang dari pengelihatan, Ibu Sutha merasa jantungnya seakan copot dan hanya bisa mengucap syukur Alhamdulillah berkali-kali karena ia tidak pernah terpikirkan bisa menapakan kakinya di sekitar Gua Hira.
 
Tidak lama kemudian suami dan anaknya datang dan kebingungan melihat ibunya sudah ada di dekat Gua Hira. Ibu Sutha menjelaskan kejadian yang dialaminya dengan bercucuran air mata. Dan akhirnya mereka sekeluarga bisa memanjatkan doa bersama di dekat Gua Hira tempat pertama kali Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT melalui malaikat Jibrl.
 
Setelah kejadian ajaib itu mereka semakin mendekatkan diri kepada Allah dan bersyukur atas segala nikmat dan rahasia di setiap jengkal tanah suci.
 
Sesampainya turun dari Gua Hira, Ibu Sutha merasa sangat haus dan terlintas dihatinya ingin sekali minum teh Garut kesukaanya. Tidak lama setelah ia bergumam dalam hati tiba-tiba tangan besar orang arab menyodorkan gelas besar kepadanya dan berkata “Halal Halal.”
 
Karena takut akhirnya ia mengambil gelas itu dan tercium aroma teh Garut hangat dari gelas itu, teringat kata-kata Halal, ia langsung meminum air di dalam gelas yang dipegangnya dan rasanya sama persis dengan air teh Garut kesukaannya. MassyaAllah
 
Sesampainya pulang dari umrah, Ibu Sutha hanya bisa bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang Allah berikan kepadanya hingga ia mampu menunaikan semua tahapan-tahapannya dengan lancar.
 
Semoga kisah ini dapat dijadikan sebagai teladan dan pelajaran kpada kita semua bahwa dengan banyak beramal, berbuat baik dan bersilaturahmi maka Allah akan membalas keikhlasan hati dan perbuatan kita. Wallahu A’lam Bishowab. (nat)
 

Back to Top