Sepeninggal Ibu, Ini yang Aku Pelajari

Just For my Mom I write my story

Because only my mom can wipe my tears, Because my mom who only hears

Whenever the rain comes down and it’s seems there’s none to hold me

She’s there for me, she’s my mom. (Sheila On 7 – Just For My Mom)

 

Hpku bergetar tanda panggilan masuk.

“Halo Assalamualaikum” sapaku hangat,

“Waalaikumsalam. Halo nak, piye kabare1??” jawab seseorang di seberang sana, suara seorang wanita yang selalu aku rindukan, suara wanita yang doanya mampu mengalahkan kenyataan paling tidak mungkin didunia ini.

“Alhamdulillah bu, Biyan sehat disini. Ibu sendiri gimana ?”  jawabku lembut.

“Ibu sehat nak Alhamdulillah. Yan, kemarin ibu titip sayuran sama si Jami, waktu pulang kampung. Udah kamu terima?”

”iya bu, baru aja Biyan ketemu bang Jami. Kok banyak sekali toh bu, aku kan nggak setiap hari makan dirumah, khawatir sayurannya pada busuk bu.”

“gak papa toh nak, untuk kawan-kawanmu juga disana. Kamu jangan sering makan diluar, nggak sehat. Lagi pula semakin hari kamu tambah kurus nak”

“nggeh ibu, “ jawabku.

“ya sudah dulu ya nak, ini lagi ada tamu. belajar yang tekun, semoga dadi anak seng soleh, ojo lali solat 5 waktu nya nak2 .”

“nggeh3bu, ibu juga jaga kesehatan, kurangi aktivitas, dan jangan terlalu banyak fikiran ”

“iyo le4, yaudah kalau gitu Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Aku tertegun melihat apa yang dikirimkan ibu. Berbagai macam sayur-mayur, buah dan makanan kesukaanku, karena jumlahnya yang banyak sering aku bagikan pada tetangga kamarku. Aku terhitung jarang berada di kos, makan tak teratur, apalagi jika harus masak sendiri.

Pekerjaanku sebagai karyawan swasta terkadang membuatku lelah sesampai di kos, lebih memilih makan di luar karena terhitung praktis.

Namun tak jarang saat pulang kampung, bekal yang disiapkan ibu untukku hingga kelebihan muatan. Seringkali aku menyampaikan keberatanku membawa bekal tersebut. Kendati demikian tak pernah sekalipun ibu terlihat kecewa dan sedih. Dan tetap saja menyiapkan barang bawaan itu untukku, aku sering merasa risih aku merasa bukan anak kecil lagi yang segalanya masih disiapkan oleh ibu.

Ingatanku melayang, teringat ketika masih SMA, di hari pertama sekolahku ibu masih menyiapkan bekal makanan dalam kotak nasi, terang saja aku menolaknya. Aku  tak ingin dianggap sebagai anak yang manja dan tidak mandiri, bagaimana mungkin anak SMA masih membawa bekal ke sekolah? Begitu pikirku

“ibu ndak mau nak, kamu keracunan makanan di sekolah seperti waktu kamu masih kecil dulu nak” jawab ibunya saat itu.

Tapi tetap saja aku enggan membawa makanan yang telah disiapkan ibu.

 

***

Aku masih tak percaya, kalau aku harus kehilangan Ibu. Wanita yang telah melahirkanku, merawatku, mendidikku, melakukan segalanya bagiku. Namun aku memang harus mengikhlaskan kepergiannya.

Ya, Ibu meninggal tiga hari yang lalu karena kecelakaan angkot yang ditumpanginya sepulang dari pengajian. Bapak yang biasa menjemputnya sedang tak enak badan sehingga ibu memilih naik angkutan umum.

Karena pekerjaan yang tak bisa ditinggal lama, hari ini aku berpamitan pada bapak untuk kembali ke kota. Ada yang asing sekarang, tak ada ibu, Tak ada air mata dan doa-doa yang beliau panjatkan untukku setiap kali aku pergi meninggalkan kampung halaman.

 

***

Aku menatap kamarku yang kini menjadi asing bagiku, kosong. Tak ada lagi sayur-sayuran, dan berbagai makanan yang biasa disiapkan ibu. Tak ada lagi dering telepon dari ibu yang mengingatkanku makan dan shalat.

Aku mulai sadar dan menyesalnya aku yang dulu tidak menikmati perhatian ibu di saat beliau mampu. Betapa mungkin saja dulu ibu kecewa saat aku menolak perhatian itu, aku menyesal mengecewakannya. Kini, untuk kesekian kalinya aku kembali merindukan sosoknya. Ibu yang kasih sayang dan perhatiannya yang tak pernah surut.

Aku mulai menangis, aku hanya harus memastikan bahwa aku akan menjaganya melalui doaku yang tak akan putus untuknya, dan menjadi anak yang sholeh tentunya.

 

Keterangan :

1.Gimana kabarnya ? (jawa)

2. jadi anak yang soleh, jangan lupa sholat 5 waktu (jawa)

3.iya (jawa)

4.panggilan sayang pada anak laki-laki (jawa)

 


Back to Top