Jual Eskrim Penuh Berkah

gomuslim.co.id - Jakarta, hiliran angin dan terik matahari mulai terasa dan mengenai stand eskrim yang kami buat disamping loket khusus mahasiswa baru. Ya, kami adalah sekumpulan anggota rohis kampus tingkat fakultas yang berusaha menjadi alasan agar mereka(adik-adik) itu mendapat ketentraman hati ditengah kesibukan mengurus berkas ini dan itu.

Lalu apa yang kami lakukan? Dengan membuat stand eskrim didekat loket kampus, kami membagikan eskrim itu secara gratis pada mereka. Memang tidak rugi? Mahasiswa baru di kampus tuh banyak pake banget, lho.

Tidak, sahabat. Justru dengan itu, kita lebih bisa berpeluang mendapat feedback senyuman paling jujur dari mereka. Di tengah terik matahari, apa yang mereka bisa bayangkan selain makanan atau minuman yang menyegarkan untuk lekas disantap.

Dalam raut lelahnya, mereka kaget seraya bingung sambil terus menerus melirik stand kami. Saat seperti ini, kami harus bisa lebih ramah lagi dan mereka perlu juga untuk dijemput. Mahasiswa baru tentu masih identik dengan rasa malu yang melekat. Sudah lihat tulisan gratis, tetap pada akhirnya kami sebagai anggota memiliki peran penting untuk menawarkan secara langsung.

Pada akhirnya, eskrim itupun habis dan tidak ada rasa sesal setelahnya karena lelah ataupun uang yang harus terpakai dan terpakai lagi. Kami sudah terlatih untuk akhirnya melakukan segala sesuatu karena tujuan yang lurus, yakni cukup karena Allah.

Tujuan itu sudah mulai ditanamkan semenjak musyawarah kerja yang dilakukan oleh seluruh kepala departemen dan ketua umum. Lalu pada akhirnya, komitmen itu kami pupuk perlahan, kami berikan waktu-waktu luang kami untuk membantu kebutuhan dakwah rohis ini.

Sulit untuk dapat konsisten ada dalam suatu organisasi apabila komitmen itu dibangun karena hal yang bersifat duniawi. Kalau di sini, dalam rohis ini, kalau kata ketua umum kami “Cukup surga dan neraka yang jadi ancaman atas pertanggung jawaban atas amanah kita”. Jadi, kita cukup diminta niat yang lurus karena Allah.

Kenapa harus niat itu lurus? Kalau belok kenapa? Nah, sahabat. Hal yang baru saja kami tahu adalah, dengan meluruskan niat kami, dengan mengingat bahwa janji Allah amatlah indah untuk hambaNya yang setia menebar kebaikan, setia berdakwah dijalanNya, dan tentunya rajin beribadah padaNya. Maka semua kegiatan dakwah akan terasa ringan, yang kami rasa adalah bahagia ketika kegiatan-kegiatan itu menghampiri.

Saat menanamkan rasa bahagia tentu butuh proses, proses dalam konsisten dengan komitmen yang sudah kita jalani. Semua itu akan menjadi ringan apabila kami pun memiliki rekan atau teman yang sejalan misi dengan kami. Sama-sama berkeinginan berubah, sama-sama bisa saling menjaga agar tidak melakukan hal yang buruk.

Setelah kebersamaan karena Allah itu telah hadir, apapun masalah berat kita, insyaAllaah bisa terselesaikan dengan baik.

Hal ini begitu amat teruji saat kami mengadakan agenda rutin yang besar di tiap tahunnya. Disaat kami sudah berusaha maksimal dalam segi pendanaan dengan segala macam ujian dari internal maupun eksternal rohis. Namun mendekati hari H, dana yang ada masih sangat minim. Ketua rohis pun mengomandokan setiap panitia agar terus menyiapkan amal ibadah terbaiknya dan harus diakumulasikan secara pribadi. Bila belum memenuhi, kami harus istighfar sebaik-baiknya agar besar harapan tidak berdampak pada keberhasilan dari agenda tersebut.

Saat kami telah mengupayakan amal ibadah kami selama beberapa pekan terakhir, kami diminta agar berserah diri atas semua hal yang telah kita dapati. Kuncinya adalah yakin sepenuhnya. Yakin bahwa Allah Maha Kaya. Dan betul saja, selama dua tahun terakhir kami menjadi bagian yang menyaksikan langsung tentang hal tersebut.

Pada hari H pelaksanaan agenda, banyak pihak donatur yang mendonasikan uangnya via transfer. Dan saat akumulasi dana malah jumlahnya surplus. MasyaAllah, beberapa kakak kelas mengekspresikan dengan tangis haru sembari bersyukur tiada henti. Benarlah bila kita sedang menolong agama Allah, maka Allah akan cukupkan segala urusan dan kebutuhan kita. Semudah itu, seringan itu.

Tentu ini menjadi reminder tersendiri, tentang pentingnya mengucap syukur, bersemangat dalam menjalankan kebaikan, serta pentingnya meluruskan niat.

Semoga kita semua terjaga dari sikap kufur nikmat, karena sudah amat nyata bukti kuasa Allah terhadap seluruh isi muka bumi. Yuk mulai menjaganya dengan cara mendekatkan diri kita padaNya.

 

 

 

Penulis:

Cindy Oktaviani

Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Kepala Departemen Kerohaniaan BEM Sastra Indonesia UNJ


Back to Top