Serial Kisah #HumorAlaSufi (14)

Raja Adil Harus Tahu Perbuatan Rakyatnya

gomuslim.co.id- Pada suatu hari, Abu Nawas berjalan-jalan hingga ke kampung Badui di daerah gurun jauh dari kota tempat tinggalnya.

Sesampainya di tempat tersebut, ditemuinya ada beberapa orang yang sedang memasak bubur. Suasananya ramai sekali.

Tanpa disadarinya, ia ditangkap oleh orang-orang itu dan dibawa ke rumah mereka untuk disembelih.

“Kenapa aku ditangkap?” Tanya Abu Nawas.

“Wahai orang asing, setiap orang yang lewat di sini pasti akan kami tangkap, kami sembelih seperti kambing dan dimasukan ke belanga bersama adonan tepung itu. Inilah pekerjaan kami dan itulah makanan kami sehari-hari,” jawab salah seorang dari mereka sambil menunjuk ke belanga yang airnya mendidih.

Abu Nawas ketakutan juga, namun meski keadaan sedang terjepit, dia masih sempat berpikir jernih.  

“Kalian lihat saja, badanku kurus kering, jadi dagingku tak banyak, kalau kalian mau besok aku bawakan temanku yang badannya gemuk sehingga bisa kalian makan untuk lima hari lamanya. Aku janji, maka tolong lepaskan aku,” pinta Abu Nawas.

Karena janjinya itu, Abu Nawas akhirnya dilepaskan.

Di sepanjang jalan Abu Nawas berpikir keras untuk menemukan siasat agar dirinya berhasil membawa teman yang gemuk. Terlintas olehnya Baginda Raja.

“Seharusnya Raja tahu akan berita yang tidak mengenakan ini, dan alangkah baiknya kalau Baginda Raja mengetahui sendiri,” gumamnya dalam hati.

Abu Nawas segera saja masuk ke dalam istana untuk menghadap Raja.

Dengan berbagai bujuk rayu, akhirnya Abu Nawas berhasil mengajak baginda Raja ke kampung Badui tersebut.

Sesampainya di kampung Badui tersebut, si pemilik rumah tanpa banyak bicara langsung saja menangkapnya. Abu Nawas segera meninggalkan tempat itu dan dalam hati dia berpikir.

“Bila Raja pintar, pasti niscaya dia akan bisa membebaskan diri. Tapi kalau dia bodoh akan matilah ia karena akan disembelih orang jahat itu,”

Sementara itu, di dalam rumah Baginda Raja tidak menyangka akan disembelih.

Dengan takutnya dia berkata, “Jika membuat bubur, dagingku ini tidaklah banyak karena banyak lemaknya. Tapi jika kalian izinkan, kalian akan aku buatkan peci kemudian dijual yang harganya jauh lebih mahal ketimbang buburmu itu,”

Baginda telah beberapa hari tidak terlihat di istana, ia bekerja keras untuk membuat peci untuk orang Badui itu. Namun, pada akhirnya beberapa hari ke depan Baginda dibebaskan oleh para pengawalnya.

Setelah Baginda dibebaskan, barulah Abu Nawas dipanggil untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Abu Nawas dianggap telah mempermalukan rajanya di muka rakyatnya sendiri.

“Wahai Abu Nawas, engkau ini benar-benar telah mempermalukan aku, perbuatanmu sungguh tidak pantas dan kamu harus dibunuh,” ujar Raja geram.

“Ya Tuanku, sebelum hamba dihukum, perkenankan hamba menyampaikan beberapa hal,” kata Abu Nawas membela diri.

“Baiklah, tetapi kalau ucapanmu salah, niscaya engkau akan dibunuh hari ini juga, ujar Baginda Raja.

“Wahai Tuanku, alasan hamba menyerahkan kepada si penjual bubur itu adalah ingin menunjukan kenyataan di dalam masyarakat negeri ini kepada paduka. Karena semua kejadian di dalam negeri ini adalah tanggung jawab baginda kepada Allah SWT kelak. Raja yang adil sebaiknya mengetahui perbuatan rakyatnya,” jelas Abu Nawas.

Setelah mendengar ucapan Abu Nawas yang demikian, hilanglah rasa amarah baginda Raja. Dalam hati beliau membenarkan ucapan Abu Nawas tersebut.

“Baiklah, engkau aku ampuni atas semua perbuatanmu dan jangan melakukan perbuatan seperti itu lagi kepadaku,” tutur Baginda Raja.  


Back to Top