Hikmah dari Seorang Tunanetra, Pak Hadi: Saya Siap Berjalan Lebih dari 10 Km Mencari Nafkah daripada Harus Mengemis

gomuslim.co.id Berikhtiar mencari rezeki merupakan tuntutan kehidupan yang tidak mungkin setiap orang dapat menghindarnya. Bagi seorang muslim, tidak melihat hanya sekedar sebagai tuntutan kehidupan, namun juga merupakan tuntutan dalam agama. Dalam menaati perintah Allah ta’ala untuk memberikan kecukupan bagi diri sendiri, Istri, Anak atau siapa saja yang berada dibawah tanggung jawabnya.

Bekerja keras dan mencari rezeki halal adalah suatu kewajiban bagi setiap orang untuk mendapatinya. Akan tetapi, banyak dikehidupan saat ini, justru manusia malas untuk bekerja, padahal ia diberikan kesempurnaan dalam fisiknya. Cara singkat ia dapatkan, salah satunya yaitu dengan mengemis. Naudzubilla Minzalik.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidakah seorang hamba memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri.” Hadist tersebut menunjukan sifat – sifat yang dimiliki para nabi dan orang – orang sholeh dalam bekerja mencari nafkah yang halal.

Hal tersebut dilakukan oleh Hadi (41), Laki-laki kelahiran 1978 ini, memiliki semangat kuat dalam bekerja menjual kerupuk dengan berkeliling. Memang tidak ada yang aneh dalam menjual kerupuk, akan tetapi Pak Hadi ini adalah seorang penyandang disabilitas tuna netra yang harus berjalan sejauh 10 Kilometer untuk menjajaki kerupuk yang dijualnya setiap hari.

Pak Hadi warga babelan, Bekasi ini memiliki tanggung jawab kepada satu istri dengan empat anaknya. Anak pertama Pak Hadi masih bersekolah SMA, anak kedua kelas tiga di sekolah dasar, anak ketiga berusia tujuh tahun, dan anak keempat berusia lima tahun. Keluarga Pak Hadi memiliki fisik yang normal (Alhamdulillah).

Pak Hadi mengalami kebutaan pada matanya sejak dirinya berusia tujuh tahun. Katanya, saat itu ia mengalami sakit pada saraf matanya, sehingga dokter memvonis dirinya tidak lagi dapat melihat. Awal-awal kondisi itu, sebagai seorang anak, ia merasa sangat sedih, hingga keluarga mengembalikan semangat Pak Hadi dimasa kecilnya dengan tidak membeda-bedakan ke yang lain.

Singkat cerita, Pak Hadi hidup normal sama seperti orang lainnya dan hingga akhirnya Pak Hadi menemukan pelabuhan hatinya yang siap menerima ia apa adanya.

Sahabat, semangat hidup pak Hadi patut dicontoh. Di bidang pekerjaan, pantang baginya mengemis untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Sudah tujuh tahun Pak Hadi mencari nafkah dengan cara menjual kerupuk dengan berkeliling. Wilayah Bekasi Utara dan sekitarnya menjadi titik rute pak Hadi berjalan sejauh kurang lebih 10 kilometer.

Sebelumnya, Pak Hadi bekerja sebagai tukang urut atau panti pijat tuna netra, akan tetapi dengan perkembangan jaman, tenaga Pak Hadi sudah jarang digunakan. Kalah dengan mesin pijat dan panti pijat tradisional yang pekerjanya notabene adalah orang awas (melihat bukan tuna netra).

Karena itu, untuk sebagai rasa tanggung jawab dirinya menjadi seorang suami dan juga sebagai seorang ayah, ia gunakan tenaganya untuk bekerja sebagai penjual kerupuk keliling.

Pak Hadi mengaku, selama dirinya berjualan kerupuk keliling, ia mendapatkan banyak orang-orang baik. Ia selalu mendapatkan bantuan mulai dari petunjuk jalan saat ingin menyebrang, hingga membeli kerupuknya dengan angka rupiah yang melebih harga standarnya. Masha Allah ternyata di Dunia ini masih banyak orang-orang baik.

Tidak hanya itu, kerupuk yang ia jual adalah produksi orang lain, pabrik pembuatnya juga berada didekat rumahnya di daerah babelan, jadi Pak Hadi ini hanya sebagai penjual saja. Dan apabila kerupuknya dalam sehari tidak memiliki setoran atau tidak adanya pemasukan, maka sang pemilik produksi kerupuk, masih memberikan keluangan waktu untuk Pak Hadi tetap bisa kembali bekerja menjual kerupuknya. Alhamdulillah.

Sahabat, Pak Hadi bercerita kepada gomuslim, dirinya tidak pernah takut akan kerugian, maksudnya, saat adzan berkumandang dan masuk waktu shalat, tidak sama sekali Pak Hadi meninggalkannya. Ia tinggalkan dagangannya di halaman masjid.

“Shalat itu Wajib. Tidak ada alasan untuk saya meninggalkan Shalat. Kenapa saya harus takut rugi?, saya titipkan dagangan saya ke Allah langsung. Orang mau jahat atau tidak, itu urusan manusia tersebut dengan sang pencipta. Saya percaya Allah telah tetapkan Rezeki setiap Manusia. Tapi Alhamdulillah selama ini tidak ada yang seperti itu ko’. Semua baik dan bersaudara,” cerita Pak Hadi.

Pak Hadi berangkat berdagang mulai pukul 14.00 WIB, berkeliling hingga pukul 23.00 WIB setiap hari. Kini, setiap malam, Pak Hadi berada di area Perumahan Prima Harapan, Bekasi Utara untuk berjualan kerupuknya.

Sahabat, kisah Pak Hadi sangat banyak yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran. Pertama, tidak ada alasan untuk kita malas dalam bekerja. Pak Hadi yang memiliki kekurangan fisik dibagian mata saja, dapat berjalan kurang lebih 10 kilometer setiap hari untuk bekerja, Anti baginya untuk bekerja sebagai pengemis.

Kedua, Pak Hadi bekerja dengan hati yang tulus dan selalu berfikir secara positif. Yakin akan rezeki yang tidak pernah tertukar. Ketiga, Pak Hadi tidak pernah meninggalkan shalatnya, tidak pernah takut dagangannya akan di ambil orang dan Percaya bahwa Allah melindunginya. Keempat, setiap ia bertransaksi kepada pembeli, tidak sedikitpun ia lupa mengucapkan terimakasih dan rasa bersyukur dengan hamdalah, atas rezeki yang diterimanya.

Sahabat, marilah kita banyak bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Dan Teruslah menjadi manusia pekerja keras. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wallahualam Bissawab. (hmz/gomuslim)


Back to Top