Mimpi Lihat Pocong dan Siksa Kubur, Begini Kisah ‘Hijrah Bang Tato’

gomuslim.co.idMimpi melihat siksa kubur malam itu terus terbayang di pikiran Lalan. Ketika itu juga, ia hanya ingin shalat. Lalan ingin hijrah jadi orang baik. Namun tak mudah baginya untuk shalat di masjid karena sekujur tubuhnya dipenuhi tato. Orang-orang sekitar curiga. Bahkan seorang ustadz berkata: “percuma juga kalau kamu shalat, tidak akan di terima sama Allah”.

Inilah sepenggal kisah dari seorang Lalan Maulana. Sosok utama dari novel ‘Hijrah Bang Tato’ karya penulis nasional, Fahd Pahdepie. Ada banyak kisah nyata tertulis dalam novel ini. Sebuah perjalanan hijrah seorang mantan preman.

Lalan Maulana alias Bang Tato adalah seorang gangster insyaf yang sebelumnya mengendalikan sebuah jaringan preman di wilayah Rumpin, Bogor. Selain memimpin sebuah geng besar yang diberi nama Bang Tato Hardcore Crew (BTHC), ia juga merupakan pentolan grup band metal bernama Kagok Edan. Tak hanya itu, Lalan juga disegani di kalangan komunitas seniman tato.

Pada masa-masa awalnya berhijrah, saat sentimen SARA mencuat dalam pertarungan politik ibu kota, ia masih berujar, “Jika tragedi '98 terulang lagi, toko-toko itu yang kali pertama akan saya bakar!” Sambil menunjuk kompleks pertokoan yang dikelola oleh para pengusaha yang berbeda etnis dengannya.

Namun, ia kini punya cara pandang berbeda terhadap mereka yang dulu begitu ia benci, “Ternyata dulu saya salah. Kita mungkin tidak bersaudara dalam iman, tetapi kita bersaudara dalam kemanusiaan,” katanya kepada gomuslim di tempat kerjanya, Father & Son Barberspace, kawasan BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (9/1/2019).

Awal Hijrah

Lalan bercerita bahwa dirinya pernah melihat banyak hal mengerikan di dunia. Mulai dari bacokan, sayatan golok, ragam perkelahian berdarah dan lainnya. Namun, satu hal mengerikan yang terus terbayang. Mimpi pocong dan siksa kubur.

“Jadi waktu malam itu saya pulang, ke kontrakan. Terus saya seperti mimpi melihat siksa kubur yang sangat mengerikan. Saya melihat wajah saya sendiri dikafani (pocong), dan saya merasa kesakitan. Lalu saya mendengar bisikan ‘Disebelah kamu orang baik. Makamnya enak banget, terang gitu, lega, kayaknya gak ada beban dalam kematiannya,” ungkapnya.

Seketika itu, Lalan terbangun dan merenung. Ia tak mau mati dalam keadaan lengah, tapi ingin mati dalam keadaan khusnul khotimah. Dengan memanfaatkan sisa umur yang ada.  Pikirannya saat ini memerintahkan hanya satu kata saja: Shalat!

Namun, sesampainya di masjid, ternyata ia tak bisa shalat! Bahkan masuk masjid pun tidak mudah karena banyak yang mencurigainya. Dari sanalah perjalanan hijrahnya dimulai. Ia mulai mencari seorang guru yang mau menerimanya sebagai murid, ia berkelana dari satu ustadz ke ustadz lain.

“Akhirnya saya bertemu dengan Kyai Fikih Noval di daerah Leuwiliang. Hal pertama ketika datang, saya langsung dipeluk, dan beliau cium tangan. Kaget liat saya datang ke situ. Beliau bilang ‘Ini yang paling ditunggu-tunggu, saya paling suka orang-orang yang kayak gini’. Tanpa basa basi saya langsung tanya ke Kyai, saya boleh solat apa engga? Disitu mulailah diskusi panjang,” tuturnya.

Pertemuan dengan kyai inilah menjadi awal Lalan mulai belajar agama. Di sana, ia berdiskusi panjang tentang banyak hal. Terkadang, diskusi berlangsung dari malam sampai pagi. “Sama para santri di sini, saya diajarin bacaan solat, cara wudhu dan lainnya. Mulai lebih baik lah dalam keagamaan,” kata Bang Tato yang kini juga menjadi seorang Youtuber.

Lewat kyai ini pula, Lalan bertemu dengan sosok wanita yang kini menjadi istrinya, Nurmah. Pertemuan dengan Nurmah, berawal ketika pengajian malam jumat di daerah Rumpin. Lalan jatuh hati melihat Nurmah yang sering menuangkang kopi saat kegiatan manakib berlangsung.  

“Curhat lah saya sama Kyai tentang Nurmah ini. Katanya perempuan ini anak dari Kyai Wawan di daerah Rumpin. Saya langsung melakukan pendekatan atas saran dari pak Kyai. Dan setelah satu bulan, baru saya berani melamar Nurmah dan menikahinya,” ujar Lalan.

Ujian Setelah Menikah

Ternyata menjadi orang baik bukanlah hal yang mudah bagi Bang Tato. Ia jatuh miskin semiskin-miskinnya. Tak ada orang atau perusahaan yang mau menerimanya bekerja. Bahkan ia harus berjuang melawan stigma masyarakat untuknya dan keluarga.

“Pernah waktu itu diterima kerja sebagai kuli panggul. Pas mau kerja, kan buka baju. Terlihatlah semua tato ini. Seketika itu juga disuruh berhenti bekerja di sana,” ungkapnya.   

Di tengah berbagai godaan untuk kembali ke dunia masa lalunya, cintanya kepada Nurmah lah yang membuatnya terus bertahan. Ia tak mau mengecewakan seorang perempuan yang telah menerimanya apa adanya dan mencintainya sepenuh hati.

 

Baca juga:

Pernah Diperlihatkan Isi Neraka, Preman Punk Ini Berhijrah

 

Bagi Bang Tato, Nurmah merupakan sosok yang luar biasa.

“Istri sayalah yang pertama kali menganggap saya sebagai manusia. Buat saya, dia segala-galanya. Kalau bukan karena dia, saya udah balik lagi jadi penjahat,” kata Ayah satu anak ini.

Sebelum menikah dengan Bang Tato, ia sebenarnya berstatus janda. Hidupnya menjalani biduk rumah tangga dengan Bang Tato pun tak bisa dibilang mudah. Apalagi ketika Bang Tato belum punya penghasilan, ia tetap bersabar menahan lapar.

Suatu hari, Bang Tato bertemu dengan Fahd Pahdepie dalam sebuah acara. Dari pertemuan pertama inilah terus berlanjut sampai pertemuan berikutnya. Dari obrolan cerita-cerita masa lalu dan hijrahnya inilah kemudian ditulis ke dalam sebuah novel ‘Hijrah Bang Tato’.

Bang Tato mendapatkan sebuah kesempatan dan tantangan baru menjadi seorang barista. Dari sanalah Bang Tato merajut mimpi-mimpinya. Ia mulai menapaki jalan hijrahnya dengan penuh optimisme, ia mulai memiliki harapan tentang masa depan yang lebih baik.

Mendirikan TPQ Gratis

Bersama istrinya, Bang Tato juga membuka sebuah tempat belajar Alquran untuk anak-anak atau Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di kampungnya. Di TPQ yang diberi nama al-Hijrah itu, Bang Tato dengan tulus menjadi pendampingnya, bekerja menyediakan berbagai fasilitas yang Nurmah butuhkan sebagai pengajar, meski Lalan juga baru belajar mengaji.

Pengajian itu dibuka gratis di kampung Medang, Rumpin, Bogor. Tak disangka, meski awalnya mendapat banyak penolakan dan tanggapan ‘nyinyir’ dari masyarakat, kini anak-anak yang ikut mengaji kepada Nurmah sudah hampir 200 orang dari tiga kampung berbeda.

“Alhamdulillah sudah banyak anak-anak yang ngaji di TPQ Al Hijrah. Semakin semangat untuk mengais rejeki halal. Saya selalu ingat pesan istri begini: ‘Pokoknya saya tidak akan ridha kalau kamu menafkahi saya dan anak-anak dengan harta yang haram’,” ungkapnya.   

Makna Hijrah

Dari kisah Bang Tato, ada banyak nilai yang bisa diambil. Salah satunya adalah tentang kesempatan kedua. Siapa pun selalu punya peluang untuk berubah lebih baik. Sekelam apa pun masa lalu seseorang, sebesar apa pun dosa manusia, pintu taubat akan selalu terbuka selama masih hidup di dunia.  

Menurut Fahd Pahdepie, dalam novelnya, hijrah itu bergerak ke masa depan. Bukan bergerak ke masa lalu. Jika seseorang hijrah hanya ingin menghapus semua luka di masa lalu, mengubah persepsi orang di masa lalu itu salah besar. Hijrah itu buat masa depan! Orang-orang yang perlu pembuktian siapa diri kamu sebenarnya itu ada di masa depan, buka di masa lalu.

Hijrah juga merupakan kerja kolektif. Rasulullah mencontohkan ketika ada orang-orang yang hijrah, harus ada orang-orang yang menjadi penolong, dalam hal ini seperti ansor. Artinya hijrah tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi bersama-sama.  (jms)

Fahd Pahdepie. 2017. Hijrah Bang Tato. Jakarta:Bentang Pustaka

 

 

Baca juga:

Cerita Hijrah Larissa Chou, Temukan Nikmat dalam Syariat Islam

 


Back to Top