Sakitku Jadi Jalan Hijrahku

gomuslim.co.id - Aku tidak pernah benar-benar percaya sampai akhirnya mengalami, bahwa apa yang dalam genggaman kita ternyata bukan benar-benar milik kita. Iya, apapun.

Sebagai seorang mahasiswa, aku menikmati masa menjadi “agent of change” ini dengan sebaik-baiknya. Aku unggul dalam akademik, dengan kemampuan membagi waktu aku juga aktiv di berbagai kegiatan kemahasiswaan. Bisa dibayangkan bagaimana mobilitasku di kampus, boleh dikatakan aku cukup sibuk.  Namun meski sibuk, aku tidak mengabaikan kesehatanku, jadwal makan dan olah raga juga menjadi agenda yang penting bagiku.

Akulah, Aldi Pratama mahasiswa teladan di kampusku.

 

Kesehatanku Menurun

Semua orang tau, aku tak suka membuang waktu. Piciknya, aku sering berfikir bahwa “sakit” itu sama dengan menyia-nyiakan waktu. Karenanya, aku selalu makan berdasarkan jadwal yang aku buat. Sebagai laki-laki juga aku suka olahraga, jogging dua kali seminggu kerap aku lakukan.

Tapi siapa sangka, kini aku yang harus sakit. Usiaku 21 tahun, dan aku diabetes di usia semuda ini.

“Penyebab Diabetes bukan hanya pola makan yang buruk, tapi bisa jadi juga karena faktor keturunan,” kata Dokter Budi, yang merawatku.

Aku harus menjalani beberapa terapi dan pengobatan, juga tentunya aktivitas fisik mulai dibatasi. Aku stress, dan ternyata itu justru memperkeruh keadaan, kondisiku makin memburuk.

Kuliahku memang baik-baik saja, ketidakhadiranku tidak lantas membuat kuliahku berantakan. Aku masih bisa menyusun perlahan, hanya saja aku tidak bisa terima harus sakit di usia semuda ini, terlebih dengan pola hidupku yang aku manage dengan sedemikian rupa.

 

Berdamai dengan Keadaan

Satu hal yang pasti, aku tidak harus stress ketika menghadapi rasa sakit dan titik rendah dalam fase kehidupanku. Untungnya aku segera tersadar untuk segera berdamai dengan keadaan. Aku hanya perlu fokus menjalani perawatan dan segera pulang ke aktivitas yang aku sukai.

Support sahabat dekat menjadi kekuatan tersendiri, bahwa sakit adalah bagian dari taatnya kita pada Allah. Tentang seberapa kita percaya pada Sang Pemilik, bahwa bahkan kesehatan pun miliknya Allah. Seluruh jiwa, raga dan semuanya itu Milik Allah. Berhak pula bagi-Nya untuk memberi rasa sakit pada hamba-Nya.

Itu dia poinnya, bahwa apa yang kelihatannya milik kita, tidak pernah benar-benar milik kita.

Satu lagi hikmah aku dapati, ketika seorang teman memforward sebuah quotes di grup whatsapp,

“Allah ambil semua ketika kita sakit, badan yang menjadi lemah, indra pengecap tak berfungsi, hambar, berikut dosa-dosa kita. Tapi, ketika kesehatan membaik, Allah kembalikan semua, kecuali dosa”

Aku meleleh, menyadari betapa Allah cinta pada Hamba-Nya. Semoga sakitku, menjadi jalan hijrahku. (nvi/foto ilustrasi: serambiindo)

 

Desclaimer : Cerita diambil dari kisah nyata dengan sedikit perubahan


Back to Top