KIsah Hikmah #RamadhanSeries (21)

Ini Bahayanya Nafkah Haram

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. 2 : 188)

Allah Swt memberikan nafkah kepada para hambaNya ke dalam 2 bagian; Halal dan Haram.

Harta yang halal teramat banyak jumlahnya dan tiada terbilang. Sedangkan harta haram terlalu sedikit untuk dihitung.

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS. 2:172-173)

Dua ayat di atas memberi informasi kepada kita bahwa rezeki yang halal dan baik sudah Allah siapkan bagi para hambaNya dan amat banyak jumlahnya. Sedangkan rezeki yang haram dan dilarang untuk dikonsumsi terlalu sedikit.

Maka yakinlah bahwa untuk apa mencari yang sedikit dan haram, padahal yang halal dan baik teramat banyak jumlahnya?

Hanya mereka yang picik rela menistakan dirinya dengan nafkah haram.

Namun pada kenyataannya masih banyak orang yang tidak takut akan bahaya nafkah haram. Padahal Allah Swt dan RasulNya telah memberikan ancaman terhadap NAFKAH HARAM, doa yang tertolak.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku." Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do'anya?"

(HR. Muslim no. 1015)

Sesungguhnya orang yang dalam perjalanan safar lalu terdesak kehabisan bekal doanya amat mustajab. Namun sebab apa yang ia konsumsi adalah nafkah haram, maka semua doa dan pintanya tiada dikabul oleh Allah Swt.

Maka bertaubatlah.

Wahai pemakan haram....! Periksa shalatmu..., periksa doamu...

Bila tiada kunjung kau rasakan nikmat dalam ibadah atau ijabah dalam doa, maka nafkah haram yang kau makan itulah penyebabnya.

“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.”

(HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 4519)

Lalu bagaimana bila nafkah haram itu tidak ia konsumsi sendirian?

Ia berikan kepada pasangannya. Anak dan cucunya. Bahkan kepada orang tua dan handai taulan.

Celakanya, terlalu banyak keluarga yang bangga dengan kerabat mereka yang kaya, padahal mereka tahu bahwa harta yang didapat pasti tidak ada jalan lain kecuali korupsi.

Astagfirullah Al Azhiim.

Perbanyaklah baca doa ini:

 [Allahummak-finaa bi halaalika ‘an haroomika, wa agh-ninaa bi fadh-lika ‘amman siwaak]

"Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.”

(HR. Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

 

Salam,

Ustadz Bobby Herwibowo


Back to Top