Serial Kisah #HumorAlaSufi (5)

Ketika Sang Pemilik Ladang Berzakat Sebelum Panen

gomuslim.co.id- Suatu ketika, sebagian besar daerah Persia terkena serangan hama (belalang). Kabar itu pun terdengar ke telinga Gawwam Al Mulk. Konon seluruh hasil  pertanian di daerah Fasa telah hancur akibat serangan hama belalang tersebut.

Berita ini mengundang keprihatinan dan mencemaskan Gawwam Al-Mulk, apalagi ia juga memiliki ladang sawah di daerah itu. Akhirnya ia memutuskan turun ke bahwah (turba) dan mengecek langsung ke lapangan.

“Saya ingin melihatnya sendiri,” kata Gawwam.

Kemudian, Gawwam al-Mulk bersama rombongan, termasuk di dalamnya Bannan al-Mulk dan Murad Khan, berangkat ke daerah yang terkena bencana itu. Hingga sampailah mereka di pesawahan milik Gawwam. Mereka melihat lahan gandum beliau telah rusak dimakan belalang, tak satu pun tangkai yang selamat. Mereka pun berkeliling ladang, mengamati satu persatu tangkainya dari semua ladang.

“Benar-benar bencana yang hebat, tak ada sebatang pun gandum yang selamat,” keluh Gawwam memikirkan ladangnya.

Mereka kembali meneruskan perjalanan melihat-lihat ladang yang terkena hama hebat. Hingga sampailah mereka di suatu area pesawahan. Di situ mereka melihat semua gandum masih utuh, tak satu tangkai pun rusak dimakan hama belalang. Padahal ladang tersebut bersebelahan dengan ladang milik Gawwam yang habis dilumat belalang.

Mereka heran melihat pemandangan itu. Kontan saja, Gawwam bertanya, “Siapa yang menanami ladang ini dan milik siapa ladang ini?”.

“Ini milik si fulan, seorang penjahit pakaian di pasar kota Fasa,” jawab salah satu anggota rombongan.

“Kalau begitu saya ingin bertemu dengannya,” seru  Gawwam.

Melihat raut wajah Gawwam yang heran sekaligus penasaran, anggota rombongan saling menatap untuk menentukan siapa yang harus memanggil si Fulan datang menghadap Gawwam.

“Bagaimana kalau engkau saja yang pergi dan panggil dia kemari,” pinta salah seorang anggota rombongan kepada Murad Khan.

Murad pun pergi ke pasar dan mencarinya sampai ketemu.

“Gawwam menyuruhku untuk menjemputmu. Ikutlah denganku untuk menemuinya,” kata Murad kepada si Fulan.

Dia malah cuek dan berkata “Saya tidak ada urusan dengan Gawwam, suruh saja dia kemari dan menemuiku,”.

Murad pun membujuknya dengan berbagai cara, hingga akhirnya dia setuju untuk menemui Gawwam.

Setelah bertemu, Gawwam berkata kepada si penjahit itu, “Apakah bibit ladangmu ini milikmu dan kamu yang menanamnya?

Dia menjawab, “Ya, Benar”

Gawwam kembali bertanya, “Lantas mengapa belalang-belalang memakan semua tanaman di sebagian besar ladang, sementara ladang gandummu tidak?”

Diapun menjawab, “Mengapa heran, sebelum memanennya, saya selalu mengeluarkan zakat untuk mereka yang berhak dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Jadi tidak ada yang tersisa dari hasil panen ini untuk belalang,”.

Gawwam pun menyatakan kekagumannya atas kehebatan si penjahit itu. (njs)

Sumber :

Sirin, Khaeron. 2016. Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fikih. Karya Depok: Pustaka Iman

 


Back to Top