Serial Kisah #HumorAlaSufi (11)

Shalat yang Bacaan Tasyahudnya Empat Kali

gomuslim.co.id- Seusai memberikan pelajaran fikih ibadah kepada para santrinya, terbesit keinginan sang kiai untuk menguji kecerdasan anak-anak didiknya itu.

“Sebelum pelajaran in saya tutup, saya ingin memberikan pertanyaan kepada kalian. Kalau kalian bisa menjawabnya, berarti kalian sudah saya anggap sebagai santri yang menguasai betul bab shalat,” kata Sang Kiai.

“Boleh, Pak Kiai,” tanggap para santri serempak.

“Begini, shalat apa yang bacaan tasyahud (tahiyat)-nya ada empat kali?,” Tanya sang Kiai.

“Mana ada shalat bacaan tahiyatnya sampai empat kali, Pak Kiai? Paling banyak juga dua kali!” celetuk salah satu santri tanpa basa-basi.

“Wah, berarti kamu kurang cerdas dalam hal fikih ibadah,” jawab sang Kiai tak mau kalah.

Para santri pun berpikir keras untuk menjawabnya. Namun, hingga beberapa saat, tak ada satu pun santri yang mampu menjawabnya.

“Aduh, kayaknya kami kesulitan menjawab nih. Lalu, apa jawabannya, Pak Kiai?” Tanya salah seorang santri.

Pak Kiai pun akhirnya menjawab, “Jawabannya sih gampang, yaitu shalatnya orang yang menjadi makmum masbuk ketika Imam shalat memasuki rakaat kedua shalat maghrib,” jawab Sang Kiai.

“Maksudnya gimana, Pak Kiai, kami kurang jelas,” Tanya si santri.

“Begini deh. Shalat magrhib ada berapa rakaat?” sindir pak Kiai.

“Ya, ada tiga rakaat Pak Kiai,” jawab para santri santai.

“Terus bacaan tahiyatnya berapa kali?” Tanya Pak Kiai.

“Dua kali, tahiyat pertama di rakaat kedua, dan tahiyat kedua di rakaat ketiga,” salah satu santri menjawab penuh semangat.

“Bagus,” lanjut pak Kiai, “Misalnya nih, si Ali hendak shalat magrhib, lalu ia mendapati Imam shalat maghrib sedang membaca tasyahud awal di rakaat kedua, apakah Si Ali itu, setelah melakukan takbiratul ihram, boleh langsung melakukan tahiyat sebagaimana imam shalat?” Tanya Kiai.

“Tentu saja boleh,” jawab para santri.

“Bagus, berarti si Ali sudah melakukan bacaan tahiyat satu kali, tapi tidak dihitung satu rakaat, betul?” Tanya Kiai.

“Betul…!” jawab para santri.

“Ketika imam shalat memasuki rakaat ketiga (terakhir), tentunya imam membaca tasyahud akhir. Ali sebagai makmum juga melakukan hal yang sama bukan?” Tanya Pak Kiai.

“Benar..!” jawab mereka.

“Bagus. Berarti si Ali sudah melakukan bacaan tahiyat dua kali, tapi ia baru memperoleh satu rakaat. Betul?” Tanya Pak Kiai.

“Betul…!” jawab mereka.

“Setelah imam shalat membaca salam, si Ali melanjutkan shalat magrib untuk rakaat kedua. Otomatis dia akan membaca tasyahud awal di rakaat kedua shalat maghrib tersebut. Bukan begitu?” Tanya Pak Kiai.

“Benar..!” sahut para santri.

“Bagus. Berarti si Ali sudah melakukan bacaan tahiyat tiga kali, tapi ia baru memperoleh dua rakaat. Betul?” Tanya Pak Kiai.

“Betul…!” jawab mereka.

“Saat si Ali memasuki rakaat ketiga shalat maghrib, sudah barang tentu ia akan melakukan tasyahud akhir. Berarti ia akan membaca bacaan tahiyat untuk keempat kalinya, bukan begitu?” jelas Pak Kiai yang segera menghentikan ucapannya karena terpotong oleh decakan dan anggukan para santri tanda mengerti.

“Oh… begitu,” gumam mereka.

“Jadi, jangan heran kalau ada shalat yang bacaan tahiyatnya ada empat kali,” lanjut Pak Kiai seraya meninggalkan majelis.

 

 Sumber :

Buku Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fikih Karya Khaeron Sirin. Pustaka Iman: 2016. Depok     


Back to Top