Begini Kisah Hijrah Chef Herman, Sang Juru Masak Makanan Halal

gomuslim.co.id- Dalam sebuah pepatah menyebutkan “You Are What You Eat” apa yang kamu makan itulah perilaku yang tercermin, sehingga apa yang dikonsumsi manusia dapat terlihat dari perilaku sehari-hari. Hal ini erat kaitannya dengan makanan halal yang dianjurkan oleh syariat agama Islam. Halal dan thayyib adalah satu kesatuan yang setiap Muslim wajib penuhi dan usahakan, di manapun dan kapan pun. Kendati ada pengecualian, hal ini berlaku ketika dalam keadaan darurat dan tidak ada pilihan lain, makan atau mati.

Berkaitan dengan makanan, peran juru masak atau chef juga menjadi penting, karena proses pembuatan makanan berawal dari tangan seorang chef. Sebagai seorang chef senior, R. Muhammmad Suherman atau yang akrab disapa chef Herman Kemang mengaku bahwa peran chef sangat bergantung pada rasa masakan yang dibuatnya. Tanggung jawab moril juga dirasakan olehnya ketika membuat masakan untuk konsumen.

Saat ditemui gomuslim di acara talkshow Women’s Day Out, di Warehouse Hijup, Jakarta, Jumat (19/01/2018), chef Herman menceritakan  kisah hijrahnya menjadi chef spesialis makanan halal.  

Bekerja sebagai seorang juru masak di hotel internasional, chef Herman selalu bergelut dengan beragam menu, tentunya tidak  dipungkiri apabila harus masak menu-menu yang mengandung hal-hal yang diharamkan dalam Islam, seperti kandungan khamar, B1 (dog) dan B2 (pork). Karena itu, ia memutuskan untuk hijrah menjadi chef yang khusus memasak makanan halal.

Keluar dari 2 Asosiasi Chef

Keputusan chef Herman menjadi chef khusus makanan halal berawal sejak delapan tahun silam. Saat itu ia merasa terjadi penolakan batin selama dirinya turut andil menyajikan makanan non halal kepada  masyarakat.

Pengalamannya di dunia culinary berawal sejak ia mengawali karir sebagai waiter, bartender, dan kemudian menjadi chef di hotel bertaraf nasional dan internasional.

“Selama itu saya bergelut dengan dunia kuliner yang ngak mengindahkan faktor halal. Rasanya ngak sreg masak makanan yang bercampur zat haram,” ucap chef Herman.

Ketika ia merasa ada yang tidak pas dengan agamanya, akhirnya ia mengundurkan diri dari asosiasi profesi chef nasional dan internasional yang selama ini mengangkat kariernya sebagai juru masak hotel.

Bismillah saya keluar dari asosiasi, dan banyak temen-temen saya yang bertanya dan mencurigai saya sebagai pengikut aliran tertentu. Karena rela keluar hanya karena nggak mau masak makanan non halal,” tutur Pria kelahiran Jakarta, 18 Juli 1973 ini.

Halal Harga Mati

Namun, lagi-lagi ia tetap pada prinsipnya. Teringat dengan keluarga bahwa ada beban jika masih meneruskan di profesi ini, maka ia masih memberikan nafkah dari cara yang tidak halal.

“Saya selalu ingin memberikan anak-anak saya makanan dengan nutrisi yang baik, dan dengan rezeki yang halal juga. Karena makanan mempengaruhi pertumbuhan dan sifat anak, bagi saya halal harga mati,” ujar ayah dari R. Muhammad Rafael Herdani dan R. Ayu Haya Syakira ini.

Memulai untuk hijrah di jalan Allah memang bukan perkara mudah, ia menyadari bahwa setiap ujian yang dialaminya akan indah pada waktunya. Pasca berhijrah ia dihadapkan dengan persoalan ekonomi. Selama 3 bulan ia tidak memiliki penghasilan.

“Saya pernah kerja jalan kaki karena nggak punya uang, tapi saya yakin nggak sendiri. Ada Allah bersama saya, jadi saya nggak takut,” pungkasnya.

Karena istoqomah berhijrah, ia mengaku dibukakan pintu rezeki secara perlahan oleh Allah SWT.

“Allah kembalikan rezeki saya yang kemarin, Alhamdulillah akhirnya saya punya Asosiasi Chef Halal yang bisa mewadahi para chef yang enggan masak makanan non halal seperti saya,” tutur anggota aktif Komunitas Terang Jakarta ini.

Asosiasi Chef Halal Indonesia

Seiring berkembangya pemahaman umat Islam, pilihan makanan halal menjadi gaya hidup saat ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) kian gencar melabelkan produk, restoran dan berbagai jenis kuliner bersertifikat halal agar memudahkan umat Muslim dalam memilih makan-makanan halal yang dianjurkan oleh Islam.

Karena itu Asosiasi Chef Halal Indonesia (ACHI) menjadi jawaban atas keraguan konsumen dalam memilih makanan halal yang disajikan di restoran. Pada dasarnya ACHI merupakan kumpulan para chef professional yang mempunyai dasar pemikiran yang sama, yakni berfokus pada perkembangan halal di dunia kulinari khususnya bagi umat Muslim.

Sebagai asosiasi yang mengedepankan konsep kuliner halal, memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat dalam mengkonsumsi makanan menjadi visi utama ACHI. Sedangkan misinya adalah turut mengedukasi masyarakat akan prinsip halal, dan memberikan keamanan dan kenyamanan mengkonsumsi, menyediakan produk serta jasa yang berkualitas dan halal.

“Kami para chef di ACHI terus mengedukasi masyarakat agar mengkonsumsi segala zat pada makanan yang halal, kami punya ‘Gerakan Berbagi Kuas’ yang diperuntukan pedagang-pedagang kaki lima, agar mengganti kuas mereka menjadi kuas sintesis, karena kalau kuas bulu khawatir bulu pork,” papar chef Herman.

Tak hanya itu, ACHI juga memiliki website dapurhalal.com dan membuat social movement kepada masyarakat agar berani bertanya makanan halal kepada produsen dalam program Halal On The Street. (nat/foto:infonitas)

 

 

 

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka