Masya Allah, Begini Cerita Keluarga Suku Baduy yang Jadi Mualaf

gomuslim.co.id – Suku Baduy berada dan bermukim di Perbukitan wilayah Provinsi Banten. Suku Baduy terdiri dari suku Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy ini masih sangat kuat menggenggam tradisi turun temurun dari leluhurnya.

Suku Baduy Dalam memiliki peraturan adat yang tidak memperbolehkan penggunaan benda-benda modern atau benda yang berada di luar daerahnya. Contoh, Suku Baduy dalam tidak diperbolehkan menggunakan Mode transportasi dan alat komunikasi apapun dan sangat jauh dari gaya modernisasi. Bahkan, wisatawan yang datangpun tidak di izinkan menggunakan kamera walau hanya sekedar mengambil gambar untuk dokumentasi pribadi.

Sementara itu, Suku Baduy Luar lebih cenderung kepada toleransi terhadap pengaruh asing. Wisatawan yang menyambangi wilayah itu, di izinkan menggunakan benda-benda asing ketika bertandang kekampung Baduy Luar.

Tradisi Suku Baduy tersebut juga masuk kepada peraturan Pendidikan di wilayahnya. Di mana, warga Suku Baduy tidak di izinkan untuk bersekolah. Peraturan yang ada, anak-anak usia 0 sampai 12 tahun hanya diperbolehkan untuk bermain-main, sedangkan di atas usia 12 tahun untuk laki-laki harus ikut dengan ayahnya berkebun (diketahui, seluruh pekerjaan kepala rumah tangga baduy adalah berkebun) dan untuk perempuan, membantu ibunya pekerjaan rumah, bahkan apabila ada seorang laki-laki dalam satu suku yang ingin menikahinya, maka, menikahlah anak perempuan itu.

 

Pendidikan

Dari peraturan tersebut, apabila suku baduy menginginkan sekolah, maka anak itu harus keluar dari kampungnya. Termasuk kepada urusan Agama, apabila Suku Baduy ingin memiliki agama, maka diharuskan untuk meninggalkan sukunya. Karena diketahui, Suku Baduy memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan.

Peraturan itu membuat satu keluarga dari Bapak Sadip harus meninggalkan suku baduy demi perubahan kehidupan keluarganya yang ingin semakin maju. Kepada gomuslim, Bapak dua anak ini bercerita bahwa keluarganya memilih keluar dari suku Baduy demi mewujudkan cita-cita anaknya yang ingin sekolah hingga ke perguruan tinggi.

Berawal dari anak pertamanya yang memiliki keinginan kuat untuk sekolah, hingga Sadip menyekolahkan anaknya secara bersembunyi dalam beberapa waktu yang lama mulai jenjang SD hingga SMP. Ia katakan, keinginan anaknya untuk bersekolah dilihat dari semangat yang pantang menyerah berjalan kaki dalam jarak 5 kilo meter turun bukit berjalan kaki hingga ke sekolahnya.

Dari semangat itu, anak pertama Sadip menunjukan kembali keinginannya yang kuat untuk bersekolah. Saat ia lulus dari sekolah menengah pertamanya, ia mencoba mengadu nasibnya untuk ikut pendaftaran sekolah lanjutan (SMA) negeri. Dan, nasib baik itu memilihnya. Alhamdulillah, anak pertama Sadif terpilih bersekolah di SMA Negeri 1 Rangkas.

Diterimanya anak pertama Sadip di SMA Negeri 1 Rangkas menjadi pemecahan rekor pertama anak baduy yang bersekolah di SMA Negeri. Hal itu membuat Sadip dan istrinya bangga dan mulai berfikir akan pentingnya sekolah dan menerapkan ke anak-anaknya yang lain.

 

Keinginan Menjadi Mualaf

Kemudian, di sekolahnya, anak pertama Bapak Sadip itu belajar tentang ilmu agama Islam. Pelajaran itu membuat anak pertama Sadip tertarik dan ingin mempelajari ilmu agama Islam secara mendalam dan memutuskan memeluk agama Islam.

“Selama disekolah SMA Negeri 1 Rangkas, anak pertama saya belajar tentang agama Islam. Kemudian ketertarikannya disampaikan ke kita sekeluarga tentang Indahnya Islam. Hingga akhirnya anak itu meminta ke saya untuk di kirim ke pemuka agama setempat untuk di Muallafkan. Karena keinginannya yang sudah bulat dan tekatnya yang kuat. Saya ikhlas anak saya menjadi Mualaf,” ungkap Sadip kepada gomuslim dalam kunjungan Komunitas PAY di agenda X-Paydisi, Kampung Mualaf Baduy, Banten pada 18-20 Oktober 2019.

Dalam keluarga Sadip, anak pertamanya lah yang mengawali memeluk Islam. Sadip sendiri yang membawa anaknya ke Penggiat Dakwah setempat untuk mensyahadatkan anaknya, akan tetapi, dirinya dan istri masih berkeyakinan Sunda Wiwitan saat itu.

Menjadi mualaf membuat anak pertama Sadip harus meninggalkan kampungnya dan terpisah dari orangtuanya. Anak pertama Sadif tinggal bersama sanak keluarganya yang sudah meninggalkan kampung baduy sejak lama untuk bekerja sebagai petani di kebun orang.

Selama meninggalkan kampung Baduy dan tinggal bersama sanak saudaranya (kakak dari Sadip) di luar kampung Baduy, membuat anak Sadip dapat mengajak sanak keluarganya itu untuk memeluk Islam. Dari keberhasilannya itu dan dari Ilmu agama yang diraihnya, juga membuat anak pertama Sadip itu inginkan berdakwah kepada seluruh suku Baduy untuk menjadikan Muallaf termasuk orang tuanya.

Hingga akhirnya, Sadip dan istrinya serta anak keduanya mengikhlaskan diri untuk memeluk Islam dan keluar dari kampung Baduy, lalu hidup bersama anak pertamanya lagi yang telah lama berpisah karena menjadi Mualaf. Kini, Sadip dan keluarga tinggal di kampung Leuwi Damar, Banten.

“Anak pertama saya sampaikan tentang Islam Rahmatan lil’alamin. Tentang islam yang Indah, Islam yang baik dan cinta damai. Maka itu, saya dan istri memutuskan menjadi Muallaf,” ceritanya.

Ia mengatakan, adanya kehidupan yang berbeda saat dirinya memutuskan menjadi muallaf. Dimana menurutnya hukum yang diterapkan Suku Baduy membuat ia merasa tidak adanya kebebasan berprestasi dan berekpresi.

“Alhamdulillah, dengan menjadi Mualaf dan keluar dari Baduy, justru kita mendapatkan ketenangan. Kita bisa dekat dengan anak. Juga bisa tetap bersilaturahmi kepada keluarga yang masih di suku Baduy. Karena walaupun kita sudah keluar dari Baduy, kita masih boleh kembali dan bersilaturahmi. Tidak ada ketetapan hukum Baduy putus silaturahmi,” paparnya.

Sadip mengungkapkan, saat dirinya memeluk islam, justru lebih banyak saudara seiman yang lebih peduli kepada dirinya sebagai seorang Muallaf. Katanya, justru saudara seiman itu lebih menguatkan dan mengajarkan arti ukhuwah.

“Banyak hikmah dan mukjizat yang saya dapatkan. Awalnya ayah saya tidak setuju dengan saya yang memilih menjadi Muallaf, tapi karena doa juga. Allah meluluhkan hati orang tua saya dan menyetujui saya memeluk Islam. Justru ini menjadi tugas saya untuk mengajak orang tua saya memeluk Islam juga,” kata Sadip.

Sebagai informamsi, dalam wawancara kepada keluarga Pak Sadip, anak pertama Pak Sadip tidak hadir, sehingga Pak Sadip yang menjadi pelantara penyampaian kisah anak pertamanya dan dirinya serta keluarganya yang menjadi Muallaf. Dalam menyampaikan kisahnya Pak Sadip menggunakan Bahasa Sunda, sehingga diterjemahkan oleh Ka Eci selaku Relawan PAY untuk mengartikan apa yang disampaikan Pak Sadip. (hmz/gomuslim)

 

 

Baca juga:

Jelajah Kampung Mualaf Baduy, Komunitas PAY Bangun Perekonomian Umat Hingga Dukung Penguatan Iman Islam


Back to Top