#TausiyahUstadz

Amalan Kita Beda-beda

gomuslim.co.id- Allah Swt memberikan kita karunia indah dalam hidup itu selain nikmat Iman dan Islam adalah nikmat hidup. Bayangkan saja, nikmat hidup ini merupakan rentang waktu yang Allah hamparkan untuk kita dan beramal di dalamnya. Nikmat yang ketika ia sudah habis jatahnya, Allah sudahi waktu kita, berkesudahan juga semua amal-amal kita, usaha-usaha kita, ikhtiar-ikhtiar kita. Maka, tak heran waktu ini adalah nikmat sekaligus modal yang tak terkira nilainya.

Sebagai contoh, kita bekerja seharian di kantor, berangkat pagi, pulang petang bahkan malam. Kita berikhtiar mencari nafkah untuk keluarga. Kita mengejar harta, penghasilan, gaji, demi menyambung hidup bahkan meningkatkan taraf hidup kita. Menjalankan bisnis sedemikian rupa demi keuntungan usaha yang kita harapkan dan targetkan. Mengejar target penjualan tahunan bahkan kita lakukan revisi setiap saat. Semua itu kita bisa melakukannya karena Allah masih memberikan usia kepada kita. Bayangkan jika usia kita sudah habis. Habislah pula kesempatan kita berikhtiar.

Dalam rentang waktu yang Allah berikan itu, kita diberikan pilihan. Kita diberikan dua jalan. Kita diilhamkan dua kenikmatan. Kita akan memilih jalan mana, ikhtiar yang mana, bidang yang mana, langkah yang mana, semua dalam kendali kita. Maka kita akan melihat, dalam rentang usia itu ada yang melakukan kebaikan, ada yang melakukan keburukan. Ada yang melakukan ketaatan, ada pula yang melakukan kemaksiatan. Ada yang beribadah ada juga yang meninggalkan. Ada yang berusaha, ada juga yang bersantai saja. Di antara yang beribadah pun ada yang banyak, ada pula yang sedikit. Ada yang beribadahnya sungguh-sungguh, ada pula yang alakadarnya.

Wajarlah Allah Swt mengingatkan kita dalam firmannya, “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan.Sesungguhnya usaha kalian berbeda-beda.” (QS Al-Lail 1-4)

Dalam ayat di atas Allah Swt bersumpah dengan makhlukNya berupa malam dan siang juga penciptaan manusia, berupa laki-laki dan perempuan. Lalu Allah menyampaikan isi sumpahnya yaitu, “Sesungguhnya amal-amal kalian (usaha-usaha kalian) sungguh berbeda-beda.” Kenapa bisa demikian?

Karena seperti saya sampaikan di atas, dengan waktu malam dan siang yang Allah berikan kepada kita setiap hari, amal-amal kita berbeda-beda. Imam As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan:

 “Sesungguhnya usaha kalian wahai para mukallaf berbeda-beda. Perbedaan ini mengacu pada tingkat amal, ukuran, dan segi kegiatannya dan juga berdasarkan maksud dari perbuatan itu sendiri, apakah dimaksudkan untuk mengharapkan wajah Allah Yang Maha A gung dan Maha Abadi?”

Sebagai contoh di bulan Ramadhan ini. Ada yang berpuasa ada pula yang tidak. Ada yang menikmati ibadah puasa, atau merasa terpaksa. Ada yang ikhlas karena Allah, ada pula yang berpuasa karena ingin disangka taat oleh sesama manusia. Ada yang mengisi ramadhan dengan ibadah nafilah (sunnah), ada juga yang mencukupkan dengan yang wajib. Ada yang berjuang agar banyak beramal shalih, ada juga yang biasa saja. Ada yang menyambutnya dengan gembira, ada juga yang menyambutnya justru dengan protes dan frustasi. Ya, amal kita beda-beda meski kita diberi ramadhan yang sama, waktu yang sama dalam sehari semalam. Itulah manusia, itulah kita.

Ukuran perbedaan amal kita ini tentu mengikuti kualitas iman kita. Sementara kualitas iman kita akan menentukan kesungguhan kita dalam melaksanakannya. Saat iman lemah, malas menghinggapi diri kita. Saat malas tiba, maka amal kita sedikit, bahkan nihil. Begitu juga saat iman kita kuat, mantap dan sempurna, begitujuga dengan semangat kita. Saat semangat kita membuncah, maka usaha kita pun begitu besar. Itulah perbedaan amal-amal kita.

Belum lagi jika kita lihat dari niatan di hati kita. Lebih dalam lagi kita menilainya. Kita sama-sama shalat tarawih misalnya, tapi ada yang ikhlas, ada yang tidak. Ada yang berharap pahala dari Allah, ada yang mengerjakannya sekedar menggugurkan kewajiban atau bahkan karena malu oleh tetangga. Pun demikian halnya dengan ukuran amalnya. Kita pun beda-beda. Ada yang shalat dhuhanya setiap pagi, ada yang kadang-kadang. Ada yang shalatnya dua rakaat, ada pula yang empat rakaat bahkan delapan. Kita beda-beda.

Lalu bagaimana dengan Ramadhan kita tahun ini? Akankan amal-amal kita sama saja atau berbeda? Semoga amal kita jadi lebih baik dari Ramadhan tahun lalu. Aamiin.

 

Penulis:

Ustadz Asep Supriatna

MoveOn Training & Coaching

Pengasuh Majelis Cinta Quran

Instagram: @AsepFakhri

 


Back to Top