Ketika Jodoh Tak Kunjung Bertemu

gomuslim.co.id - Namanya Rizal, wajahnya tampan, berasal dari keluarga berada, pun pekerjaannya mapan. Tak hanya itu, lelaki berusia 28 tahun ini juga berkepribadian baik, rajin shalat tepat waktu, sedekah tidak pernah alpa, menyukai anak-anak, juga murah senyum sehingga disukai banyak orang. Hidupnya memang terlihat sempurna.

Namun, satu yang menjadi masalah baginya, apalagi kalau bukan soal jodoh. Beberapa ikhtiar dilakukan, mulai dari pencariannya sendiri, perjodohan dari ustadz yang Rizal percayai, dikenalkan teman, tapi selalu berujung kandas.

Sebagai seorang lelaki yang membutuhkan pendamping hidup, ditambah tekanan sosial dari keluarga dan kerabat yang kerap menanyakan jodohnya, Rizal diliputi perasaan galau, mencari jodoh kemudian menjadi prioritas utamanya.

Sukses Karir

Dalam pekerjaan, Rizal dapat dikatakan berhasil. Meski menyandang predikat ASN, Rizal juga membuka usaha laundry sepatu yang masih jarang di daerahnya.

Sifatnya yang ambisius itulah, kerap menjadi problem tersendiri baginya. Sejak kecil, Rizal terbiasa menjadi yang terbaik, secara akademis maupun yang lainnya. Sifat itu terbawa hingga dewasa dan di lingkungan kerja. Sebut saja Ifan, pemilik usaha serupa di daerahnya juga tidak diragukan kecerdasannya. Inovasi dan manuver yang dilakukan dalam bisnisnya juga membuat usaha Ifan maju pesat.

Inilah yang mengganggu pikiran Rizal, ditambah tuntutan perkerjaan sebagai ASN membuat fokus Rizal terbagi. Di tengah tuntutan sosial dan keluarga yang menginginkan ia untuk segera menikah, Rizal tetap berusaha maksimal siang dan malam dalam memajukan bisnisnya, ia tak mau kalah saing dengan usaha Ifan yang memang sudah lebih besar dari Rizal.

“Coba dong, liat laundry sepatu sebelah! Gimmick-nya bagus, gimana biar semua orang di kota ini ingetnya dia tiap kali mau cuci sepatu, ayo ngide kita mau buat apaan!” seru Rizal berapi-api pada karyawannya saat rapat.

“sekarang gue kasih target ya, bulan depan harus ada peambahan 50% pelanggan baru. Jadi sekarang pikirin mau promo via apaan. Dana promo juga siap” tambah Rizal, lagi-lagi dengan nada yang on fire

Kapan Nikah?

Gerimis tipis mewarnai Kota Bandar Lampung sore itu, Rizal melajukan mobilnya menuju masjid kampusnya dulu untuk Reuni kecil bersama beberapa teman lama. Ya, Rizal memang tergolong sebagai ‘anak masjid’ pada zamannya. Setelah sekian lama ia akhirnya bisa mengagendakan waktunya untuk bertemu teman lama serta guru ngaji nya dulu, di masjid kampus penuh kenangan.

Pertemuan kali ini memang sedikit berbeda, teman-teman sudah membawa istrinya, ada yang tengah mengandung bahkan anaknya sudah balita. Rizal tentunya sudah menyiapkan hati, bersiap diberondong pertanyaan yang terlalu mainstream ia dengan beberapa tahun terakhir, apalagi kalau bukan seputar “kapan nyusul?” atau “kapan nikah?” hufttt.

Setelah bertukar sapa dan melepas kangen, seperti biasa salah satu acara intinya adalah tausyiah dari Ustadz Abay yang sengaja diundang. Semesta sepertinya berpihak pada Rizal, karena Ustadz Abay mengangkat tema pernikahan dalam tausyiahnya. Awalnya Rizal sedikit berkecil hati, ditambah lagi-lagi fokusnya terbagi karena ia harus terus memantau pekerjaan staf dan karyawannya di cabang-cabang usahanya demi menanyakan progress dan lainnya. Ya, selain ambisius Rizal juga cukup perfeksionis.

“Yang punya timeline atas hidup kita itu bukan kita. Tapi Allah, yak, jangan lupa kalau kita ini miliknya Allah yaa. Jadi jangan meragukan takdir kita atas apapun, karena yang mengatur itu Allah. Termasuk Jodoh. Ini khusus buat yang belum nikah nih” ujar Ustadz Abay.

Rizal terkesiap, seolah kalimat ini tertuju padanya.

“Ada orang yang, Allah lebih dulu menitipkan harta kekayaan padanya. Karena Allah nilai ia mampu. Ada juga yang Allah segerakan pertemukan jodohnya, sama hal, Allah nilai ia sudah mampu memimpin, kalau perempuan sudah siap dipimpin. Begitu pula ajal, ada yang lebih dulu dipanggil, ada yang nanti deh disuruh tobat dulu, Allah yang menilai. PR besar kita, persiapkan. Memastikan sudah pantas dapat rejeki? Sudah pantas dapat jodoh? Sudah pantas mati?”

Lagi, Rizal seakan tertohok.

“Ayolah khusnudzan sama Allah. Prasangka yang baik-baik. Bisa jadi, bisa jadi nih yee, namanya aja berprasangka kan. Tapi yang baikkk” lanjut Ustadz Abay

“Bisa jadi, Allah memang belum berikan sesuatu karena kita dinilai belum layak, belum siap, belum SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI, BELUM SELESAI DENGAN EGO, DENGAN AMBISI, KERAP LUPA SAMA NIAT MENIKAH, LUPA SAMA NIAT MENGEJAR INI ITU, LUPA SAMA NIATNYA” ujar Ustadz Abay pelan.

Rizal semakin gusar, memaksakan bibirnya tersenyum agar rileks. Sebenarnya ia ingin sekali menangis. Dia mulai menyadari kesalahannya, iya Salah Fokus.

Selepas shalat magrib berjamaah, Rizal bersalaman dan memeluk Ustadz Abay tanpa kata selain ucapan Terimakasih. Ia begitu ingin pulang, ingin sendiri dan merenung. Segera mengoreksi kesalahannya.

Berdoa di Sepertiga Malam

Sepertiga malam yang dingin, Rizal masih terisak dalam doanya. Ia sadar ia kalah. Bukan pada Ifan dan usaha yang maju. Tapi kalah melawan ego dan ingin tanpa ujung, tanpa niat.

Rizal re-check besar-besaran target hidupnya. Titik tolaknya berubah, ia memastikan niat menikahnya bukan sekedar keinginan belaka, ia harus tanamkan besar bahwa ia akan menikah dengan tujuan sempurnanya ibadah. Fokusnya juga berubah, fokus perbaikan diri agar ia pantas, agar ia layak sehingga Allah mempercayakan amanah keluarga kecil padanya.

Ambisinya pun melunak, Rizal sadar ia bermasalah dengan ambisinya yang luar biasa. Ia harus sanggup melawan. Belajar memanajemen perasaan, mau menerima kekalahan serta bangkit tanpa malu, tanpa sendu. Rizal berjanji harus selesai dengan dirinya, dengan masalahnya. Agar ketika memulai hidup baru dengan orang yang menjadi jodohnya, semua bisa bermula dengan sebaik-baiknya. Tanpa ada mimpi yang tertunda, tanpa ada mimpi yang gagal.

Bismillah.

 

Disclaimer : Kisah ini berdasarkan kisah nyata, dengan sedikit perubahan.

 

Penulis:

Novi Nusaiba

Anggota Forum Lingkar Pena Bandar Lampung


Back to Top