Kisah Buah Delima, Pertemuan Pemuda Jujur dan Wanita Salehah

gomuslim.co.id – Kisah ini mungkin sudah sering didengar oleh pembaca yang pernah mondok di pesantren, atau yang pernah mengenyam pendidikan Islam di sekolah. Sebagai pengingat dan penguat keimanan, kisah penuh ini amat penting untuk kembali diceritakan. Berikut kisahnya:  

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang pergi menuntut ilmu. Di tengah perjalanan dia merasa haus dan lapar. Si pemuda ini lantas singgah sejenak di sungai yang airnya jernih. Saat meminum, dia melihat sebuah delima terbawa arus sungai. Si Pemuda pun mengambilnya dan segera memakannya.

Usai tergigit buah delima itu, si pemuda tersadar seraya berkata “Astaghfirullah, buah milik siapa ini?” pikirnya. Si pemuda diliputi rasa bersalah karena telah memakan buah delima yang bukan miliknya.

Dia bergumam:  “Delima ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus delima ini”.

Si pemuda pun menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi menemui sang pemilik delima dengan menyusuri bantaran sungai. Tak lama kemudian dia sudah pada kebun delima yang tumbuh dengan lebat dan diyakini disitulah pemilik delima berada.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh,”ucap pemuda.

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh,” jawab seorang lelaki tua dari dalam rumahnya.

Si pemuda itu dipersilahkan duduk dan dia pun langsung menyampaikan maksud dirinya menemui orang tua itu atas kelancangan memakan buah delima yang bukan miliknya.

“Berapa harus kutebus harga delima ini agar kau ridha delima ini aku makan pak tua,” tanya pemuda itu.

“Tidak bisa dan tidak semudah itu. Jika kau hendak mencari kehalalan delima yang sudah kau makan, ada syarat yang harus kau penuhi,” ucap tuan rumah.

“Apa syarat itu?” tanya si pemuda.

“Begini. Untuk menghalalkan delima itu, kau harus mengaji sekaligus menjadi pelayanku selama dua tahun. Sanggup?” kata pak tua.

Pemuda itu tampak berfikir. Dia kaget karena untuk segigit delima saja dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama dua tahun tanpa digaji. Tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha delimanya ia makan.

“Baiklah pak, saya mau,” jawab si pemuda.

Dua tahun berlalu dengan penuh suka duka. Pemuda itu berhasil melewatinya dengan catatan rapor yang gemilang. Tuan rumah sangat terkesan dengan segala tindakan dan terutama kecerdasan serta akhlaknya.

 

Menikah dnegan Putrinya yang Buta, Tuli, dan Lumpuh

“Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir, apakah sekarang kau ridha atas delima yang sudah aku makan?” ucap si pemuda.

Pak tua itu diam sejenak. “Belum.”

Pemuda itu terhenyak. “Kenapa pak tua, bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu,” sahut si pemuda.

”Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi,” kata pak tua.  

“Apa itu pak tua?” jawab si pemuda.

“Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?” ucap pak tua.

“Ya, aku mau.” jawab pemuda itu. 

“Tapi, putriku buta, tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?”

Pemuda itu tampak berfikir, bagaimana kalau dia harus menikah dengan gadis yang tidak dikenalnya dan gadis itu cacat, buta, tuli, dan lumpuh.

Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Tapi dia pun ingat kembali dengan segigit delima yang telah dimakannya. Dan dia pun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun delima itu untuk mencari ridha atas delima yang sudah dimakannya.

“Baiklah pak, aku mau,” jawab si pemuda.

Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab Kabul, sang pemuda itu pun masuk kamar pengantin. Usai mengucapkan salam, betapa kagetnya si pemuda mendengar salamnya dibalas dari dalam kamar. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik delima yang sudah menjadi mertuanya.

“Ayahanda, siapakah wanita yang ada di dalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?”

Pak tua itu tersenyum dan menjawab. “Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istrimu,”

Pemuda itu tampak bingung. “Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku? Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?”

Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. “Ya, memang dia buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat,”

Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih: “Subhanallah…..”. Pasangan ini pun hidup bahagia dengan cinta dari Allah SWT.

Dari pasangan suami-istri yang terjaga dari dosa dan maksiat, haram dan kemungkaran ini, lahirlah seorang anak saleh, teladan, yang bahkan dalam umur enam tahun telah hafal Alquran. Dia adalah Muhammad bin Idris Assyafi’i yang tak lain adalah Imam Syafi’i.

Itulah buah kesabaran dari ayah seorang ulama besar sepanjang masa ini. Sang ayah begitu sabar dalam menahan dan menghindari makanan yang haram, ibu yang selalu menjaga kesuciannya.

 

 

Wallahu’alam Bishawab


Sumber: Kisah Inspiratif, Perkara Hati


Back to Top