Ber-investasi Akhirat dengan Menjadi Relawan Pengajar di Desa Binaan

gomuslim.co.id - Jakarta, terik matahari di sekitar kawasan TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Tepatnya di Desa Rawadas, Pondok Kopi, Jakarta Timur, tak menyurutkan semangat para relawan yang adalah para mahasisa Universitas Negeri Jakarta untuk mengajar dan bertemu dengan adik-adik di Desa Binaan (Community Development).

Jarak yang jauh serta ongkos yang tidak sedikit, tidak pernah menjadi halangan bagi mereka untuk berbagi ilmu atau sekadar bercerita tentang dongeng masa kecil. Bukan satu dua kali kedatangan mereka disambut dengan antusias adik-adik di desa binaan yang mereka namakan Rumah Cahaya, tapi hampir setiap akhir pekan mereka menghabiskan waktunya di tempat yang mereka bilang adalah ladang amal tersebut.

Dari mulai membaca, mengaji, berhitung, bermain, bernyanyi bahkan menari menjadi modal mereka dalam berbagi. Sebab katanya berbagi tidak melulu dengan materi. Walau tidak dipungkiri, pun seringkali para kakak asuh ini menyumbangkan uang jajan mereka untuk membeli keperluan desa binaan. Seperti papan tulis, alat tulis, buku pelajaran atau buku ilmu pengetahuan umum, sampai camilan untuk menarik perhatian adik-adik di Rumah Cahaya agar belajar tidak membosankan.

Seorang kakak asuh berkata:

"Seneng aja bisa berbagi meskipun gak banyak, tapi semoga bisa bermanfaat untuk mereka kedepannya"

Yang lain bilang:

"Ini ibarat investasi akhirat, harapanku cuma mereka bisa tumbuh dengan nilai akhlak yang baik, sebab dunia global sekarang betul-betul harus disaring mana yang baik mana yang kurang baik, anak-anak harus banyak baca dan harus tau tentang adab"

Mereka berharap bahwa adik-adik yang mereka didik di rumah cahaya nantinya menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak baik, menjadi agen perubahan yang mampu bersaing di dunia digital serta menjunjung rasa nasionalisme yang tinggi. 

Banyak hikmah yang bisa didapat oleh para kakak asuh ini. Bukan hanya tentang indahnya berbagi dengan sesama, namun lebih dari itu banyak pelajaran hidup yang tak dappat mereka dapatkan di bangku kuliah. Tentang belajar ikhlas ketika waktu liburnya justru mereka habiskan untuk berada di luar rumah.

Lelah memang, tapi ada kebahagiaan tersendiri setelahnya atau ketika harus berangkat ke desa binaan dengan uang seadanya. Banyak dari mereka yang merantau, tapi mereka merelakan uang bulanannya hanya demi bertemu dengan adik-adik asuh yang mereka anggap selayaknya adik sendiri.

Selain itu, juga hikmah tentang mengimplementasikan ilmu sabar yang tidak ada sekolahnya. Ketika salah seorang diantara adik-adik ini merajuk, atau bosan bahkan mungkin bersikap kurang menyenangkan, namun dengan sabar para kakak asuh mengajarkan mana yang boleh dilakukan dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Dengan sikap lemah lembut tentunya. Apalagi ketika beberapa dari mereka bertengkar, bak guru idaman, kakak asuh harus siap melerai.

Dengan demikian, hikmah dalam belajar menentukan berbagai macam keputusan yang rumit. Ya, bukan tanpa alasan rumah cahaya didirikan. Semua penuh dengan pertimbangan yang matang. Mulai dari koordinasi dengan pihak kampus, pihak masyarakat sekitar dan atau pengurus sekaligus pembina rumah cahaya. Bagaimana belajar bersikap dengan meminimalisir miskomunikasi serta hal-hal lain yang tidak diinginkan. Belajar bersikap dewasa dalam memilah dan memilih keputusan mana yang baik untuk kelangsungan dan kelancaran proses belajar mengajar dan berbagai kegiatan di rumah cahaya.

Bukan bayaran uang yang mereka harapkan, tapi ilmu bermanfaat yang mereka harapkan dapat menjadi pemberat amal dalam timbangan di akhirat kelak.

Wallahu a’lam bishawwaab

 

 

Penulis:

Hafsha Hurat Fadita

Ketua Keputrian Forum Studi Islam Khidmatul Ummah UNJ

Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta


Back to Top